
" Nda ayo kita pulang ke jawa, aku sudah lelah ada di bali. Hidup kita gini gini aja. Kerjaan sepi, kamu tidak mau ikut membantu mencari uang."
" Bukankah aku sudah bekerja membuat gelang?, walau bayaran nya tidak seberapa, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan ilmi."
" Aku sudah muak kerja disini, sepi."
" Kenapa tidak coba kerja seperti kawan kawan mu yang lain?"
" heh, malas aku!, sudah kerjaannya banyak, ongkos nya murah."
" Nanti aku bantu kerjaanmu."
" Kau tidak becus kok mau membantu ku."
Nina memilih diam, di teruskan berdebat juga percuma. Gilang akan selalu merasa menang, dan ingin selalu menang.
" Seandainya punya bos yang ramah, enak. Yang bisa di kerjakan di jawa, seperti irawan." Ucap galang lagi.
" Ya kamu cari to. Bukannya teman teman mu sudah banyak memberikan rekomendasi."
" Kau kira gampang masuk kerja seperti mereka."
" Kalau tidak di coba mana tau."
" Aku sudah mantap akan pulang ke jawa dan tidak pernah ke sini lagi. Sepeda itu di jual, lalu buka usaha di jawa. Bagaimana?"
" Kalau bisa jangan jual sepeda, itu bisa di jadikan tabungan, jika sewaktu waktu ada hal darurat."
..
Beberapa bulan setelah percakapan itu, ada kejadian besar yang membuat galang memutuskan untuk tinggal di jawa.
.
(Maaf ini tidak bisa di ceritakan, karena terlalu menyakitkan.)
.
Nina memilih membuka usaha jajanan anak anak dengan sisa uang dari penjualan sepeda.
" nda pinjam uang, nanti kerjaan ku selesai aku ganti."
" Tidak, kau hanya akan mengikuti lomba tidak penting."
Galang pergi menemui ibu nya, rupa nya dia meminjam uang dari ibu nya.
" Ini uang bayaran dari pekerjaanku." Gilang menyerahkan tiga lembar uang merah.
" Iya."
" Beli lah beras 10kg. Terus kasih ke ibu 100 ribu. Kau itu sudah tinggal sini tidak mau membeli untuk makan."
" Itu karena aku sudah berunding dengan ibu, jika ibu yang membeli sayur. hanya sayur dan lauk. Untuk makan. Sedang kebutuhan lain seperti minyak, gas, sabun dll, aku yang beli."
" Sama saja, kau menumpang makan dengan ibu. Kau bahkan tidak mau membayar sampah. Padahal sampah terbanyak dari sampah jualan mu."
" Aku hanya tidak membayar 1x, itu juga karena aku tidak tau kalau ada tarikan iuran sampah."
" Iuran TV juga, harusnya kau yang bayar. Yang banyak liat TV itu anakmu. Apalagi listrik, blender mu yang selalu menyala itu banyak menghabiskan listrik.
" Ya sudah kalau begitu. Bilang juga ke adikmu, jika menonton tv di matikan. Jangan menyala sampai pagi, sedang orangnya tidur."
__ADS_1
" Sudah aku bilang." Ketus galang.
" Kalau semua aku yang nanggung, aku uang dari mana?"
" Ya uang dari untung jualan mu lah, masak kau menyisihkan 5000 setiap hari. satu bulan kan sudah ada 150 ribu. Cukup untuk membayar iuran sampah dan TV."
" Ya aku memang bisa menabung, tapi jika bahan baku jualan ku basi, dan aku rugi. Apa kau mau mengganti kerugian ku?"
" Dasar memang kau perhitungan."
..
Apa yang harus aku lakukan?, jika aku yang menentukan menu makanan, pastilah ibu mertua akan berkomentar. Setelah ku putuskan untuk berbagi urusan dapur, suami ku yang tak terima. Ibu juga kenapa selalu menolak saat aku memberi uang dari hasil jualan ku sendiri?, membuat suami tambah membenciku, seolah olah aku ini hanya ingin enak nya saja. Bolehkah aku menyerah sekarang ???. Batin nina menangis.
...----------------...
...----------------...
" Mbak lagi apa?" Tanya nina, saat berkunjung ke rumah mbak tiya.
" Ini lagi bikin sikat dari sabut kelapa."
" Bagaimana cara nya?, sulit tidak?"
" Tidak, begini." Mbak tiya menunjukan cara membuat sikat.
" Boleh ku coba."
" Tentu, cobalah."
Setelah beberapa kali mencoba.
" Mbak, aku mau ambil kerjaan ini. Apa masih ada ya?" Tanya nina.
"Berapa perbiji nya mbak?,"
" 1000 rupiah."
" Lumayan lah untuk tambah tambah uang jajan ilmi."
" Iya, sambil nunggu pembeli, sambil bikin ini."
" Iya mbak, warung juga mulau sepi. Banyak makanan yang basi dan mau tidak mau harus di buang."
" Terus kenapa tidak jual rokok lagi."
" Nah modal nya habis, diambil sedikit sedikit untuk makan, hehe."
" Memang galang gk kerja."
" Kerja, hanya saja.. ya gitu, dia masih suka sama hobi nya."
" Sudah di nasehati?"
" Sudah tapi.., entahlah mbak. Aku udah capek."
" Sabar ."
Beberapa minggu kemudian...,
Nina mulai sibuk membuat sikat dari sabut kepala, mungkin memang sudah rejeki dari Tuhan, saat jualan nya sepi. Masih ada rejeki lain, agar nina bisa memenuhi kebutuhan ilmi.
__ADS_1
Soal lelah?, jangan di tanya. Bahkan nina rela tidur hingga larut malam, agar pekerjaaan nya bisa cepat selesai, jadi di bisa segera mendapat uang.
" Gak ada kerjaan lagi." Tanya galang, saat melihat nina menonton TV.
" Kawatnya tidak ada, pembuat sikat banyak, tapi pembuat kawat tidak ada. Aku ingin mengambilnya juga, tapi aku tidak bisa saat mengunci kawat nya." terang nina.
" Gampang mengunci nya. Berapa bayarannya kalau ambil kerja buat kawat?"
" 75000/1000 biji."
" Huu, murah sekali."
" Aku akan mengambil nya, aku yang merangkai semua, dari memotong, melipat. Tapi kamu yang mengunci, bagaimana?"
" Terserah."
....
" Nda ayo kit bikin anak?."
" Ha?, kenapa tiba tiba?"
" Ya siapa tau nasib kita bisa berubah, katanya anak membuka pintu rejeki. Kehidupan kita di jawa bukannya membaik, jadi tambah seperti ini, padahal kau sudah bekerja. Tapi tetap saja, kita kekurangan."
" Aku belum siap, jika harus menambah anak sekarang. Coba kamu kalau kerja yang bener."
" Aku lelah nda, ongkos nya tidak sesuai dengan pekerjaan nya yang berat. Coba saja mas adi memberiku kerjaan 1 paket seperti yang lain, pasti kebutuhan kita tercukupi."
" Jualanku juga mulai sepi.."
" Masak iya, aku harus ke bali lagi."
" Itu terserah pada mu."
" Biasanya kalau di bali, ada order cincin, ongkosnya 200-300 ribu. Di sini, keahlianku hanya di bayar dibawah 100ribu."
" Ya sudah, sekarang tidur saja, pikirkan kembali nanti soal merantau.ke bali lagi."
...----------------...
...----------------...
Beberapa minggu ini, nina sibuk dengan pekerjaan nya membuat kawat dan sikat.
Jualan nina yang semakin hari semakin sepi, membuat nina stres, uang tabungan diambil sedikit demi sedikit untuk modal jualan.
" Seandainya dulu tidak gegabah mengambil keputusan, mungkin sepeda kita masih ada sampai sekarang ya nda." Ucap galang, saat membantu nina membuat kawat.
"Ya mau bagaimana lagi, penyesalan selalu datang di akhir. Aku kan sudah bolak balik memberi masukan, tapi tidak pernah di dengar. Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Dan bubur nya juga sudah basi. Menyesal pun tidak berarti, karena semua nya tak kan kembali lagi."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...