Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Harus apa?


__ADS_3

Tidak ada satu wanita pun yang berharap kehidupan rumah tangganya tidak berjalan sempurna. Semua wanita pasti mengidamkan rumah tangganya tentram serta bahagia.


Begitu juga Nina yang berharap dia akan bahagia dengan rumah tangganya. Salah kah jika Nina berharap dia akan mendapatkan kasih sayang dari suaminya.


Selama ini mungkin Gilang sudah menyayangi Nina. Tapi tidak dengan cara yang benar karena Nina merasa isi dari pernikahannya hanyalah luka. Nina tidak ingat kapan terakhir kali dia merasa paling bahagia dan paling beruntung menjadi seorang istri.


Sore itu, Nina sangat kesal karena begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan bilang memilih untuk pergi memancing karena dia tidak bekerja dan juga ini yang sedang libur mengaji.


Gilang tidak memberi uang lagi kepada Nina, padahal Nina saat itu gilang sudah mendapatkan uang dari pekerjaan sebelumnya.


Karena Nina sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi dia tidak menanyakan perihal uang kepada Gilang.


" Nda, apakah berasnya masih ada atau sudah habis?" Tanya Gilang setelah Nina duduk dan berbaring karena lelah mencuci.


" Ada, mungkin cukup untuk masak besok."


" Ya sudah ayo beli."


Gilang beranjak dari tempat duduknya lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah juga uang berwarna biru dan memberikannya kepada Nina ada digunakan untuk membeli beras.


Tit


Tit


Tit.


Suara alarm token listrik.


" Itu ambillah lagi uang dua puluh ribu di atas lemari untuk tambahan membeli token listrik." Ucap Gilang.


Dengan langkah gontai Nina berjalan dan mengambil uang yang berada di atas lemari.

__ADS_1


Mata Nina berkaca-kaca, melihat uang yang baru saja diberikan oleh Gilang. Rasanya Nina ingin menangis karena bilang hanya memberinya uang untuk membeli beras dan juga token listrik. Sedangkan di dalam dompet Nina hanya tersisa uang receh yang mungkin tidak akan cukup untuk membeli sayur di keesokan harinya.


Namun apalah daya Nina yang tidak bisa meminta kepada Gilang. Nina terlalu takut Gilang akan marah karena hal itu akan menyakiti hatinya. Entah Nina yang bodoh atau Nina yang takut.


Setiap kali uang belanja habis minat tidak pernah mau memintanya lagi. Karena dia sudah terlalu banyak terluka jadi dia enggan untuk mendengarkan omelan Gilang lagi.


Akhirnya, dengan diantar Gilang. Nina pergi ke toko yang ada di depan seberang jalan kos untuk membeli beras dan juga token listrik.


" Huft.."


Nina menghela nafas saat uang yang berada di dompetnya benar-benar terkuras habis.


Aku harus bagaimana?, sebentar lagi kebutuhan Akifa akan habis dari mana aku akan mendapatkan uang.


Malam harinya, Lina Sule sekali untuk tidur karena dia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan dan juga anak-anaknya.


Tuhan, apakah memang aku yang terlalu banyak mengeluh sehingga uang yang diberikan untuk Gilang tidak pernah cukup, ataukah memang Gilang yang memang keterlaluan dalam memberikan nafkah untukku. Aku ingin menyerah, rasanya aku ingin berteriak dan mengeluh agar beban dalam hatiku hilang. Apa yang menjadikan ku terjebak dalam kehidupan mengerikan ini. Apa memang aku yang tidak pandai bersyukur dan tidak pandai mengatur keuangan ataukah memang Gilang yang tidak bisa mengerti pengeluaran dari rumah tangga. Batin Nina.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


" Tante ini bajunya Om." Ucap keponakan bilang sambil meletakkan baju itu di atas lemari.


" Lo, om beli baju?"


" Iya, baju untuk lomba burung."

__ADS_1


" Apa sudah bayar?" Tanya Nina.


" Aku tidak tahu, dia nanti saja kalau Om sudah datang."


" Ya sudah."


Setelah katakan itu keponakan Gilang kembali keluar dan menutup pintu.


Nina membuka baju itu. Lalu Dia teringat jika Gilang pernah menanyakan soal ukuran baju dan mengatakan jika teman-temannya memesan sebuah baju untuk club lomba burung.


Nina tidak menyangka jika Gilang sendirilah yang mau beli baju.


Nina?


Nina tentu saja menata baju itu dengan rasa sakit di dalam dada. Hal kecil saja Gilang tidak pernah terbuka kepada Nina apalagi hal besar.


Nina ingin sekali menangis, Kenapa kehidupan seakan tidak adil padanya. Dari dulu hingga sekarang. Dulu Nina tidak pernah bisa membeli apapun yang dia inginkan. Begitu juga sampai sekarang saat Nina sudah menikah. Nina sangat sulit untuk membeli apa yang dia inginkan karena Gilang tidak pernah memberinya uang.


" Makanya kerja sendiri biar kamu bisa punya uang jam bisa membeli apapun yang kamu inginkan."


Kata kata itu selalu terngiang di telinga Nina saat Nina menginginkan sesuatu.


Terkadang muncul ide gila dalam diri Nina untuk mendapatkan uang dengan cepat, seperti mungkin menjual diri atau apa saja yang bisa mendapatkan uang dengan cepat. Namun, khayalan tetaplah menjadi khayalan. Nina tidak mau mengambil langkah salah yang membuatnya akan menyesal di kemudian hari.


Nina hanya bisa terdiam sambil meletakkan kembali baju milik Gilang ke atas lemari. Dan mulai menidurkan Akifa karena ini sudah masuk jam tidurnya di pagi hari.


Nina akan menunggu apa yang Gilang katakan setelah melihat baju yang dia pesan sudah datang.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2