
" Malam ini, bermalam lah disini, jalanan terlalu sepi jika aku mengantarmu pulang sekarang. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang" Ucap galang menemui nina, saat selesai acara tahlil.
" Kau si, menghilang. Dari tadi sore aku sudah mencari mu, untuk meminta di antar kan ke terminal. Sudah satu minggu kan aku tidak pulang." Ketus nina.
" Iya, aku terlalu sibuk berbaur dengan orang² yang datang. Tidak apa, malam ini menginap lah disini, kau boleh tidur di kamarku. Dan jangan lupa untuk mengunci pintu." ucap galang.
" Hmmm, baiklah." Karena memang jalanan menuju kota sangat sepi dan kala itu rawan begal, membuat nina terpaksa menginap di rumah galang.
...----------------...
......................
Keesokan harinya....
Rumah galang sudah ramai dengan orang yamg sibuk memasak guna menjamu para pelayat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.
" Apa kau sudah siap?." Tanya galang mengetuk pintu kamarnya.
" Sudah," Ucap nina sambil keluar dengan baju yang dibelikan depit di pasar pagi tadi. Karena baju nina semua kotor dan bau.
" Itu ibuku, kau berpamitan lah dulu pada beliau." Tunjuk galang.
Nina melangkah mendekati ibunya, yang sibuk memotong sayur mayur.
" Bu, saya pamit mau pulang" Ucap nina sopan.
__ADS_1
" Lo, terus kamu gak akan kesini lagi kalau sudah tujuh harinya bapakmu?." ucap ibu.
" Siapa dia ning?." Tanya seorang wanita yang terlihat lebih tua dari ibu galang.
" Ini lo mbak, pacar galang, dia yang menemaniku di RS, dan juga merawat suamiku. Dia juga yang wira wiri mengurus semua, termasuk bolak balik mengambil obat yang jaraknya 2km dari kamar rawat ke apotik." terang ibu depit kepada wanita, yang ternyata adalah kakaknya.
" Ooo, Terus ini mau kemana?." Tanya wanita tadi.
" Mau pulang." Jawap ibu galang.
" Loo, nduk. Menurut adat disini, kalau sudah terlanjur bermalam di rumah duka, harus menginap sampai selesai acara tujuh harinya, kalau tidak nanti.. bla bla bla bla bla.... "
Panjang lebar wanita itu menjelaskan, Author lupa hehe. Intinya pamali kalau di paksakan pulang.
Nina melirik galang, kemudian galang meng kode agar menuruti saja apa kata mereka.
Setelah menaruh kembali tas ranselnya di kamar galang, nina memilih berbaur dengan orang² di dapur.
Tiga hari berlalu, nina mulai terbiasa berbaur dengan anggota keluarga galang.
" Rajin sekali ya pasangan galang ini". Ucap wanita yang tak lain adalah kakak dari ibu galang.
" Nanti sudah rajin, eh tidak diangkat jadi menantu." kekeh yang lain. Nina hanya menyimak.
" Ohh tidak, setelah ini selesai biarkan pak jono datang meminta dia." Ucap ibu galang. Jono adalan suami dari adik ibu galang.
__ADS_1
" Nanti seperti dila, sering berkunjung disini, namun ujung²nya tidak jadi menantu." Jawap yang lain.
" Itu karena 'weton' mereka tidak baik dan tidak cocok." Jawap ibu galang.
Bla bla bla bla bla....
Mereka bicara hal yang tidak di mengerti, nina hanya menanggapi nya dengan senyum.
Satu minggu kemudian, keluarga galang benar² datang seperti yang ibu galang katakan. Mereka juga membawa seserahan. Nina sungguh tidak berpikir akan segera menikah dengan galang, karena rencana mereka dulu adalah menikah setelah hari raya.
Skip aja ya..
Setelah acara lamaran itu, galang dan nina mulai sibuk mengurus berkas untuk di serahkan ke kantor KUA. Karena tanggal pernikahan di tentukan 2 minggu, sejak acara lamaran yang sederhana itu.
...----------------...
......................
...Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1