
Hari dimana sang ibu akan datang, menyerahkan uang sisa dari penjualan kalung.
" Alhamdulillah."
Dalam hati Nina mengucap syukur akhirnya dia mempunyai uang untuk membayar uang travel ibunya. Kemudian Nina menyisihkan sebagian dari uang itu dan meletakkannya di dalam tas yang berisi pakaian bayi.
Kedatangan ibu, menciptakan jarak antara Nina dan Gilang. Karena mereka sudah tidak dapat lagi untuk sekedar bercanda tawa ataupun berpelukan.
Hal itu membuat Nina kembali merasakan getaran cinta saat dia mengantarkan kopi ke tempat kerja Gilang. Sikap Gilang juga terlihat jauh lebih manis dari sebelumnya. Entah karena kehadiran sang ibu mertua, atau karena memang dia tidak dapat lagi berdekatan dengan Nina secara intens. Tapi hal itu cukup membuat hati Nina bahagia.
Dan ada perasaan senang dan juga ada perasaan yang tidak bisa digambarkan ketika sang ibu datang. Nina merasa ada jarak di antara dirinya dan ibu. Mungkin itu karena sebelumnya tidak pernah berkumpul bersama ibunya.
Nina pun berusaha tetap melakukan aktivitasnya seperti memasak dan menyapu, karena dia merasa sungkan jika sang ibu yang melakukannya.
" Disini kalau mau beli beli dimana? Indomaret jauh ya?"Tanya Ibu.
" Jauh, tapi di sini ada toko yang dekat tinggal menyeberang jalan raya saja. Namanya Toko Cantik. Apa ibu mau kesana?"
" Jauh?"
" Tidak. Hanya menyebrang jalan raya saja. Kalau Ibu mau pergi ayo kita sama-sama kesana dengan berjalan kaki."
" Ayo."
Siang yang tidak terlalu panas itu akhirnya Nina dan sang Ibu berjalan menuju toko cantik yang ada di seberang jalan rumah kost Nina.
" Oh ini. Jual apa saja?" Tanya ibu, saat mereka baru saja memasuki toko cantik."
" Ibu lihat saja, aku menjelaskan juga percuma nanti kan Ibu bisa melihat-lihat sendiri."
Setelah cukup lama, mereka akhirnya selesai dengan belanjaan masing-masing.
Saat Ibu akan membayar tagihan. Nina tidak memperbolehkannya dan langsung memberikan sejumlah uang miliknya kepada kasir.
" Ibu, aku sudah menyiapkan bumbu-bumbu untuk keperluan ari-ari nanti. Aku simpan semuanya di dalam kulkas. Dan jika di rasa bumbu yang aku sediakan kurang Ibu bisa membelinya di toko yang ada di belakang Kost. Nanti aku akan menunjukkan jalannya, tapi kalau misal pintu rumah ibu kos yang ada di sebelah kiri dibuka, Ibu lebih baik lewat sana saja jadi tidak perlu berjalan memutar." Ucap Nina.
" Pasarnya dimana, jauh?"
" Cukup jauh. Kalau Ibu ingin ke pasar kapan-kapan saja aku akan mengantarkan."
Selama beberapa hari, Nina semakin rajin jalan-jalan pagi, ataupun sekedar jongkok dan naik turun tangga.
Jika Nina merasakan kontraksi, dia langsung berjongkok atau pun membawanya untuk naik turun tangga. Namun Hingga H-2 HPL tiba, Nina masih belum juga merasakan kontraksi yang sebenarnya.
" Sudah sakit?" Tanya kakak ipar saat Mina berjalan-jalan pada malam hari.
" Sudah, namun aku masih belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan."
" Mungkin besok atau lusa, lihat perutnya sudah turun sekali." Ucap Tetangga Nina.
Nina hanya meng Amin kan perkataan dari tetangganya itu.
Pagi hari di HPL, Nina merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirnya. Namun hanya sedikit. Dan karena sakit nya masih belum teratur jadi Nina membiarkan hal itu.
" Sakit ya?, apakah kamu mau kita berangkat ke Klinik sekarang?" Tanya Gilang.
" Tidak."
" Kenapa?"
" Karena kontraksi ku masih belum teratur. Kita ke sana nanti sore saja, karena nanti sore adalah jadwal kontrol terakhir sesuai jadwal." Ucap Nina.
__ADS_1
" Kau yakin?" Tanya Gilang memastikan.
" Iya."
" Ya sudah kalau begitu aku akan kembali bekerja, temui aku kalau kamu memang sudah ingin diantar ke klinik." Ucap Gilang.
" Iya."
Hari itu, Nina merasa mulai tidak nafsu makan. Dan sore harinya, Nina dan Gilang pergi ke klinik. Ilmi tidak ikut karena takut neneknya akan pulang jika Ilmi tinggal pergi.
" Sekarang HPL nya ya bu.." Ucap Bidan.
" Iya."
" Ada keluhan?" Tanya bidan satu lagi.
" Tadi pagi keluar L*ndir dan sedikit d*rah. Tapi rasa sakit nya masih belum teratur."
" Ayo bu, diperiksa dulu."
Nina lalu mengikuti bidan, dan berbaring dengan hati hati di ranjang.
" Kepala sudah masuk sekali, tinggal nunggu mungkin sebentar lagi. Kalau bisa nanti USG ya bu, untuk melihat kondisi air ketuban. Karena hari ini adalah HPL nya."
" Baik bu."
Setelah selesai mendapatkan penjelasan dari Bidan. Nina keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menemui Gilang.
" Gimana, apa bidan sudah menyuruh untuk membawa barang-barang bayi?" Tanya Gilang.
" Belum, bidan menyarankan agar kita melakukan USG sekali lagi untuk mengetahui kondisi bayi dan juga air ketuban."
" Hmm, padahal sekarang hari perkiraan lahir nya tapi kenapa bayi ini belum juga mau keluar?" Ucap Gilang sambil mengelus perut Nina.
" Semoga saja. Jadi apa sekarang kita pulang?"
" Iya, aku takut jika Ilmi menangis mencari kita."
" Ya sudah ayo."
Malam harinya, Nina mulai merasakan kontraksi dengan frekuensi teratur. Namun Nina tidak panik, karena dia juga belum mengeluarkan kembali tanda-tanda kelahiran seperti sebelumnya. Nina juga masih bisa tidur dengan tenang, namun tepat pukul 12 Mina terbangun karena perutnya sudah terasa kencang dan jauh lebih sakit dari sebelumnya. Nina bangun dengan hati-hati dan menuju kamar mandi, dia merasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahirnya.
Dan benar saja, lend*r bening disertai d*rah keluar. Namun Nina masih mampu menahan sakitnya. Dan selama 2 jam Nina menahan rasa sakit yang terus-menerus semakin terasa menyiksa. Hingga sang Ibu tak ada jika Nina bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandi.
" Kenapa?" Tanya Ibu.
" Pinggang ku terasa sangat sakit."
" Kemari dan duduklah biarkan Ibu memijat mu."
Nina menurut kemudian dia duduk disebelah ibu dan Ibu mulai memijat Nina.
" Apa sudah lebih baik?"
" Ya, sudah terasa jauh lebih."
Kenyamanan yang Nina rasakan hanya bertahan selama beberapa menit saja. Sakit itu kembali datang dan semakin bertambah menyiksa Nina. Hingga Gilang terbangun.
" Ada apa?, Kenapa kamu terbangun ini masih pukul 3 pagi."
" Perut dan pinggang ku terasa sakit."
__ADS_1
" Mungkin Nina mau melahirkan." Ucap Ibu.
" Apa kamu mau kita berangkat ke klinik sekarang?" Tanya Gilang.
Nina memejamkan mata sebelum akhirnya mengucapkan iya.
" Ya sudah aku bersiap dulu." Ucap Gilang yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, tidak mandi. Hanya menyikat gigi dan mencuci muka.
Ibu kemudian membantu Nina mengeluarkan tas yang akan dia bawa.
Ceklek...
" Lo tumben keluar, apa sudah mau melahirkan?" Tanya pak Budi tetangga kost.
" Seperti begitu. Ayo tolong antarkan. Sebentar aku meminjam mobil kakak dulu "
Gilang lalu mengetuk pintu kamar kakaknya dengan hati-hati dan mengatakan keperluannya untuk meminjam mobil karena Nina akan melahirkan.
" Lo sudah sakit ya?" Tanya kakak ipar, saat datang melihat ke kamar Nina.
" Iya, sepertinya Nina sudah merasa kesakitan sejak pukul 12. Karena tadi aku sempat melihat Nina bolak-balik ke kamar mandi. Dan lihat, bahkan daster yang Nina pakai sudah penuh dengan dar*h." Terang Ibu, sedangkan Nina hanya diam karena menahan sakit yang luar biasa menyiksa.
" Semoga lancar melahirkan nya."
Nina hanya bisa membalas doa dari sang kakak ipar dengan senyuman.
" Mobilnya sudah siap, ayo." Ucap Pak Budi.
" Ilmi dimana?" Tanya kakak Gilang.
" Itu tidur." Jawab ibu.
" Ibu ikut saja dengan Nina ke klinik, Ilmi biar aku yang menjaga." Ucap kakak Gilang.
" Iya ikut saja Bu, siapa tahu Gilang perlu bergantian menjaga Nina." Imbuh kakak ipar.
" Tapi disana hanya 1 orang yang boleh menunggu." Ucap Gilang.
" Ya coba saja, siapa tahu. karena ini malam jadi boleh 2 orang yang menunggu." Imbuh kakak ipar.
" Ya sudah ayo." Ucap Gilang. Sedangkan Nina hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang berkali-kali lipat.
Ibu segera memakai baju panjang dan juga kerudung, lalu dengan hati-hati menuntun Nina untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil pun bergerak dengan kecepatan sedang menuju klinik bumi sehat.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
* Lucu sih, karyaku yang satu ini dapat pemberitahuan jika karya ini sedang dipromosikan. Jujur, tidak berharap dipromosikan sih. Karena ini sebenarnya bukan cerita yang terlalu menarik, dan mungkin tidak semua orang suka dengan alur ceritanya yang terkesan santai dan bertele-tele. Tapi dari lubuk hati saya sebagai penulis yang paling dalam. Saya ucapkan terima kasih kepada yang sudah berkenan untuk membaca tulisan ini yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. ❤️🤗🤗🤗
...Jangan lupa ...
...like...
...Komen...
__ADS_1
...Vote...
...hadiah...