
Sore hari, seperti biasa Nina yang sudah mengemas rumah dan juga memasak untuk makan malam memilih untuk duduk bersantai di depan pintu rumah ibu kos. Dengan memangku Akifa, Nina memikirkan kembali bagaimana caranya agar dia dapat memenuhi kebutuhannya dan juga kedua putrinya tanpa harus menunggu uang dari Gilang.
" Dimana aku bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu agar aku juga mendapat penghasilan dan bisa mencukupi kebutuhan ku dan juga kedua Putri ku." Lirih Nina.
Ini adalah kesekian hari yang membuat pusing karena pertengkaran dengan Gilang perihal uang. Tadi siang bina bertanya baik-baik kepada girang apakah dia mempunyai uang untuk membayar iuran bulanan tempat mengaji Ilmi.
Namun bukannya dijawab dengan lemah lembut Gilang justru mengatakan hal yang membuatnya sakit hati.
" Aku tidak punya uang, aku harus bekerja dengan model bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan uang dengan cepat. Sekarang ini sudah akhir bulan Aku bahkan tidak mempunyai cukup uang untuk membayar kos. Belum lagi jika memikirkan uang sama untuk pulang lebaran. Setidaknya kita harus punya uang 3 juta untuk bisa pulang. Jika kita tidak punya uang sebanyak itu maka Jangan berharap untuk bisa pulang. Karena sepertinya sampai kapanpun juga kita tidak akan pernah bisa pulang jika hanya mengandalkan penghasilan dari bekerja ku." Ucap Gilang.
Waktu itu, Nina hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan dari Gilang. Karena jika Nina menjawab maka itu akan menjadi sebuah pertengkaran lagi. Dan Gilang pasti akan kembali menyalahkan Nina yang tidak mau bekerja membantu keuangan keluarga.
__ADS_1
Nina juga teringat perkataan dari inu mertua saat Gilang melakukan video call.
" Ya sudah buk, aku matikan ya karena jika terlalu lama nanti kouta dari Bibi habis."
" Tidak akan habis le, Bibi Mas sekarang sudah bekerja di rumah Mas Bimo."
" Lo mulai kapan bekerja?"
" Belum ada 1 bulan sih, tapi setidaknya kan enak jika Bibi mau juga ikut bekerja jadi ada jaga-jaga jika membutuhkan biaya mendadak untuk sekolah." Ucap Mertua dengan nada keras.
Sabar Nina, sabar jangan sampai terbawa suasana. Batin Nina.
__ADS_1
Nina lalu teringat perkataan dari mbak Ida. Mbak ida adalah saudara sepupu dari Ibu Nina. Tapi lebih nyaman manggil sepupu dari ibunya itu dengan sebutan kakak. Mbak Ida memberitahu Nina untuk bertekad bekerja di luar negeri merupakan Gilang, bangun dari keterpurukan dan bangkit dengan tangan kakinya sendiri untuk menghidupi kedua putrinya.
" Tapi aku takut jika kedua anak-anakku aku titipkan kepada ibuku keluarga Gilang akan mengambil nya." Ucap Nina.
" Tidak perlu takut dan khawatir Jika kamu sukses jika kamu bisa mau punya penghasilan sendiri dari kerja keras maka kedua anakmu akan mencarimu."
" Tuhan berikanlah aku petunjuk apa yang harus aku lakukan Haruskah aku bekerja ke luar negeri dan meninggalkan kedua Putri putriku?. Jika aku melakukan itu maka sama saja kejadian dulu yang menimpa ku akan terulang kembali kepada anak-anakku. Tapi jika aku tidak bertekad untuk bekerja ke luar negeri maka hidupku akan tetap seperti ini. Tuhan pilihan ini sungguh membuatku dilema, di satu sisi aku juga ingin bekerja sehingga mendapatkan uang agar aku bisa memenuhi kebutuhan ku dan juga kedua Putri ku. Tapi di sisi lain aku juga tidak ingin kejadian yang dulu menimpa terjadi kepada kedua putriku."
Malam itu, saat semuanya terlelap termasuk Gilang Nina terbangun di seperempat malamnya dan mengadu kepada sang maha pencipta, berharap dia akan mendapatkan petunjuk dari Tuhan.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...