
" Sepeda siapa itu?." Tanya galang saay nina pulang dengan ilmi yang menaiki sepeda.
" Sepeda ilmi, dibelikan neneknya." Ucapku kemudian berlalu meninggalkan galang yang bersama teman nya.
" Ilmi sakit?." Tanya galang.
" Seperti nya begitu."
Drtt drttt drrtt...
" halo." Ucap galang.
" Halo, ini lo ibu menanyakan ilmi terus, rindu katanya." Suara adik galang melalui panggilan video.
Galang mengobrol dengan ibu nya, sambil menunjukan gambar ilmi. Nina memilih pura pura sibuk dengan tugas IRT.
Beberapa hari kemudian...
" Nda, coba lah lakukan sesuatu, apa saja, yang menghasilkan uang. Daripada kerja mu hanya tidur saja."
" Aku sedang berusaha."
" Katanya jualan online, mana hasilnya, aku tidak pernah tau bentuk uang dari hasil jualanmu."
" Sudah habis untuk belanja, bahan makanan sekarang itu mahal."
" Mangkannya jangan boros boros."
" Aku sedang tidak enak badan. Tolong kerokan." Pinta nina.
" Manja, gak kerja kok sakit."
" Aku melakukan pekerjaan rumah, dari pagi hingga malam. Aku juga bisa lelah."
" Itu kan sudah tugas jadi istri. Kalau tidak mau lelah, kenapa dulu menikah." Galang dengan nada tinggi.
" Kau kan yang mengajak ku menikah."
" Kenapa kau mau?, sudahlah. Aku ada urusan" Ketus galang, kemudian pergi meninggalkan melodi.
...----------------...
...----------------...
" Kenapa ilmi menangis?" Tanya galang saat nina membawa ilmi pulang dalam keadaan menangis.
" Biasa, gara gara hp." Ucap nina yang masuk ke dalam rumah, dan berusaha menenangkan ilmi yang masih menangis.
" Sini sini biar ku gendong." Mengambil ilmi dari gendongan nina.
" Kenapa sayang kenapa?"
" Hwaaa hwaa hwaa.." Ilmi semakin menangis.
" Kenapa sih, dari tadi menangis terus, kau apakan dia?." Ketus galang.
" heh kalau ditanya jawap." Ucap nya lagi.
" Sudah ku bilang dia nangis karena minta hp eka, tablet nya lelet jadi marah dan...."
Brug...
Belum selesai bicara, nina sudah merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Kaki. Ya tadi itu kaki galang, dia menendang kepala nina karena nina bicara dengan nada tinggi.
" Diam saja kau, ibu tak becus." Galang keluar kamar dengan membanting pintu.
Nina memeluk ilmi, di timang timang nya gadis manis itu, sambil di beri asi, Hingga tertidur.
"Hiks hiks hiks.. apa salahku?.. hiks hiks hiks... beginikah yang aku terima?, kemana kasih sayang suami ku yanh dulu. Kenaapa ini terjadi padaku..
__ADS_1
ma.. aku ingin pulang, ayah... kau dimana?, kenapa tidak ada salah satu dari kalian yang akan pulang..." Nina menangis sambil memeluk ilmi.
" Halo paman." Nina menelpon paman, berniat meminjam uang untuk biaya pulang ke jawa.
" Iya nduk, ada apa? kamu menangis?"
Nina pun menceritakan kronologi nya kepada paman.
" Sabar, jangan terburu buru mengambil tindakan. Bicarakan baik baik dengan suami mu. Kalau kau memang tetap ingin pulang, hubungi paman lagi."
Setelah telepon di matikan, nina memilih untuk tidur. Hingga nina merasakan ada seseorang yang memeluk nya dari belakang. Galang. Ya orang itu adalah galang. Memeluk nina, dan mencium kepala nina. Hanya itu, tidak ada kata maaf seperti yang di harapkan nina.
" Aku mancing." Ucap galang sambil mencium kening nina.
Setelah menendangku, baru bersikap manis. Batin nana.
" Nin.. nina.." Suara hepi.
" Masuk lah mbak.."
" Ini aku buat bolu... lo kamu kenapa?"
Hepi melihat mata nina yang bengkak. Nina kemudian menceritakan nya, dan kembali menangis.
" Sabar, aku juga sering bertengkar, ya walaupun tidak sampai main tangan, apalagi kaki."
" Hiks hiks hiks.. iya mbak. Terima kasih."
....
Dalam tiga hari, sikap galang menjadi manis. Dia bahkan melakukan hubungan suami istri. Namun luka tetaplah luka, apalagi sifat nina yang tidak bisa melupakan rasa kecewa nya.
Beberapa bulan kemudian. seperti biasa, di minggu ke dua bulan puasa, nina selalu pulang dulu agar bisa menginap di rumah nya.
" Lo satu travel dengan adik ilmi." Ucap kakak ipar.
" Langsung pulang ke rumah ibu?"
" Tidak mbak, ke rumahku dulu. bukan kah jika dari bali akan melewati rumah ku dulu."
" oh gitu, jadi kapan pulang ke sana, biasa nya sih, sehari sebelum ayah ilmi pulang. Jadi aku ada kendaraan jika akan membeli kebutuhan ilmi."
" Oh."
Percakapan berakhir.
Beberapa hari kemudian..
(Dasar kau memang istri tidak berguna). Pesan dari galang.
(apa maksud mu). Balas nina
(kau bilang pada kakak ipar jika tidak mau pulang kerumahku, kau juga bilang jika aku tidak mau pulang ke rumahmu).
(Memang benar kan, kau seakan jijik jika menginap di rumahku.).
( kau itu sudah durhaka. Kau itu berdosa. Sudah tau jika pulang ke rumah sendiri tanpa suami itu pamalik, kau tetap saja membantah. Ibu ku itu sendirian tinggal disana).
(lalu apa beda nya dengan adikku yang juga tinggal sendiri, sebelum ada aku juga ibu mu tinggal sendiri).
(Dasar kau memang tidak berguna. Jika bukan karena ilmi, aku sudah menceraikanmu.).
Lagi lagi kata cerai yang menjadi senjata andalan agar nina patuh dan menuruti perkataan galang.
Apa mungkin galang tau, jika nina tidak punya siapa siapa yang akan membela nya?, tidak ada orang tua yang mendampingi nina, sehingga galang bisa berbuat semau nya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
" le, tinggal di sini aja ilmi. Istri mu biar bekerja, cari uang. Biar tidak menghabiskan uangmu terus." Ucap ibu.
" Ilmi tidak bisa jauh dari ibu nya."
" Lo ya nanti aku carikan dukun, biar ilmi di buat lupa dengan ibunya."
Hati nina yang sudah sembuh dan mulai mencoba memenangkan lagi hati suami nya, kembali terluka saat nina yang tak sengaja mendengar percakapan itu.
" Le, kamu sudah membelikan baju untuk keponakanmu."
" Belum"
" Belikan baju le, kasihan."
" Iya nanti aku belikan."
...
" Nda, Ayo kita ke plaza." Ajak galang.
" Untuk apa?" Tanya nina.
" Membeli baju untuk Adit, keponakanku."
" Membeli baju untuk adit saja, ilmi?"
" Ilmi sudah banyak baju."
" Ilmi punya baju karena ayah dan ibu ku memberi uang, agar ilmi punya baju baru di hari raya."
" Ah itu sama saja. Aku ini lo sudah lama tidak membelikan adit baju." Ketus galang kemudian pergi entah kemana.
Saat nina akan mencuci tangan ilmi yang kotor, samar samar dia mendengar suara ibu dan suami nya.
" lo, katanya mau beli baju untuk adit."
" Tidak jadi. Nina ingin aku juga membelikan ilmi baju."
" Kok gitu sih, istri mu."
" Biar lah buk, dia memang begitu suka iri."
...
Tuhan... bisa kah aku memutar waktu kembali ke masa saat kedekatanku dengan galang.
Tuhan.. bisa kah aku merubah jalan takdirku?,
Bolehkah aku mengeluh tentang betapa kejam nya dunia, yang seakan tidak berpihak padaku.
Ini memang salahku, atau memang takdir ku yang seperti ini...
Salahkah aku yang ingin merasakan bahagia bersama orang yang ku pilih menjadi pendamping hidupku???...
.
.
...----------------...
...----------------...
... Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1