Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Nasib yang hampir sama.


__ADS_3

" Hei, kok tidak pernah berada di luar rumah lagi?" Tanya Mama Elsa melalui kaca jendela kamar Nina.


" Hei."


Nina bangun dari posisi tidurnya lalu membukakan pintu.


" Keluar lo, itu nongkrong sama orang-orang."


" Enggak ah, kalau kumpul sama mereka aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Karena mereka selalu membahas hal yang diluar jangkauan ku. Jadi daripada aku hanya diam lebih baik aku di rumah saja diam dan menemani Akifa."


" Iya sih, aku sendiri kalau bergabung bersama mereka juga kebanyakan diam, karena yang mereka bahas adalah kuliner enak dan juga terlihat mahal. Mereka juga terkadang merencanakan pergi ke tempat wisata."


" Kalau kamu gitu bisa aja pergi ke manapun atau menjelajah kuliner mencicipi setiap makanan yang ingin dicicipi, sedangkan aku. Kok mau mencicipi kuliner, Gilang aku ajak jalan-jalan saja tidak pernah mau. Terkecuali kalau Gilang sendiri yang memang berniat ingin jalan-jalan. Barulah aku bisa jalan-jalan dan mencuci mata. Jika Gilang tidak mau ataupun tidak ingin untuk jalan-jalan maka sekuat apapun aku berusaha bilang tidak akan ngajak kami jalan-jalan."


" Jalan jalan saja sendiri."


" Mauku sih gitu, tapi aku sendiri tidak punya uang. Kamu tahukan bagaimana cara Gilang memberiku uang. Jangan kan untuk bisa ku buat jalan-jalan, untuk makan saja masih kurang kurang. Belum lagi sepeda yang selalu dibawa, kadang Gilang pulang namun keluar lagi untuk lomba burung ataupun memancing."


" Gilang tak lihat mencari kesenangannya sendiri." Ucap Mama Elsa.


" Ya, memang seperti itu. Kalau sudah pulang dari lomba burung atau memancing malam harinya selalu minta dipijat, jika aku menolak maka kamu akan tahu sendiri aku dan dia akan bertengkar. Dan kata kukatakan Kenapa tidak diam di rumah saja saat sudah tidak ada pekerjaan. Kamu tahu dia justru mengatakan ingin mencari hiburan agar pikirannya tidak stress karena pekerjaan."


" Halah, sama saja seperti suamiku. Kamu tau nggak sih nasib kita mungkin hampir sama."


" Ya beda, walaupun Ayah Elsa suka marah dia mengomel tapi dia tetap saja mau pergi jalan-jalan kan? jadi walaupun nasib kita sama tapi masih jauh lebih beruntung kamu daripada aku."


" Iya sih."

__ADS_1


" Nah, bedanya diantara suami kita adalah itu, jika suamimu akan tetap pergi walaupun dia mau ngomong sepanjang jalan. Tapi tidak dengan Gilang, walaupun Ilmi merengek sampai menangis tapi jika Gilang tidak menghendaki untuk keluar maka tidak akan keluar untuk jalan-jalan. Terkadang aku juga bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Gilang. Dia sendiri merasa butuh hiburan karena stress akan pekerjaan. Tapi Dia seakan tidak memikirkan keluarganya, dia lomba burung game memancing itu untuk kesenangan siapa? untuk kesenangan nya dia sendiri kan.,"


" Coba kamu marah jika mengetahui Gilang akan lomba burung ataupun memancing. Seperti aku yang selalu ngomel-ngomel jika ayah Elsa tidak lekas pulang atau pun pulang terlambat dari bekerja."


" Ya, itu kan Ayah Elsa. Gilang jika aku marah dia justru balik marah. Seakan dia tidak ingin diatur justru aku yang diatur olehnya. Lalu aku bisa apa?, jika aku teruskan maka ujung-ujungnya aku yang terluka. Jadi lebih baik aku diam. Dan juga soal berkumpul dengan yang lain diluar, aku kadang merasa minder karena aku adalah orang tidak punya. Ditambah pengetahuanku akan kuliner dan juga tempat wisata tidak seluas mereka."


" Iya sih, tapi apa salahnya kan bergabung dengan mereka siapa tahu nanti mereka akan mengajak kita jalan-jalan."


" Tidak akan, jika mereka Eka mengajak kita pengeluaran mereka pasti akan banyak karena harus mentraktir kita kan. Sedangkan jika mereka membuat acara sendiri lalu kemudian langsung pergi mereka tidak perlu mengeluarkan uang banyak karena sudah ada bos yang akan menanggung uang makan dan juga biaya perjalanan mereka."


" Iya kau benar Ya sudah aku akan membeli mobil suatu saat nanti. Lalu aku akan mengajak mau ke mana pun yang kau inginkan." kekeh Mama Elsa


" Haha, jangan terlalu tinggi kalau menghalu. Nanti kalau jatuh kan sakit."


" Ya tidak apa-apa kan sekali-kali menghalu berkhayal yang tinggi-tinggi agar kita tidak stress memikirkan sikap suami kita."


" Iya, kau benar. Aku juga merasa Haruskah aku menangis setiap malam, dan Kenapa selalu saja aku yang terluka dalam hubungan ini."


" Iya, aku sudah berulang kali mengatakan kepada bilang jika dia menanyakan kemana uang belanja yang dia berikan. Tapi jawabannya selalu membuat hatiku jengkel, seperti saat aku mengatakan harga telur naik. Dia dengan santai mengatakan tidak usah membeli barang kebutuhan yang mahal."


" Memang seperti itu, coba saja kamu mempunyai uang sendiri pasti kamu akan disayang sayang dan dimanja oleh suami. Seperti saat aku mendapatkan uang pesangon dari perusahaan tempat Aku bekerja dulu. Ayah Elsa bahkan tidak pernah lagi marah kepadaku, tapi begitu uang pesangon ku habis. Maka dia akan kembali menjadi serigala yang selalu marah-marah di setiap saat."


" Apa semua laki-laki memang seperti itu?, berharap istrinya juga bekerja dan mempunyai penghasilan agar tidak terlalu bergantung kepadanya?"


" Entahlah aku juga tidak habis pikir kenapa ada laki-laki dengan watak seperti itu."


" Selingkuh boleh gak sih?, nyari laki-laki yang mau menerima kita apa adanya dan juga royal akan uang." Ucap Nina.

__ADS_1


" Ya mana ada seperti itu, ya mungkin ada beberapa laki-laki yang akan royal dan mau menjadikan kita simpanan tapi kita juga harus mau jika laki-laki itu ingin tidur dengan kita."


" Huu, Jika seperti itu kenapa kita tidak jadi pelacvr saja." Ucap Nina.


" Haha, iya kadang aku juga berpikir enak jadi pelacvr walaupun dimainkan setiap hari tapi selalu dapat uang. Beda dengan yang ini, sudah di genjot tiap hari keuangan rewel suka marah-marah. Membuat ku semakin merasa pusing."


" Ah sama saja, aku malah terkadang justru merasa seperti pelacvr. Karena aku Aku berani minta uang setelah Gilang meminta hanya kepadaku."


" Ya kamu kenapa mintanya setelah melakukan itu?"


" Ya, karena hanya setelah melakukan itu gila tidak akan marah jika aku meminta uang ataupun mengatakan kebutuhan yang sudah habis."


" Hmm, laki-laki memang sama saja ya."


" Entahlah, kadang aku juga mulai merasa lelah dengan kehidupan yang aku jalani."


" Sama."


Seperti itu, terkadang Nina dan juga mama Elsa saling bertukar kehidupan mereka yang menyakitkan. Namun, separah apapun kisah yang mama Elsa ceritakan, kehidupan mama Elsa jauh lebih beruntung daripada Nina. Nina sendiri terkadang juga merasa iri terhadap kehidupan mama Elsa, walaupun sang suami sangat pemarah dan sering mendengar mereka bertengkar. Tapi suami Mama Elsa masih bisa memenuhi kebutuhan atau apapun yang mama Elsa inginkan.


Walaupun Lina tahu bahwa rasa iri dan dengki itu tidak baik dan tidak seharusnya dipendam oleh wanita. Tapi Nina hanyalah manusia biasa, ditambah dari dulu kehidupannya juga tidak pernah berjalan mulus seperti jalan tol. Jadi apakah salah jika Nina selalu iri dengan kehidupan yang jauh lebih baik darinya. Dalam hati ini selalu berharap dapat menemukan ketenangan dan kebahagiaan di dalam rumah tangga yang sudah dibangun nya hampir 7 tahun itu.


Entah kapan tapi Nina selalu berharap suatu saat dia akan menemukan kebahagiaan.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2