
" Ilmi, kamu itu gimana sih yang bener dong kalau habis mainan itu diberesin."
" Ilmi, jangan ganggu adiknya Jangan membuat adiknya menangis."
" Ilmi kamu sangat nakal."
" Ilmi jangan."
" Ilmi."
Hari ke hari, emosi Nina selalu tidak terkontrol, terlebih lagi saat dia mendapati tingkah laku Ilmi yang tidak biasa. Seperti, dia mulai menjahili sang adik. Dia tidak lagi mau membereskan mainannya atau dia tidak lagi mau belajar.
Hal itu membuat Nina semakin pusing dan selalu ingin marah-marah, ditambah dengan sikap bilang yang semakin hari semakin bertambah buruk.
Kondisi ekonomi yang semakin menurun membuat kilang jadi mudah marah dan selalu saja bertengkar jika Nina meminta uang untuk belanja.
" Ini. Dihemat, jangan boros boros." Ucap Gilang saat dia memberikan 2 lembar uang berwarna merah.
" Aku bisa saja hemat kalau seandainya Ilmi mau makan dengan sayur dan hanya dengan lauk tahu dan tempe. Apa kamu tahu jika Ilmi tidak suka semua itu."
" Ya, tapi kan Ilmi juga suka telur."
" Aku tahu, tapi apa jadinya Jika setiap hari aku memberi makan ilmiah dengan lauk telur. Kamu saja jika aku hanya memasak telur kamu selalu marah-marah."
Gilang lalu pergi keluar kamar karena tidak ingin lagi berdebat dengan Nina.
Beberapa bulan berlalu, Akifa kini sudah berumur 7 bulan. Dia sudah pandai merangkak, dah mulai merangkak ke sana ke. Akifa mulai aktif mengajar jika Dina sedang mengajari Ilmi bermain. Dan imbas dari sikap Nina yang selalu saja memarahi Ilmi, Ilmi berubah menjadi anak yang mudah marah.
Tak jarang Ilmi memukul sang adik jika sang adik tengah mengganggunya bermain ataupun belajar.
Yang dilakukan Nina justru semakin marah kepada Ilmi.
" Maafkan bunda ya nak, bunda tidak bermaksud untuk membentak Ilmi." Ucap Nina yang menangis saat malam hari setelah Ilmi tidur.
Dicium dan dipeluknya Ilmi oleh Nina. Nina berjanji akan berusaha mengontrol emosinya, namun janji tinggal janji. Perdebatan nya dengan Gilang yang terjadi hampir setiap kali Nina meminta uang, membuat Nina melupakan keinginannya untuk lebih mengontrol emosinya saat menghadapi kenakalan dari Ilmi.
__ADS_1
" Baru kemarin aku memberimu 300 ribu, dan sekarang kamu sudah minta uang lagi?. Kenapa kamu sangat boros Nina, kita bahkan tidak bisa menabung. Kita juga belum bisa membayar tunggakan kos. Kamu pikir mudah mencari uang?"
Sejak saat itu, Nina tidak lagi mau meminta uang kepada Gilang, jadi dia hanya akan menunggu bilang untuk memberikannya uang.
Setiap kali beras ataupun kebutuhan lainnya habis. Nina hanya keperluannya habis tanpa meminta uang dari Gilang.
" Pempes habis."
"Beras habis."
Hanya itu yang selalu Nina katakan. Hingga suatu hari, saat Gilang akan membuat teh pada malam hari.
" Nda gulanya habis."
" Ya memang habis."
" Kenapa tidak beli?"
" Ya karena uangku cuma cukup untuk membeli sayur saja, jika uang belanja aku gunakan untuk membeli gula maka aku akan kekurangan uang belanja." Ucap Nina.
Tanpa pikir panjang lagi Nina segera berjalan menuju toko cantik untuk membeli gula dan beberapa keperluan lainnya yang memang sudah habis.
Hal seperti itu terus berlanjut hingga Akifa berumur 10 bulan Jadi Nina tidak mengatakan secara langsung bahwa uangnya habis, jadi dia akan tetap diam hingga Gilang sendiri yang memberikan uang kepadanya karena bilang sendiri tahu bahwa kebutuhannya habis.
Dan Gilang memutuskan untuk tidak lagi bekerja bersama sang kakak, Gilang mencoba bekerja bersama teman nya. Dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Namun sayangnya, yang dirasakan Nina justru sebaliknya. Bukannya membuat ekonomi keluarga jadi lebih baik, justru semakin berantakan. Pekerjaan yang selesai dalam waktu yang cukup lama, serta penghasilan yang tidak menentu, membuat Nina dan Gilang semakin sering cekcok.
" Kenapa kamu tidak minta saja jika uangmu memang habis?" Tanya Tetangga Nina.
" Karena aku lelah, aku sudah lelah bertengkar dengan Gilang. Walau aku mengatakan banyak hal. Tapi tetap saja dia selalu ingin menang sendiri." Ucap Nina sedih
" Gilang tidak tahu pusingnya aku mengatur keuangan jika dia hanya memberikan uang 200ribu. Dan akan memberi lagi setelah satu minggu. Semua kebutuhan aku yang beli. Aku sebenarnya lelah, setiap minggunya aku harus meminta uang atau meminjam uang kepada ayah dan saudara yang lain demi bisa mencukupi kebutuhan ku dan anak anak."
" Coba kau ajak Gilang jika akan berbelanja keperluan dapur, dan lainnya."
__ADS_1
" Aku sudah sering melakukannya, tapi Gilang hanya diam saja tidak berkomentar. Namun, saat uang yang dia berikan padaku habis maka dia akan mengeluarkan kata-kata pedas nya lagi."
" Hmm, entahlah aku juga bingung dengan pemikiran para laki-laki. Mereka selalu menganggap bahwa uang yang mereka beri kepada kita sudah cukup untuk keperluan sehari-hari. Mereka tidak berpikir bahwa kebutuhan itu naik setiap harinya."
" Iya, aku juga sudah pernah mengatakan kepada Gilang, bawa harga sembako dan kebutuhan lainnya terkadang naik. Namun, dia hanya merespon dengan kata-kata yang menyakitkan seperti jangan pernah membeli barang atau makanan yang mahal lagi. Menyebalkan bukan?"
" Haha iya, sama saja seperti suamiku."
" Dari dulu, memang tidak bisa jika hanya mengandalkan penghasilan dari Gilang, tapi aku harus bagaimana. Aku sudah coba jualan online tapi tidak berhasil, karena jualan online itu butuh modal. Tidak mudah mendapatkan pembeli hanya dengan menjadi dropship."
" Bukak usaha."
" Usaha tambah membutuhkan modal yang besar, seandainya saja ada pekerjaan yang boleh membawa anak-anak aku pasti akan mengambil pekerjaan itu walaupun sebagai pembantu rumah tangga. Asal aku bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan ku dan juga untuk uang jajan Ilmi."
" Bunda minta uang beli jajan."
" Ya Tuhan Ilmi, Kenapa kamu jajan terus. Coba makan nasi, apa kamu tahu jika bunda sedang tidak punya uang."
Ilmi cemberut. Nina menghela nafas.
Hal itu sering terjadi, kadang Lina menjadi marah karena ilmu yang suka sekali minta uang untuk beli jajan.
Terkadang Nina sadar, anak kecil ni tahu apa soal keuangan orang tuanya. Tapi terkadang kesadaran Nina ditutupi oleh kekesalannya terhadap sikap Gilang, yang selalu saja tidak memberikan nafkah secara benar.
Nina sering menangis disetiap malam, tatkala Gilang masih belum pulang dari bekerja. Nina menyadari perbuatannya yang sering memarahi dan membentak Ilmi.
" Aku bukan ibu yang baik, aku ibu yang sangat buruk bagi anak-anakku. sampai kapan aku bisa bertahan dalam situasi ini?, dan kenapa Tuhan selalu saja memberikanku cobaan yang berat. Kapan aku bisa merasakan kan bahagia seperti keluarga yang lainnya." Lirih Nina sambil memandangi kedua buah hatinya yang sedang tertidur.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1