
" Pokoknya besok aku mau pulang. Jika kamu masih ingin disini terserah padamu saja. Kemasi barang ku, aku akan pulang besok pagi." Ketus Gilang, saat Nina menolak untuk pulang.
Setelah mengatakan itu, Gilang keluar dari kamar dan duduk di teras rumah.
Dengan menangis, Nina mengemasi barang-barang miliknya dan milik Ilmi.
" Loh, kenapa baju mu juga diberesin?" Tanya Gilang
" Ya. Jika aku tidak ikut pulang bersama mu pasti kamu akan marah marah dan mengataiku segala sesuatu yang menyakiti hati." Ketus Nina tanpa melihat kearah Gilang.
Hingga keesokan harinya saat mereka dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Gilang, Nina membeli untuk terus diam. Nina hanya berkata ya atau tidak di setiap pertanyaan yang Gilang lontarkan.
" Mau mampir ke taman?" Tanya hilang saat mereka pulang dengan melewati kota dan alun-alun.
" Hmm."
" Aku tidak butuh jawaban Hmmm, aku butuh jawaban iya atau tidak."
" Pulang pulang sajalah aku capek. Dan Aku ingin segera istirahat." Ketus Nina.
Sesampainya di rumah Nina langsung masuk ke dalam kamar tanpa mencari Ibu mertuanya.
" Kenapa istri mu,?"
Samar samar Nina mendengar Ibu mertuanya bertanya kepada Gilang tentang sikapnya yang tidak biasa.
" Ya biasa karena aku mengajaknya pulang mungkin dia masih belum puas bertemu dengan ibunya."
" Sudah tahu dia masih rindu kepada ibunya Kenapa kamu mengajaknya pulang?"
" Aku malas berada di sana di sana itu bukan rumahku lagipula rumahnya itu terlalu pelosok sangat sepi jauh dari jalan raya. Mau kemana-mana jauh. Aku bosan." Ketus Gilang.
__ADS_1
Nina hanya bisa menangis saat mendengar penuturan dari Gilang.
Karena tidak ingin terus larut dalam kesedihan, Nina memilih membongkar barang bawaannya.
Nina juga membawa bekas pakaian Ilmi waktu masih bayi yang dia temukan di dalam koper di rumah nya. Lalu mencari lagi pakaian bayi Ilmi yang ada di rumah mertuanya itu.
" Hmm, ternyata baju bayi ini masih lumayan banyak. Jadi aku hanya perlu membeli beberapa saja, yang tidak ada." Gumam Nina.
Nina kemudian meletakkan pakaian bayi milik Ilmi dulu di kantung plastik. Karena dia akan mencucinya besok lalu akan memasukkannya ke dalam tas jadi jika suatu saat sang kakak ipar mengajaknya untuk kembali ke Bali Nina tidak perlu lagi mengemasi barang-barang milik bekas Ilmi.
Tiga hari berlalu, namun Gilang masih belum mendapat kepastian dari kakaknya kapan mereka akan kembali ke Bali. Sedangkan bilang sudah mengoceh karena uang mereka sudah menipis namun sang Kakak belum juga mengajaknya kembali.
" Mungkin masih repot." Ucap Ibu Gilang saat Gilang mengomel karena sang kakak tidak kunjung mengajaknya kembali ke Bali.
" Ya, kakak enak uangnya banyak. Punya simpanan. Sedangkan aku, Aku sama sekali tidak mempunyai tabungan. Bahkan aku tidak bisa menabung untuk persiapan melahirkan."
" Ya sabarlah siapa tahu nanti ada rezekinya dari si cabang bayi."
" Ya kamu kenapa nambah anak kalau memang ekonomi mu masih belum berkecukupan."
" Jangan salahkan aku, salahkan saja Nina Kenapa dia tidak mau ber KB."
Pembaca pasti tahu bagaimana perasaan Nina saat mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh Gilang. Bagaimana mungkin Nina disalahkan atas kehamilan yang terjadi, dan menyalahkan Nina karena Nina tidak mau ber KB. Bukankah sejak awal mereka sudah sepakat. Dan kenapa di saat genting Gilang justru menyalahkan Nina.
Nina bahkan tidak dapat lagi mengingat kapan terakhir kali Gilang membelanya, atau pun mengatakan hal baik tentang Nina di hadapan keluarganya. Karena Nina selalu saja mengetahui bahwa Gilang tidak pernah memuji Nina, Gilang justru membuat Nina semakin terlihat buruk dimata keluarganya. Tidak bukan hanya dimata mertua dan adiknya ataupun keluarga sang kakak. Tapi, bilang membuat Nina terkesan buruk di semua keluarga dari ibunya.
Selama satu hari penuh, Nina menyibukkan diri menata pakaian bayi ke dalam tas. Nina tidak menghiraukan lagi ocehan Gilang dan juga Ibu mertuanya.
" Biarkan saja mereka membicarakan ku dengan kata-kata apapun. Terserah mereka mau membicarakan apa di belakangku. Lagipula aku berbuat baik atau tidak tetap saja selalu menjadi bahan obrolan. Perilaku ku tidak pernah benar Dimata Gilang ataupun ibunya. Jadi lebih baik mulai sekarang aku akan bersikap cuek. Sebentar aku akan memiliki satu lagi seorang anak yang akan menceriakan hari-hariku." Ucap Nina yang menyemangati dirinya sendiri.
Dua hari kemudian, Nina akan kembali ke Bali.
__ADS_1
" Aduh barang bawaan nya kenapa banyak sekali. Mobilnya tidak akan muat." Keluh kakak ipar saat melihat barang bawaan Nina.
Sebenarnya tidak banyak, hanya satu ransel ukuran sedang, satu koper kecil, dan 3 tas kecil berisi pakaian bayi.
" Sebenarnya barang bawaan ku tidak banyak. Ini terlihat banyak karena aku tidak memiliki tas yang besar. Satu ransel itu berisi pakaianku dan Gilang. Koper berisi pakaian Ilmi. Dan sisanya juga pakaian milik bayi. Dan yang di kantung hitam itu kan kasur yang kakak berikan." Ucap Nina.
" Hmm, ya nanti biarkan para lelaki yang menatanya."
Nina: merasa jika sang kakak ipar keberatan dengan barang bawaan Nina yang banyak.
Seandainya dulu aku memaketkan sebagian barangku mungkin hal ini tidak akan terjadi. Batin Nina.
Dan, hingga Nina keluar untuk membantu membawakan barang bawaannya. Sang mertua dan adik serta adik iparnya juga mencela karena barang bawaan Nina yang sangat banyak. Nina merasa dirinya berada di tengah-tengah lingkaran orang-orang yang membully nya.
Nina hanya tersenyum agar air matanya tidak terjatuh, dan juga menjelaskan Kenapa barang bawaannya bisa banyak. Tapi walaupun Nina menjelaskan panjang lebar pun tidak berguna. Karena tidak satupun dari mereka yang mengerti, termasuk Gilang yang justru menyalahkan Nina karena terlalu banyak membawa pakaian bayi.
Dalam perjalanan kembali merantau. Kakak ipar laki laki selalu mengomel tak kala dia membuka pintu bagasi, tas Nina yang berisi pakaian bayi selalu terjatuh. Kakak ipar juga sering membuka bagasi mobil untuk melihat burung yang dia bawa nya.
Dimana mana, pastilah yang miskin yang selalu tertindas, Jika boleh memilih Nina tidak ingin pulang bersama dengan kakak iparnya. Karena Nina pastilah sudah mengerti apa yang akan terjadi, namun karena Kakak Gilang memintanya untuk pulang bersama karena salah satu dari anak kembar mereka tidak ada yang menggendong. Dan Begini lah nasib jika pulang pergi menumpang di mobil orang.
Lain kali, lebih baik aku pulang naik travel saja. Tidak apa-apa membayar asalkan tidak terjadi hal hal yang mungkin sedikit membuat hati terluka. Batin Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
......................
__ADS_1