Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Masa Kecil Nina (MKKB)


__ADS_3

Malam hari, saat kedua Putri Nina sudah tertidur dan Gilang yang masih belum pulang dari bekerja, Nina duduk terdiam sambil merenungi nasib hidupnya sendiri.


Sejak kecil, sejak ditinggal orang kedua orang tuanya. Nina mulai merasa bahwa tidak ada lagi memperhatikan dan memperdulikan dirinya.


Nina ingat betul bahkan saat ibunya pergi tidak ada pelukan ataupun ciuman selamat tinggal.


" Mama mau kemana?" Tanya Nina saat melihat ibunya mengemas pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas ransel besar.


" Mama mau kerja kamu diam di sini saja dengan adikmu ya."


Saat itu usia Nina sekitar 10 tahun, dan adik Nina berusia sekitar beberapa bulan.


" Tapi, kalau mama kerja aku sama siapa?" Tanya Nina.


" Stt, sudah diam kamu di sini bersama dengan kakek dan nenek. Jaga adikmu dengan baik ya."


" Baiklah." Ucap Nina sambil menunduk.


Ibu kemudian segera pergi ke luar karena dia sudah ditunggu temannya. Nina hanya bisa menatap kepergian ibunya dari balik jendela. Lalu setelah sang Ibu benar-benar hilang dari jangkauan mata Nina, Nina segera masuk kembali ke dalam kamar.


" Mau kemana nak?" Tanya Nenek yang sedang menggendong adik Nina.


" Mau menutup jendela kamar aku lupa menutupnya." Ucap Nina berbohong.


" Ya sudah, kalau begitu cepat tutup lalu kita akan makan setelah itu ikut nenek untuk berpamitan kepada majikan nenek."


Nina hanya membalas ucapan nenek dengan anggukan. Lalu Nina segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu serta menguncinya.


Nina mulai menutup jendela kamar, tampan binasa dari butiran air mata menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


" Mama..., hiks hiks.."


Tangis Nina semakin menjadi tak salah Dia turun setelah menutup jendela dan mendapati pakaian ibunya berada di atas kasur.


" Hiks hiks..."


Nina segera memeluk pakaian ibunya dan menangis. Nina tidak mengerti kenapa sang Ibu juga pergi setelah ayahnya pergi bersama dengan wanita yang katanya adalah ibu kedua dari Nina.


" Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi." Lirih Nina.


Tok


Tok


Tok


Ceklek.


Nenek yang masuk ke dalam kamar sangat terkejut saat mendapati Nina tengah menangis sambil memeluk pakaian ibunya.


Nenek langsung memeluk Nina.


" Sudah tidak apa-apa kamu masih ada nenek dan juga kakek. Jangan menangis lagi." Ucap nenek yang berusaha menenangkan Nina.


" Hiks hiks hiks.."


" Sttt, sudah Ayo kita makan lalu nenek akan mengajak mau jalan-jalan ke alun-alun kota mau kan?" Bujuk Nenek.


Dengan berat akhirnya Nina mengangguk. Nenek tersenyum lalu segera menutup Nina ke meja makan. Setelah selesai makan. Nenek dan kakek mengajak Nina untuk pergi ke rumah majikan sang nenek. Ya, sebelumnya nenek bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah orang Cina.

__ADS_1


Setelah mengatakan alasan kenapa sang nenek berhenti dari rumah itu.


Hari berganti, tahun berganti tahun. Nina menjalani kehidupan tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kakek dan nenek nina sibuk membuat kue dan mengurus adik Nina.


" Lihat deh, bagus kan baju aku."


" Iya bagus, aku juga baru dibelikan sepeda sama papaku."


" Wah keren sekali."


Nina hanya bisa memandang dan mendengarkan teman-temannya saling berbicara tentang barang baru yang mereka dapatkan.


Nina tidak pernah beruntung dalam hal pun, baik berteman ataupun dalam permainan. Jika bermain, Nina selalu saja yang dijadikan kucing oleh teman-temannya. Di sekolah, Nina lebih banyak diam daripada bermain dengan kawan-kawannya. Karena teman-temannya selalu memamerkan barang-barang baru dan membawanya ke sekolah. Sedangkan Nina?, jangankan untuk barang baru. Bekal ke sekolah ataupun uang saku untuk jajan saja Nina tidak pernah membawanya.


...


Tidak terasa air matanya mengalir saat mengingat kembali kejadian masa dia kecil dulu.


" Pantas saja Aku selalu ingin bermain permainan saat aku mengantar anak-anak ke taman bermain. Mungkin karena dulu aku tidak merasakan masa-masa keemasan menjadi anak-anak." Lirih Nina.


Nina lalu menciumi kedua putrinya yang tengah tertidur lelap. Berharap mereka tidak akan merasakan penderitaan yang dulu dialami oleh Nina.


Nina rela bertahan dalam pernikahan ini demi kebahagiaan kedua putrinya. Berharap kejadian dulu yang menimpa Nina tidak akan terulang kembali kepada anak-anaknya.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2