Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Hati Nina terasa begitu hangat saat dia mengenang kembali kisah dirinya dan Rimba.


Terkadang dia juga menyesal kenapa setiap Rimba menyatakan cinta kepadanya, dia selalu memilih untuk bertahan dengan kekasihnya. Dan hal yang sama juga terjadi saat ini menyatakan perasaannya pada Rimba, saat itu Rimba juga sudah memiliki kekasih. Jadi Nina tidak ingin meninggalkan kekasihnya demi dirinya. Sejak saat itu Nina dari menyadari mungkin takdir mereka memang tidak diperuntukkan bersama.


" Rimb, Jangan sedih karena ternyata kita tidak bisa bersatu. Mungkin Tuhan memang menginginkan kita seperti ini, tetap saling men-support satu sama lain." Ucap Nina, saat Rimba tiba-tiba menghubungi dan membahas tentang mereka.


" Kamu sih, gak kau nunggu aku dapat pekerjaan yang tetap. Seandainya saja dulu kamu mau menungguku sampai aku benar-benar mendapatkan pekerjaan yang pas, mungkin wanita yang akan aku lamar adalah dirimu."


" Ck, lalu Intan kamu mau kemana kan?"


" Ya, aku jadikan istri kedua lah."


" Jangan macam-macam kamu, ingat jika sampai aku mendengar kamu meninggalkan Intan maka orang pertama yang akan marah padamu adalah aku."


" Iya iya, serius amat."


" Rimba denger, cukup aku saja yang menyesal dalam sebuah pernikahan. Jangan kau juga mengalami hal yang sama sepertiku. Aku sangat berharap kamu dapat menghargai Intan Jika dia sudah menjadi istrimu nanti. Sayangi dan bahagia kan dia selalu."


" Tentu, lagi pula aku sudah mulai mencintainya sekarang. Walaupun tidak sebesar cinta kepadamu."


...


Rimba selalu saja bisa membuat hati Nina tenan. Dan Nina selalu berdoa untuk kebahagiaan Rimba. Dan tanpa Nina tahu tempe juga mendoakan kebahagiaan untuk Nina.


Rimba, bagaimana bisa aku membiarkan kamu memilih ku dan meninggalkan Intan. Sedangkan Intan sendiri pernah bercerita kepadaku bahwa kau sangat terluka akan diriku. Dan Intan terluka karena terpuruknya dirimu. Disana Aku yakin bahwa Intan memang yang pantas mendampingi mu bukan diriku. Batin Nina.

__ADS_1


Nina tersenyum dan merasa dia telah menemukan kebahagiaan kecil dalam hatinya. Walaupun hanya dengan mengenang kisah nya dengan Rimba.


Sekarang, mereka sudah jarang sekali berkomunikasi, tidak bukan lagi jarang tapi hampir tidak pernah lagi berkomunikasi. Mungkin karena Rimba yang kini telah memiliki 2 orang anak, dan juga kesibukan Nina mengurus kedua putrinya. Serta penyakit pikiran yang selalu menghantui Nina, membuat Mina tidak lagi berani untuk menghubungi Rimba lebih dulu. Karena dia takut akan mengganggu hidup Rimba yang sudah tenang. Walaupun Nina sempat sakit hati kepada Rimba karena saat pernikahannya, Rimba tidak memberitahu Nina atau pun mengundangnya.


" Suruh siapa rumah dan nomor teleponmu ganti." Bela Rimba saat mereka dapat kembali berkomunikasi setelah sekian lama hilang kontak.


" Ya, kan kamu bisa mencariku melalui media sosial. Toh akun media sosial kok masih tetap yang lama tidak pernah ganti dan berubah." Ucap Nina


" Iya iya, jangan marah nanti aku akan menciummu."


" Emang bisa?"


" Bisalah."


" Caranya?"


Nina hanya bisa tersenyum. Sungguh bisa berkomunikasi dengar Rimba adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Nina. Dan sekarang mereka tidak lagi dapat bercanda tawa seperti sebelumnya, Nina juga tidak dapat lagi berbagi keluh kesahnya kepada Rimba. Karena Nina takut masalahnya akan membebani Rimba. Karena bagaimanapun juga Rimba sekarang sudah berkeluarga dan pasti sudah sibuk dengan keluarganya. Biarlah Nina belajar untuk menyimpan masalahnya sendiri.


" Nda, kemari lah." Ucap Gilang, di suatu hari saat Nina sedang duduk bersantai menemani Ilmi yang sedang belajar.


" Iya, ada apa?" Ucap Nina sambil berjalan masuk kedalam rumah.


Nina melihat Gilang memegang 4 lembar uang berwarna merah. Dua di tangan kanan dan dua di tangan kiri.


" Ini berikan kepada ibumu, sedangkan ini akan aku kirimkan kepada ibuku."

__ADS_1


" Terima kasih." Ucap Nina.


Lalu tanpa berkata apa-apa lagi Gilang mengambil jaketnya dan mulai berangkat bekerja.


Mata Dina berkaca-kaca sambil memandangi 2 lembar uang itu, pasalnya selama menikah inilah kali pertama nya Gilang memberikan uang kepada Nina untuk diberikan kepada Ibu Nina.


Selama ini Gilang memang tidak pernah terbuka soal keuangan kepada Nina. Bahkan setiap kali Gilang mengirim uang kepada sang ibu, Gilang tidak pernah memberitahu Nina. Nina juga pernah menemukan bukti transfer dua kali dengan nominal besar yang Gilang kirimkan kepada sang ibu saat Dina berada di kampung halamannya.


Saat Nina menemukan bukti transfer itu, sungguh rasanya Nina ingin marah berteriak dan menangis.


" Kenapa kamu tidak pernah terbuka soal uang kepada aku Gilang. Sejak dulu aku merasa kau selalu mementingkan ibumu daripada aku. Aku masih ingat betul saat kau meminjam uang untuk kau kirimkan kepada ibumu. Sedangkan saat itu aku aku meminta uang untuk membeli beras namun bukannya kau beri uang kau malah memberiku sebuah cacian. Hatiku sungguh terluka Gilang, sebenarnya kau anggap aku ini apa?" Ucap Nina seorang diri.


Andai Nina punya keberanian untuk menentang Gilang. Dia sudah pasti akan sangat marah besar kepada Gilang. Karena dia tidak pernah mau terbuka tentang apapun kepada Nina.


" Tuhan, apa yang membuatku begitu lemah dihadapan Gilang. Kenapa Aku tidak berani untuk melawannya. Apakah karena aku takut jika Gilang menuntut cerai jadi tidak akan ada lagi yang mau memberiku uang untuk biaya hidup aku dan anak-anakku. Atau mungkin memang aku adalah wanita yang bodoh, karena tidak mau melawan ketidakadilan yang terjadi pada rumah tangga aku."


Nina menangis meratapi kebodohan dan derita yang dialami.


" Inikah deritaku atau memang ini justru takdirku?. apakah benar yang dikatakan oleh saudara ibuku, bahwa yang terjadi padaku adalah karena karma dari perbuatan ayahku di masa lalu?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2