
Semalaman Nina berpikir tentang keputusan apa yang harus dia ambil.
Di satu sisi, dia juga sangat ingin memiliki seorang bayi, dan memberikan adik bagi Ilmi. Nina ingat betul saat dulu Ilmi meminta seorang adik kepada nya. Agar dia punya teman bermain.
Tapi, disisi lain, dia masih belum siap memiliki anak. Mengingat kondisi perekonomian yang masih jauh dari kata stabil.
" Apa yang harus aku lakukan.." Lirih Nina sambil memandangi Ilmi yang sedang tidur.
Pagi harinya, setelah Nina selesai melakukan aktivitas ibu rumah tangga. Nina mengambil ponsel dan menemukan pesan dari Farah.
(Bagaimana kak, sudah diputuskan?). Isi pesan Farah.
(Kakak tidak tahu, menurut mu apa yang harus kakak lakukan?)
(Kalau adik sih, terserah kakak, adek juga sudah menghubungi kawan adik. Dan dia bilang siap mengirimkan obat nya kepada kakak)
( Kakak bingung. Satu sisi kakak juga ingin seorang anak untuk teman ilmi, disisi lain akak belum siap).
( pikirkan lagi. nanti kabari aku).
(baiklah).
Tak beberapa lama setelahnya. Novi menelpon, Nina pun mengatakan hal yang sama tentang kehamilan dan juga dilema nya itu.
" Jangan deh, lebih baik kamu pertahanan saja, siapa tahu dengan bayi itu nanti, sikap Gilang bisa berubah."
...
Hari ke hari, Nina akhirnya dengan mata memutuskan bahwa dia akan tetap mempertahankan bayi ini. Eka benar, bayi ini tidak bersalah. Dia adalah anugerah dari Tuhan, bagaimana bisa Nina akan membuang anugerah yang sudah Tuhan berikan.
Namun Nina masih belum mengatakan jika dirinya hamil kepada Gilang. Hingga suatu hari,
__ADS_1
" Nda, kok belum datang bulan?, apa jangan-jangan kamu hamil?"
" Jika benar hamil bagaimana?, aku sudah minum banyak jenis jamu. Tapi belum juga datang bulan."
Gilang terdiam, sebelum akhirnya gila mengatakan,
" Ya sudah jangan minum jamu lagi, takut kamu benar hamil. Kita sudah banyak dosa, jika berusaha mengugurkan kandungan. Itu akan menambah dosa."
Nina terdiam, dia bisa melihat kekecewaan pada wajah Gilang.
" Kamu sih, gak mau KB. Gini kan jadinya."
" Kok jadi nyalahin aku sih?, bukankah kita sudah sepakat."
" Ya masak tidak ada KB lain yang bisa tetap membuat mu rutin datang bulan."
" Kalau ada, aku pasti sudah memakai nya."
" Aku pusing jika ternyata kamu memang hamil. Kamu pikir cari uang itu gampang."
" Ya Iya tidak apa-apa namanya juga rezeki dari Tuhan yang kita harus menerima, tapi aku juga pusing, karena aku yang cari uang."
Karena tidak ingin meneruskan perdebatannya yang akan membuat Nina semakin terluka. Nina memilih untuk diam dan tidur di samping Ilmi.
Beberapa hari setelahnya Eka berniat untuk mengantarkan Nina periksa ke salah satu klinik yang ada di Ubud.
" Aku mau pergi dengan Eka." Ucap Nina pada Gilang.
" Kemana?"
" Klinik bumi sehat di nyuh kuning, ubud."
__ADS_1
" Kapan mau kesana?"
" Masih nunggu Eka, mungkin lusa."
" Buka nya kapan?"
" Senin sampai Jumat, kalau poli hamil dari jam 4 sampai jam 6."
" Sekarang hari apa?" Tanya Gilang.
" Hari Selasa.,"
" Ya sudah ayo, nanti aku antar kamu ke sana."
" Hmm, baiklah."
Sore hari nya, Gilang mengantar Nina ke Klinik yang di maksud Nina tadi.
" Bayar berapa?" Tanya Gilang sesaat setelah Nina selesai diperiksa.
" Bayar seikhlasnya. Tidak ditarik karena di sana sudah ada kotak jadi kita memasukkan uangnya ke dalam kotak."
" Kamu memasukkan berapa?" Tanya Gilang.
" 20 ribu, hehe. Uangnya berwarna biru dan merah semua hanya uangku saja yang berwarna hijau." Kekeh Nina.
Gilang ikut tertawa, lalu mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena Gilang harus melanjutkan pekerjaannya."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
Cuma sedikit karena tidak tahu apalagi yang harus dikatakan, banyak momen yang mungkin terlupakan atau juga tidak cocok untuk dituang dalam tulisan.