
Seperti biasa, nina bangun pukul 5 pagi untuk berjalan², sambil berbelanja sayur. Karena bulan ini adalah bulan perkiraan persalinan.
" Jalan² nduk." Sapa para tetangga yang menjumpai nina.
" Iya bu.." ucap nina sopan.
" Perutnya sudah terlihat turun, mungkin sebentar lagi melahirkan.
" Masih jalan 9 bulan bu."
Lama berjalan², nina menuju tukang sayur yang baru saja datang, setelah selesai membeli beberapa lauk dan sayur. Nina kembali ke rumah. Sesampainya dirumah, nina langsung menuju dapur dan mulai memasak.
" Masak apa?" Tanya ibu.
" Masak ini bu."
" hemm ya sudah, jangan terlalu banyak bawang. bawang sedang mahal." ketus ibu.
Nina merasa ingin menangis, entah mengapa tapi, kehamilan ini membuat mood nya sangat sensitif.
..
" Yaa.. nanti kalau anaknya lahir biar ada di sini aja, istri depit biar ikut ke bali kerja." Samar² suara ibu, namun masih bisa terdengar jelas oleh nina.
" Ya tentu aku akan merawatnya. Biar ibunya kerja, cari uang." Suara ibu lagi, benar² membuat dada nina sesak.
Setelah sikap suami yang berubah, sekarang ibu juga. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi padaku. Batin nina berusaha menahan air mata nya.
Setelah selesai memasak, nina memilih masuk ke kamar, dan menumpahkan kesedihannya.
...----------------...
...----------------...
Dua minggu kemudian, galang pulang. Tidak ada perlakuan istimewa, semua berjalan seperti biasa.
" le.. nanti kalau anak mu lahir, tidur denganku ya." Ucap ibu pada galang.
" Terserah."
" Nanti kalau nangis baru di kasih ke ibu nya."
" Nanti tolong ibu temani nina, saat persalinan." Pinta galang.
" Kok bisa aku, ya kamu. Kamu kan suami nya." Ketus ibu.
" Aku pusing jika melihat darah."
__ADS_1
" Ya sudah, nanti aku bilang sama bude juma. Biar dia yang menemani istri mu melahirkan." Ucap ibu dengan nada dingin.
Sungguh rasanya nina ingin lari, tapi kemana?, dia tidak punya tempat bernaung.
...****************...
...----------------...
Hari yang ditunggu² tiba, malam itu nina sama sekali sangat sulit untuk tidur. Perutnya kencang, dan sesekali merasakan kontraksi. Setelah dirasa sakitnya makin kuat dan ada tanda² akan melahirkan. Nina meminta diantarkan ke rumah bidan.
" Pelan², perutku sakit." Ucap nina saat mereka dalam perjalanan menuju rumah bidan.
Setelah sampai di rumah bidan. Pukul 01.30 dinihari.
" Sudah pembukaan 3, Disini saja ya nduk, tidak usah pulang."
Bidan sambil menyuruh nina untuk berbaring ke kiri. Sungguh kontraksi yang sangat nikmat, nina merasa mual dan selalu muntah. Jangankan makanan, minum air putih atau teh hangat, hanya sampai pada tenggorokan.
" Bu bagaimana ini?" Ucap salah satu perawat saat bidan datang.
" Kenapa?"
" Ibu ini selalu muntah, diberi minum saja sudah muntah."
" Kalau begitu di infus saja ya nduk, kalau tidak, nanti kamu tidak punya tenaga". Nin hanya mengangguk lemas, rasanya sangat berat untuk bersuara.
Pukul 4.30, menjelang subuh, nina merasakan sesuatu yang deras keluar dari jalan lahirnya.
Ohya, nina sendirian ya di ruang persalinan. Suami dan ibu mertua ada di ruang tunggu.
" Ooh, bukan mbak, ini air ketubannya sudah pecah. Cepat panggil bu bidan."
Satu perawat terlihat berlari memanggil bidan. Setelah bidan datang.
" Sudah buka lengkap. Ayo nduk atur nafas." Bidan memberi aba aba.
Ceklek.. Bude galang terlihat masuk.
" Nduk bude hanya bisa menemani kamu sampai pukul 5, karena bude harus memasak." Bisik bude yang di balas anggukan nina.
Nina mulai mengejan..
" Salah nduk salah, bukan gitu mengejan nya."
" Ya ya bagus..."
" Terus nduk.."
__ADS_1
" Eugh..." nina mengejan sekuat tenaga, hingga tanpa disadari jarum infus ditangan ninaa terlepas. Lemas. nina seketika lemas.
" Aduh, infusnya lepas, cepat pasang lagi." teriak bidan.
" Nduk jangan tutup mata, buka mata." Teriak bidan saat melihat nina memejamkan mata.
" Nduk maaf ya, bude harus pulang, tidak apa² ya ditinggal?" Bisik bude yang kembali dibalas anggukan oleh nina.
Di ruangan itu, nina berjuang hidup dan mati seorang diri, berusaha melahirkan bayi manis yang mungkin kehadirannya tidak di harapkan. Namun bagi nina, dia adalah segalanya.
" Cepat panggil suaminya." Ucap bidan, saat melihat nina sudah kehabisan tenaga.
" Tidak mau bu."
" Cepat paksa."
Tak beberapa lama, galang masuk. Dan bidan langsung menyuruhnya untuk menopang badan nina, agar posisi kepala nina lebih tinggi.
Nina yang sudah setengah sadar, tidak mendengar apa yang galang bicarakan. Lalu dengan sisa tenaga terakhir, nina berhasil melahirkan bayi mungilnya.
CUP..
Nina merasa sebuah kecupan mendarat di keningnya.
" anak kita sudah lahir.." Bisik galang.
Setelah tali pusar di potong, bayi dibawa ke meja yang tak jauh dari ranjang nina untuk di bersihkan.
" Bu, tolong keluar dulu, ayo keluar. Nanti saja kalau mau masuk." Ketus bidan, yang melihat ibu galang langsung masuk saat mendengar suara tangisan bayi.
" Silahkan pak, putri nya di adzan nin dulu." ucap perawat.
Galang pun meninggalkan nina yang sedang di bersihkan, dan menuju meja dimana anaknya di letak kan.
.
.
.
..
.
...Jangan lupa like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...