
Beberapa hari berlalu, Nina memutuskan untuk mencoba melupakan segala sesuatu tentang rasa kecewanya.
Nina membuka kembali foto masa lalu, saat dia dan Gilang masih belum menjadi suami istri.
Nina membuka foto demi foto yang ada di layar laptop. Sambil sesekali memejamkan mata mencoba mengingat setiap momen yang pernah terjadi.
Namun sungguh Nina tidak menemukan apapun selain rasa kecewanya. Mungkin Luka dalam hatinya begitu besar sehingga kenangan indah sekecil apapun tidak dapat membuat Nina merasa jauh lebih baik.
" Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa mengulang memori kebersamaanku dan Gilang. Bagaimana aku bisa mencoba berdamai dengan keadaan ini jika aku tidak bisa menumbuhkan perasaanku lagi pada Gilang."
Nina lalu menutup laptopnya. Dan mencoba keluar rumah dan menemani Ilmi yang sedang bermain.
Malam harinya, Gilang mengajak Nina serta Ilmi bermain ke taman kota.
" Ayah, ayo kita main ayunan." Pinta Ilmi sesaat setelah mereka sampai di taman kota.
" Iya, tunggu sebentar." Ucap Nina.
" Wah, bunda. Itu jual apa?" Tanya Ilmi saat melihat pedagang bakpao.
" Seperti nya bakpao."
" Kenapa?,Ilmi mau?" Tawar Gilang.
" Mau."
" Ini beli lah, aku akan menemani Ilmi bermain ayunan." Ucap Gilang sambil memberikan selembar uang berwarna biru.
" Baiklah."
Gilang langsung menuntun Ilmi menuju tempat bermain, senjatane Ilmi menghampiri pedagang yang diduga berjualan bakpao itu.
" Permisi pak, jual bakpao ya?" Tanya Ilmi.
__ADS_1
" Iya, mau beli berapa?" Tanya penjual.
" Ada rasa apa aja?" Tanya Nina.
" Itu daftar rasa beserta harganya." Tunjuk si penjual.
Dan betapa terkejutnya Nina saat melihat harga sebuah bakpao.
" Rasa coklat 10k, stroberi 8k, kacang hijau 8k, ayam 10k. Ya Tuhan ini bakpao atau bakso. Harga nya setara dengan semangkuk bakso yang biasa aku beli untuk Ilmi." Lirih Nina
" Coklat 1, kacang hijau 2 ya pak." Ucap Nina setelah sekian lama dia memutuskan untuk membeli apa.
" Semua 26 ya.." Ucap penjual sambil memberikan 3 biji bakpao yang sudah dibungkus kantung plastik.
" Ini uangnya."
" Kembali dua puluh empat ribu ya.."
" Iya."
Nina menghitung ulang uang kembalian didepan penjual.
" Iya, pas."
" Oke. Makasih ya, kalau kurang beli lagi."
" Iya." Ucap Nina sambil berlalu.
" Beli lagi kepala mu. Mending aku beli mie ayam mas Kenzo. 26ribu dapat 2 mangkuk plus 1 mangkuk bakso." Lirih Nina.
Kemudian Nina berjalan menelusuri taman mencari keberadaan Gilang dan Ilmi.
" Bunda..." Teriak Ilmi.
__ADS_1
Nina lalu menghampiri mereka yang duduk di atas rumput di dekat penjual balon.
" Mana bakpao nya " Tanya Ilmi.
Nina lalu memberikan kantong plastik yang berisi bakpao tadi.
" Kok cuma beli tiga?" Tanya Gilang.
" Ya memang mau beli berapa, orang harganya paling murah 8k."
" Apa?, bakpao ini 8k?" Ucap Gilang yang sama terkejutnya dengan Nina saat pertama kali mengetahui harga dari bakpao itu.
" Iya."
" Huu, mahal sekali, rasa nya juga sama seperti bakpao yang biasa kita beli di depan supermarket kan?" Ucap Gilang sambil memakan bakpao rasa kacang hijau.
"Kacang hijau nya dari Amerika, karena itu harga nya mahal." Ucap Nina.
Mereka lalu menghabiskan malam itu dengan canda tawa. Gilang sukses membuat Nina melupakan rasa kecewanya. Malam itu Gilang benar benar membuat hati Nina bahagia.
Saat perjalanan pulang, Gilang menarik tangan Nina dan meletakkan nya melingkar di perutnya, kode agar Nina memeluk nya.
Nina pun melakukan apa yang diinginkan Gilang. Memeluk Gilang sepanjang perjalanan pulang.
Nina menyandarkan kepalanya pada punggung Gilang.
Semoga setelah ini hubungan kami menjadi lebih baik. Dan semoga saja Gilang bisa berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Batin Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...