Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Apa ini baby blues?


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Nina dan Gilang mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan.


" Permisi apa ibunya sudah bisa bangun?, wah ternyata ibu sudah bisa bangun dapat jalan." Ucap bidan sambil tersenyum saat melihat Nina sudah bisa berjalan, walau masih dengan langkah hati-hati dan pelan seperti siput.


" Iya sudah." Jawab Nina.


" Kalau begitu Ayo kita pindah ke ruang yang di sebelah sana saja." Ucap Bidan dan langsung mengambil bayi Nina yang tertidur di atas ranjang.


" Bapak dibantu memegangi ibu ya, barangnya bisa diambil setelah mengantarkan ibu." Ucap Bidan.


Gilang mengangguk kemudian menuntun Nina hingga mereka berada di ruangan khusus untuk ibu yang baru saja melahirkan.


" Pelan pelan ya.." Ucap bidan saat melihat Gilang yang sedang berusaha memegang ini nah untuk duduk di atas ranjang.


" Saya ambil barang dulu." Ucap Gilang kepada bidan.


" Oh iya silahkan. Bayinya apa sudah mendapatkan ASI?" Tanya bidan.


" Sudah."


" Kalau begitu, saya letakkan di sini ya Bu. Dan Ibu boleh istirahat sembari menunggu dokter untuk memeriksa ibu dan juga bayi."


" Iya terima kasih."


Tak beberapa lama kemudian setelah bidan itu pergi, Gilang datang dengan membawa semua barang Nina.


" Wah di sini ranjangnya ada dua, sepertinya memang yang satu untukku. Akhirnya aku bisa beristirahat."


Gilang langsung berbaring di atas ranjang setelah dia meletakkan tas Nina.


Nina kemudian menghubungi Ilmi melalui panggilan video.


Ilmi terlihat sangat antusias saat mengetahui bahwa adiknya lahir. Lalu setelah Nina puas melakukan panggilan terhadap Ilmi dan juga ibunya. Giliran Gilang yang mendapat telepon dari ibu dan juga adiknya.


Banyak celoteh yang diucapkan oleh ibu Gilang, terutama karena gila mengatakan bahwa minat terus saja menangis saat mengalami kontraksi.


" Pasti waktu hamil istrimu kebanyakan makan manis, makanya saat melahirkan jadi menangis saja."


" Gimana gak menangis orang sakitnya berkali-kali lipat, juga di jalan lahir ku selalu keluar bercak merah seperti saat haid." Ucap Nina, walaupun Nina tidak bicara langsung kepada sang mertua tapi sepertinya sang ibu mertua mendengarnya. Terbukti karena sang ibu mertua menjawab bahwa wa Nina mengalami kontraksi yang yang biasa disebut dalam istilah Jawa 'Banyon Geteh' yang artinya, jalan lahir akan banyak bercak merah seperti saat haid. Dan itu yang membuat kontraksi terasa sakit berkali-kali lipat.


Karena tidak ingin terlalu menanggapi perkataan dari sang ibu mertua. Nina mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyadari bahwa hari kelahiran putrinya itu bertepatan dengan hari Ibu sedunia.


" Aku berharap anak kedua kita adalah laki-laki, namun ternyata perempuan." Ucap Gilang.


" Iya." Ucap Nina.


" Mungkin memang rezeki kita hanya diberikan anak perempuan ya?, kan ada keluarga yang hanya diberikan anak laki-laki saja."


" Iya, setiap orang pasti diberikan ujian. Entah ujian tidak memiliki anak, entah ujian diberi kekayaan yang melimpah tapi sangat susah mendapatkan anak. Atau dengan banyak anak tapi mereka tidak punya uang. Apapun ujiannya kita harus tetap bersyukur kan bahwa Tuhan masih mempercayakan kita untuk membesarkan seorang anak."


" Iya."


Belum selesai percakapan mereka berdua, Gilang mendapat telepon dari temannya bahwa temannya akan datang berkunjung ke sana.


" Nda kamu tidak papa aku tinggal sendirian selama beberapa jam?, karena aku harus pulang untuk mengubur ari-ari dari bayi kita. Aku akan pulang bersama dengan temanku, dan kembali dengan membawa sepeda jadi kita ada kendaraan jika kita butuh sesuatu."


" Iya,bawakan aku beberapa cemilan dan susu."


" Baiklah. Aku akan berpamitan sebentar kepada bidan."


" Baiklah."


Tak beberapa lama setelah kepulangan Gilang. Dokter dan bidan datang dan langsung memeriksa Nina serta sang Bayi.


" Ibu apa ada keluhan?"


" Iya, perut saya terkadang seperti mengalami kontraksi."


" Tidak apa apa bu, itu normal terjadi karena perut dalam tahap kembali ke bentuk semula. Jadi Ibu mungkin akan mengalami gejala seperti akan melahirkan beberapa kali dalam beberapa jam."


Setelah cukup lama melakukan pemeriksaan terhadap Nina dan bayi. Bidan serta dokter itu pun pamit. Nina melihat dokter dan bidan itu masuk ke ruangan yang ada di sebelah kanan ruangan Nina.


" Hmm, sepertinya bukan hanya aku yang melahirkan hari ini." Lirih Nina.


" Lo, kok bawa makanan juga?" Tanya Nina saat Gilang datang dengan membawa sebungkus makanan.


" Iya, saat tadi aku berpamitan kepada bidan. Bidan itu mengatakan jika makan siang dan makan malam tidak disediakan jadi kita harus membelinya sendiri. Karena itu, Ibu membawakan kita makanan."

__ADS_1


" Oh seperti itu, lalu apakah Ilmi menangis?"


" Menangis sebentar, lalu aku katakan jika Ilmi ikut maka adiknya tidak kan boleh pulang oleh dokter. Jadi dia diam."


" Yah, ini sudah lebih dari 6 jam. Tapi kenapa aku dan bayinya tidak dimandikan?. Dulu setelah aku melahirkan Ilmi dan sudah 6 jam kami dimandikan."


" Mungkin nanti, yang melahirkan di sini ada tiga orang denganmu. Dan saat aku kembali aku juga melihat wanita hamil yang sepertinya juga akan melahirkan."


" Oh, mungkin saja."


" Ya sudah ini makanlah aku akan merokok di luar sebentar."


" Iya."


Setelah makan, Nina dengan berbaring menunggu bidan datang kembali. Namun, sudah hampir 2 jam Nina menunggu tidak ada tanda-tanda di dan itu akan datang kembali. Lalu saat Gilang masuk ke dalam ruangan. Nina meminta Gilang untuk bertanya kepada bidan apakah bayi mereka akan dimandikan atau tidak.


" Kata bidan, bayinya akan dimandikan besok saat pulang. Dan ibunya boleh mandi."


" Astaga, Kenapa tidak bilang dari tadi. Kalau ternyata aku sudah boleh mandi dari tadi maka aku akan segera mandi. Karena badanku terasa sangat lengket."


" Mandilah, aku akan menjaga Putri kita."


Dengan perlahan Nina masuk kedalam kamar mandi. Dan memulai ritual mandinya. Nina merasa sangat segar, walau belum genap 1 hari dia melahirkan tapi rasanya Nina sudah tidak mandi selama berhari-hari. Setelah mandi, Gilang membantu memasangkan sabuk ke perut Nina.


Tak beberapa lama kemudian, bidan datang dan masuk untuk mengantarkan vitamin.


" Lo, Ibu sudah mandi?"


" Iya, saya tidak tahan gerah bu bidan."


" Iya sudah tidak apa apa kalau memang Ibu tidak ada keluhan seperti pusing. Dan ini saya membawakan Ibu obat dan vitamin diminum 2 kali sehari setelah makan ya. Saya letakkan disini ya."


Bidan meletakkan obat itu di atas meja yang ada di sebelah ranjang tidur Nina.


" Terima kasih bu."


" Sama sama. Kalau begitu saya permisi, jika ada keluhan bapak bisa memanggil petugas yang ada di sebelah sana."


" Iya."


...


Malam harinya, bayi kecil itu sedikit rewel, karena pernapasannya berbunyi grok-grok.


" Iya, dan mungkin juga bunyi ini akibat dari kotoran yang menempel pada bayi kita. Tadi aku banyak membersihka bercak merah pada badan bayi kita."


" Emm ya mungkin saja."


Malam itu, Gilang membantu menidurkan dan menenangkan bayi mereka yang sedikit rewel karena pernapasannya.


Nina yang khawatir, meminta Gilang untuk memanggil bidan agar memeriksa bayi mereka apakah bayinya baik-baik saja.


" Tidak apa apa bu, ini normal terjadi di awal kelahiran bayi jika tidak air keluar yang dari hidung si bayi."


" Syukurlah kalau begitu karena saya takut."


" Tidak apa apa Bu, jika bayi tiba-tiba menangis coba Ibu miringkN ke kiri. Atau sebaliknya cobalah untuk membuat bayi merasa nyaman."


" Iya, terima kasih bu."


" Sama sama."


Bidan keluar, dan Tak lama kemudian Gilang masuk. Karena saat Gilang akan memanggil bidan. Gilang juga meminta izin Nina untuk menemui dan menemani temannya yang datang berkunjung lagi.


Keesokan paginya, Gilang membawa bayi mereka dan menanyakan kepada bidan apakah bayi itu boleh berjemur atau tidak.


Dan setelah mengetahui bahwa bayi boleh berjemur Gilang langsung membawa bayi itu untuk berjemur dibelakang ruangan Nina.


Nina memilih untuk mandi sebelum akhirnya mereka pulang. Setelah mandi, Nina melihat sudah ada makanan di atas meja. Nina lalu segera menghabiskan makanan itu dan meminum obat yang diberikan oleh bidan semalam.


Sesekali Nina mengintip dari jendela, apakah Gilang sudah kembali dari berjemur atau tidak. Karena Gilang belum kembali dan Nina yang merasa sedikit bosan, akhirnya Nina memilih untuk mengemasi pakaiannya dan milik bayi mereka. Nina Hanya menyisakan satu stel pakaian yang akan dipakai untuk pulang nanti.


Tak beberapa lama kemudian Gilang datang dan langsung menyerahkan bayi kepada Nina, Nina langsung memberi bayi itu ASI.


Tok


Tok


Tok


" Permisi pak bu, beberapa saat lagi bayinya akan dimandikan jadi tolong siapkan pakaiannya ya." Ucap Bidan


" Iya."

__ADS_1


Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya bidan tadi kembali dengan membawa sebuah bak yang berisi air hangat. Lalu di mana hati-hati Nina memberikan bayi itu kepada bidan untuk dimandikan.


Tak lupa juga, bidan itu mengajarkan kepada Nina cara memandikan bayi yang benar.


" Ohya bu, kira-kira kapan ya kami bisa pulang karena saya harus menghubungi taman untuk menjemput kami." Ucap Gilang.


" Tadi malam sudah diperiksa oleh dokter atau belum?"


" Belum." Jawap Nina.


" Kalau belum berarti menunggu Ibu dan bayinya diperiksa oleh dokter, dokternya akan datang dalam 2 jam."


" Baiklah."


..


Nina dan Gilang sudah menunggu lebih dari 2 jam. Namun belum ada tanda-tanda dokter itu akan datang ke sini untuk memeriksa bayi dan Nina.


Gilang yang sudah bosan berada di klinik itu memilih untuk keluar dan bertanya kepada bidan apakah dokter nya sudah datang atau belum.


" Bagaimana?" Tanya Nina saat melihat Gilang kembali.


" Dokter nya sudah datang tapi masih memeriksa bayi yang lain."


" Hmm, kan tadi aku sudah bilang mungkin dokternya sudah datang tapi karena bukan hanya aku yang melahirkan di sini mungkin dokternya masih jalan-jalan ke ruangan lain tapi kamu tidak percaya padaku." Ketus Nina.


" Iya iya."


Tak beberapa lama kemudian, dokter yang ditunggu-tunggu pun akhirnya masuk ke ruangan Nina dan langsung memeriksa Nina dan juga bayinya.


Setelah Nina dan bayinya selesai diperiksa dokter, bidan menyuruh Gilang untuk mengambil buku KIA serta bingkisan yang diberikan klinik kepada si bayi.


Gilang kembali bersama Ilmi dan juga ibunya yang datang untuk menjemput Nina dan bayinya. Rupanya Gilang sudah menelpon 1 jam yang lalu dan mengatakan bahwa mereka akan pulang.


Lalu dengan hati-hati Gilang menuntun Nina berjalan masuk kedalam mobil, sedangkan bayinya digendong oleh ibu Nina.


Sesampainya di tempat kos, para tetangga kost langsung berbondong-bondong untuk melihat anggota baru keluarga Gilang.


Dengan perlahan nina duduk di ranjang, dan mulai menjawab pertanyaan para tetangga seputar kesan melahirkan. Nina juga menceritakan apa-apa saja yang dia lalui, mulai dari sakit. Hingga bayi yang ternyata hanya dimandikan ketika akan pulang ke rumah.


Malam harinya, Gilang dapat tidur dengan tenang karena sang ibu yang menggendong bayi mereka saat terbangun.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dan tidak terasa kini usia bayi yang diberi nama akifa sekitar 40 hari. Beberapa hari setelah acara selapanan bayi akifa. Ibu pulang ke Jawa karena Dwi sudah menelponnya berulang kali dan menanyakan kapan ibu akan pulang.


Perasaan Nina percampuran antara sedih dan juga bahagia. Di sisi lain dia sedih karena sang ibu akan pulang. Tapi di sisi lain dia juga bahagia, karena dia tidak perlu lagi melihat sang ibu yang terus melakukan pekerjaan rumah. Nina merasa tidak enak jika sang Ibu terus aja melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan oleh Nina.


" Hati hati, jaga diri kamu baik-baik." Ucap ibu saat dirinya akan naik travel.


" Iya, dan maaf jika aku hanya bisa memberi ibu sedikit uang."


" Iya tidak apa apa."


" Besok kesini lagi ya bu." Ucap Ilmi.


" Iya..."


Ilmi pun melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi oleh Ibu berangkat meninggalkan halaman kost. Lalu Dinan hati-hati 5 membawa Akifa dan juga Ilmi kembali masuk ke dalam kamar.


Bulan berlalu, entah kenapa tapi sejak kepulangan sang Ibu akibat menjadi sangat rewel terutama di jam 1 atau 2 dini hari.


Hal itu membuat Nina kesal. Apalagi Gilang tidak pernah mau membantunya untuk menggendong akifa. Pernah sesekali Nina meminta bantuan Gilang untuk menggantikannya menggendong Akifa sebentar. Namun, Gilang justru marah-marah dan mengatakan jika dirinya sangat lelah bekerja. Sejak kejadian itu walaupun Akifa sangat rewel, Nina tidak pernah lagi membangunkan Gilang. Kecuali, jika kilang sendiri yang bangun dan menawarkan diri untuk menggendong Akifa.


Nina sering menangis tak kalah Akifa yang masih saja rewel walaupun sudah digendong. Tak jarang Nina memukul, walaupun dengan pelan kaki Akifa, sehingga membuat tangisan Akifa semakin kencang.


Apakah ini termasuk baby blues??


Nina berusaha menahan amarahnya, namun terkadang dia tidak dapat menahan emosinya saat Akifa masih saja rewel setiap malam, sedangkan Nina sangat lelah karena seharian melakukan pekerjaan rumah juga menemani Ilmi belajar. Ditambah Gilang yang seakan tidak mau tahu jika Akifa selalu rewel saat malam hari. Membuat Nina sering menangis saat mengendong Akifa.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah...

__ADS_1


__ADS_2