
" Mau makan apa?" Tanya Nina saat hari sudah menjelang malam.
" Apa saja." ucap Gilang seperti biasa.
" Mie?"
" Bosan."
" Lalu apa?"
" Ayo kita beli makan diluar saja." Ucap Gilang.
" Ayo." Ucap Ilmi penuh semangat.
" Ya sudah ayo, segera lah bersiap siap." Ucap Gilang.
Nina tersenyum, dan segera memakai kan jaket dan sepatu Akifa, Gilang ilmu yang sudah selesai bersiap menunggu Nina di luar.
Mereka berangkat untuk mencari makan, sesampainya di senggol. Mereka memutuskan untuk makan nasi pecel ditempat biasa mereka datangi untuk makan.
Nina tidak bisa menikmati makan karena tingkah laku Akifa yang terlalu aktif.
" Ayo sini, biar aku gendong Akifa." Ucap Gilang.
Nina menyerahkan Akifa dan melanjutkan makannya.
Setelah itu, mereka segera menuju tempat bermain karena Ilmi meminta bermain.
" Aku mau menggambar ayah." Ucap Ilmi.
" Ya sudah, tanah menggambar bersama ayah, bunda akan naik odong-odong." Ucap Nina.
" Ya sudah." Ucap Gilang.
Mereka kemudian berpisah Ilmi bersama Gilang menggambar sedangkan Nina dan Akifa menuju tempat odong-odong.
__ADS_1
Nina melihat Gilang yang tengah membantu Ilmi untuk menggambar. Nina merasa hatinya damai. Seandainya hal seperti ini akan terus terjadi di dalam rumah tangga nya.
Sepulangnya Gilang juga membantu menjaga Akifa saat Nina sedang mencuci piring dan membersihkan tempat tidur.
Malam itu, dengan senang hati, Nina melayani Gilang sebagaimana mestinya. Melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
" Aku mau kerja dulu." Ucap Gilang.
Nina hanya mengangguk dan tersenyum, lalu melanjutkan menyuapi Akifa.
" Ayah aku mau ikut." Ucap Ilmi.
" Ajak saja, agar tidak selalu bermain." Ucap Nina.
" Ya sudah ayo."
Nina cukup lega, jika tidak ada Ilmi, maka tidak akan ada yang mengganggu saat Akifa akan tidur. Nina jadi punya waktu untuk bersantai dan menulis cerita.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo?, bagaimana kabar mu." Ucap nya.
" Baik, kalau kabar mu, bagaimana?" Tanya Nina.
" Baik juga, hubungan mu dengan suami bagaimana?"
" Ya, masih biasa saja. Hanya beberapa hari ini, mungkin suasana hatinya sedang membaik. Jadi kami tidak bertengkar selama beberapa hari." Ucap Nina.
" Baguslah kalau begitu, semoga saja kali ini Gilang benar-benar bisa berubah."
" Hmm, aku tidak yakin." Ucap Nina.
" Kenapa?"
" Aku sudah tahu Gilang. Tapi ya tidak ada salahnya jika aku berharap suasana seperti ini akan tetap terjaga."
__ADS_1
" Ya semoga saja. Ya sudah kalau begitu, aku harus meneruskan pekerjaan ku."
"Baiklah kalau begitu, aku juga akan meneruskan menulis novel." Ucap Nina.
" Ya sudah, aku tutup ya."
" Iya."
" Bye."
Setelah panggilan berakhir. Nina kembali melanjutkan menulis, walau kini semangat nya terasa semakin berkurang. Nina tidak menyangka, suasana hati juga mempengaruhi ide Nina dalam menuangkan tulisan.
Tin
Tin
Tin
" Ya ampun, token listrik nya sudah berbunyi."
Nina meletakkan ponselnya, dan membuka dompet.
" Ini tidak akan cukup untuk membeli token."
Nina lalu juga mengetahui jika cemilan Akifa juga habis. Tidak ada pilihan lain, karena tidak ingin merusak suasana baik yang sedang terjadi di antara Gilang dan dirinya. Membuat Nina memilih menukarkan uang receh untuk membeli token listrik dan juga cemilan untuk Akifa.
Setelah menghitung uang receh, Nina memasukkan nya ke dalam kantong plastik, dan menunggu Nina terbangun sebelum akhirnya memilih berjalan kaki untuk menukar uang receh dan membeli token dan cemilan untuk Akifa.
Semoga saja setelah ini Gilang pulang dan memberi uang. Jika aku yang meminta dulu, pasti perdebatan akan kembali terjadi. Batin Nina. Saat dalam perjalanan pulang dari toko Cantik yang ada di seberang jalan tempat kosnya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...