
Hari ini adalah hari usia Ilmi genap 4 tahun.
Karena saat itu Nina belum diberi uang belanja oleh sang suami, jadi dia tidak bisa memberikan Ilmi sebuah kue ulangtahun besar seperti yang selalu di inginkan Ilmi.
Pagi Hari, setelah selesai memasak, Nina berangkat ke pasar untuk membeli sebuah kue dan kado kecil.
Dengan berbekal selembar uang berwarna biru, Nina berangkat dan berharap dengan uang itu dia bisa membeli sebuah kado serta kue ulang tahun.
Sesampainya di pasar, nina lebih dulu menawar sebuah baju.
" Ini berapa harganya?" Tanya Nina kepada penjual baju.
" 55.000."
" Ya ampun mahal sekali, bajunya memang bagus, sepertinya akan sangat cocok dipakai oleh Ilmi. Tapi uang yang aku bawa hanya 50ribu."
Nina sedikit kecewa, Jika saja Gilang memberinya uang. Dia pasti bisa memberikan Ilmi baju itu.
Lalu Nina mulai mencari lagi baju, hingga dia menemukan baju dengan harga yang pas. Tiga puluh Lima ribu.
" Alhamdulillah uangnya masih tersisa 15.000, sebaiknya aku segera mencari kue. Semoga saja kue bolu besar masih ada."
Sesampainya di tempat penjualan kue, Lina kecewa karena bolu besar yang diharapkan tidak ada.
" Kalau kue itu harus pesan dulu, karena kalau langsung stok disini tidak laku." Ujar penjual kue.
Akhirnya Nina membeli beberapa potong brownies serta 1 buah donat ukuran besar.
Sepanjang perjalanan pulang, Nina sudah tidak sabar membayangkan bagaimana gembiranya Ilmi saat Nina membangunkannya dengan sebuah lilin dan kado.
Ceklek...
Nina perlahan membuka pintu dan memastikan bahwa Ilmi masih tidur.
Lalu dengan cekatan Nina menata beberapa potong brownies itu. Dan meletakkan donat ukuran besar di atasnya. Tak lupa juga Nina meletakkan lilin angka 4 yang sudah dia beli jauh-jauh hari sebelumnya.
Nina menyalakan lilin dan mendekati Ilmi.
" Ilmi sayang.."
" Ergh.."
Ilmi terbangun..
" Selamat Ulang tahun sayang." Ucap Nina sambil menyerahkan nampan berisi kue ulang tahun ada Ilmi meniupnya.
" Bunda, Ilmi tidak mau kue ini. Ilmi mau kue yang besar."
Nina tersenyum, walau dalam hatinya terasa sakit. Ekspresi Ilmi saat menerima kue ulang tahun dari Nina berbanding terbalik dari bayangan Nina.
" Iya, nanti kalau bunda sudah punya uang bunda akan membuatkan Ilmi kue ulang tahun yang besar."
Dengan muka cemberut Ilmi meniup lilin.
" Fuh, sudah."
Setelah meniup lilin Ilmi kembali tidur.
__ADS_1
" Lo, kok tidur lagi?, Ilmi tidak mau membuka kadonya?"
" Mana?" Ketus Ilmi, mungkin dia kecewa karena kue ulang tahun yang diharapkan tidak bisa Nina berikan.
Dengan tersenyum, Nina memberikan sebuah kantung plastik berwarna hitam.
" Tidak dibungkus kertas kado." Ketus Ilmi.
" Maaf ya sayang."
Setelah membuka dan melihat isinya. Ilmi kembali tidur.
" Besok buatin Ilmi kue besar dan kado yang beneran."
" Iya."
" Hem. mangkan nya kalau tidak punya uang itu tidak usah sok membeli kan kado ataupun acara tiup lilin. Kayak anak orang kaya saja." Ucap Gilang yang terbangun.
Nina lalu membawa kembali nampan berisi kue ulang tahun.
Nina melihat ke arah Gilang dan Ilmi, Nina mematikan lampu dapur.
" Maafkan bunda nak, karena bunda belum bisa memberikan apa yang Ilmi inginkan. Semoga suatu saat bunda bisa membahagiakan Ilmi dengan cara bunda sendiri." Lirih Nina dengan airmata yang sudah membasahi pipi.
Nina mengusap air mata nya, lalu berjalan dan tidur disamping Ilmi. Dipandang nya wajah gadis pertama nya itu yang kini telah berusia 4 tahun. Itu artinya usia pernikahan Nina dan Gilang sudah berjalan 5 tahun.
Tuhan, tidak bisakah kau memberiku secercah kebahagiaan. Aku ingin bahagia walau hanya sebentar. Ijinkah aku untuk bisa membuat putriku bahagia. Ijinkan aku kembali merasakan bahagianya dicintai dan disayangi oleh seseorang yang kita cinta. Kenapa luka ini terus saja basah, padahal luka itu barusaja kering.
Keesokan harinya,
" Mana suami mu?" Tanya Eka yang kebetulan lewat jalan depan kos, jadi dia memutuskan untuk mampir sebentar.
" Aku tidak tahu."
" Nah, kok bisa tidak tahu. Wong kamu istri nya."
" Ya, bagaimana aku bisa mengetahui Gilang pergi ke mana. Jika dia sendiri tidak pernah memberitahu jika akan keluar rumah."
" Masak sih?"
" Ya, dari dulu dia memang seperti itu. Dan Aku juga malas bertanya karena ujung-ujungnya pasti bertengkar."
" Sabar ya, semoga setelah ini gila mendapat hidayah sehingga hatinya bisa terbuka.
" Amin."
Tidak terasa sudah satu jam eka berada dirumah Nina.
" Eh aku pulang ya.."
" Iya, terima kasih sudah mau mampir dan datang lagi lain hari."
" Pasti."
" Bye, assalamualaikum."
" Walaikumsalam."
__ADS_1
Drrrttt drrrttt drrrttt
Sepeninggal Eka, ponsel Nina berdering.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Nina mendapat kabar baik. Sang ayah memberinya sejumlah uang agar Ilmi dapat membeli apapun yang dia inginkan.
Nina gembira luar biasa.
" Mungkin inilah cara Tuhan membuat putriku bahagia. Walau bukan dari jerih payahku sendiri, tapi setidaknya aku bisa melihat nya tersenyum bahagia." Lirih Ilmi.
Nina lalu membawa Ilmi ke toko serba ada. Dan Ilmi bisa membeli apapun yang dia inginkan.
" Ilmi ingat ya, jangan bilang ayah bahwa ilmi diberi uang oleh kakek."
" Kenapa?" Tanya Ilmi.
" Sudah, pokoknya Ilmi tidak boleh memberi tahu Ayah. Jika Ilmi memberi tahu ayah, maka ayah akan mengambil semua milik Ilmi."
" Hmm, baiklah."
Nina tersenyum lalu mengajak Ilmi untuk pulang.
Maafkan bunda nak, bukan bermaksud untuk mengajarimu berbohong. Tapi, jika ayah tahu bahwa bunda memiliki uang. Maka ayahmu tidak akan memberi bunsa yang untuk belanja. Biarlah uang pemberian dari kakek Ilmi, aku gunakan untuk uang jajan ilmi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
Dan...
...Selamat Hari Raya Nyepi....
...Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu memberkati setiap langkah....
...dan aktivitas kita dalam melaksanakan...
...Catur Brata Penyepian...
...demi terciptanya perbaikan diri...
...yang lebh baik....
❤️❤️🙏🙏☺️☺️
__ADS_1