
" Nda, nanti kalau ada Ayuk ini ya barangnya. Aku mau pergi dulu." Ucap Gilang.
Nina hanya mengangguk karena saat itu Nina sedang menidurkan Akifa, Nina khawatir jika dirinya bersuara maka Akifa akan terbangun.
Beberapa menit kemudian Akifa sudah mengakhiri sesi minum ASI. Nina yang masih dilanda rasa kantuk memilih untuk melanjutkan tidur selama beberapa menit sebelum memulai aktivitas di sore hari.
Tok
Tok
Tok
" Mbak...."
Nina yang hampir saja tidur terlelap menjadi terkejut karena suara ketukan pintu. Nina langsung terbangun dan melihat dibalik jendela siapa yang datang.
Tok
Tok
Tok
" Mbak..."
" Iya.." Jawab Nina segera setelah mengetahui yang datang adalah Ayuk.
Nina segera mengambil barang titipan Gilang yang memang milik Ayuk.
Ya, Ayuk adalah orang luar yang masih setia memberi pekerjaan kepada Gilang. Jadi selain bekerja bersama temannya Gilang juga menerima pekerjaan dari orang lain. Tapi sejauh yang Nina tahu, Gilang hanya menerima pekerjaan dari Ayuk. Itu dibuktikan dengan Nina yang beberapa kali melihat orang datang ke sini untuk memberikan pekerjaan namun Gilang menolaknya. Dan juga saat Nina tidak sengaja membaca isi pesan dari ponsel Gilang.
__ADS_1
" Huft, Apa salahnya di terima saja bukankah sebentar lagi akan memasuki bulan puasa pasti lah kalau tidak pintar pintar mencari rezeki tidak akan bisa punya uang untuk pulang." Ucap Nina setiap kali melihat Gilang menolak pekerjaan.
" Ini kan barangnya?" Ucap dinas sambil memberikan sebuah barang berukuran kecil kepada Ayuk.
Ayuk terlihat mengambil serta memiliki barang tersebut.
" Ah iya benar. Ini ya, saya titip uangnya." Ucap Ayuk sambil memberikan beberapa uang berwarna biru.
" Ohya terimakasih."
" Oke, kalau begitu aku langsung pergi ya mbak."
" Iya."
Setelah kepergian Ayuk, Nina menyimpan uang itu dan mulai melakukan aktivitas di sore hari. Memasak untuk makan sore kedua putrinya menyapu dan berbagai hal lainnya sambil menunggu Ilmi dan juga Akifa terbangun.
" Iya."
" Dikasih uang?"
" Iya.."
" Berapa?"
" Dua ratus ribu. Aku ambil ya, karena aku akan membeli beberapa kebutuhan yang sudah habis termasuk cemilan untuk Akifa."
Gilang terdiam, tidak menjawab. Namun dari raut wajah Gilang Nina dapat mengerti jika sebenarnya Gilang tidak rela jika semua uang diambil Nina.
Huft. Sepertinya aku tidak akan lagi diberi uang oleh Gilang setelah pekerjaan nya selesai. Batin Nina.
__ADS_1
Drrrttt drrrttt drrrttt
Ponsel nina bergetar, pesan dari adik Nina.
(mbk, lebaran pulang?)
(Tidak tahu, jangankan untuk pulang, untuk makan saja aku masih kesusahan.) Balas Nina dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.
(Sabar, siapa tahu ada rejekinya)
( Hmm, entahlah. Kadang juga berpikir rejeki dari mana, Gilang sendiri juga sudah mengatakan jangan pernah berharap untuk pulang. Karena dia tidak punya uang. Selama ini penghasilannya hanya cukup untuk makan. Bicara soal Novel, sekalipun aku berusaha keras aku rasa juga tidak akan bisa cair untuk uang mudik lebaran)
(Sabar, aku doakan semoga ada rejekinya)
(Amin)
Mata Nina berkaca-kaca, sungguh dirinya sangat ingin bisa kembali merayakan lebaran bersama dengan sang ibu. Kesempatan dan momen yang tidak pernah Nina rasakan sejak dulu. Hanya tahun kemaren Nina berkesempatan untuk berlebaran bersama ibu. Namun saat hari raya tiba, Nina justru jatuh sakit dan membuat momen itu kurang berkesan.
Nina berharap tahun ini dirinya dapat berkumpul bersama dengan keluarga nya. Keluarga nya sendiri, Namun Nina juga tidak ingin berharap banyak, karena dia sudah tahu akhirnya jika terlalu berharap.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
" Selamat beribadah puasa ya besti, bagi umat Islam yang melaksanakannya 🤗🤗😍😍🙏🙏"
__ADS_1