Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Aku ibu yang jahat


__ADS_3

Perlahan lahan, Nina mulai bisa menghilangkan emosi setelah marahnya. Nina berusaha untuk sahabat yang tidak menangis saat Akifa rewel.


Hingga, saat Akifa sudah berumur 3 bulan. Dia tidak pernah lagi rewel saat malam hari.


Nina tersenyum bahagia. Namun kebahagiaan itu selalu saja dirusak oleh Gilang.


" Kamu itu, kok tidur terus kerjaannya. Ilmi itu lo diperhatikan diajari belajar lagi masak kamu enak-enakan tidur sedangkan Ilmi kamu biarkan bermain kesana kesini seperti anak liar saja." Ucap Gilang, saat Nina baru saja menidurkan Akifa.


" Iya aku tahu, Aku baru saja menidurkan Akifa."


" Alasan saja kamu ini."


Nina hanya terdiam karena dia tidak ingin meneruskan perdebatan mereka.


Akhirnya Nina yang awalnya ingin beristirahat sebentar jadi keluar untuk mencari Ilmi dan mulai mengajarinya belajar membaca lagi.


" Dasar tidak becus." Umpat Gilang saat mendengar Nina sedikit membentak karena Ilmi tidak mau mendengarkan perkataan Nina.


Nina terdiam, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sesi belajar untuk hari itu. Dan menyuruh Ilmi untuk tidur siang bersama dengan sang adik.


Hari berganti hari. Semakin lama sikap Gilang selalu saja membuat Nina kecewa. Hal itu membuat Nina sering kali memarahi dan membentak Ilmi saat dia tidak bisa membaca ataupun lupa menulis huruf.


Hingga suatu malam, Bima menangis sambil memeluk Ilmi, dia tahu bahwa marahnya dia kepada Ilmi imbas dari kekesalannya kepada Gilang.


Namun, Nina bukanlah manusia yang berhati malaikat. Dia menyesal saat malam hari namun mengulanginya lagi saat siang hari.

__ADS_1


" Aku adalah ibu yang jahat. Aku selalu memarahi dan membentak Ilmi." Ucap Nina di suatu malam sambil menangis di dalam kamar mandi.


Bulan berikutnya, bulan itu adalah minggu ketiga bulan puasa. Ibu hina mengirimkan sejumlah uang karena menginginkan Nina dan juga anak-anaknya untuk pulang agar bisa merayakan lebaran bersama sang ibu. Karena Nina tidak pernah merasakan bagaimana rasanya lebaran bersama ibu selama beberapa tahun lamanya, dan saat sang Ibu baru saja pulang yang ke tanah air. Nina dan Ilmi tidak dapat pulang karena saat itu itu masih dalam situasi panas akibat covid.


Setelah melewati sedikit perdebatan dengan Gilang, Gilang akhirnya mengizinkan Nina untuk pulang.


Dan tahun itu merupakan tahun pertama bagi Nina setelah sekian tahun lamanya Nina akhirnya dapat merasakan lebaran bersama dengan ibunya. Namun, tahun itu juga menjadi tahun pertama bagi Nina dan juga Ilmi merayakan lebaran tanpa suami.


Malangnya, saat hari lebaran Nina jatuh sakit, hal itu membuat Nina tidak bisa bersilaturahmi ke rumah saudara saudara Nina. Akhirnya Dina hanya tinggal diam di rumah bersama Akifa dengan ditemani hilang melalui panggilan video call.


Satu Minggu setelah lebaran. Nina mendapat kabar bahwa Gilang dan kakaknya akan pulang dalam akhir bulan ini.


" Jadi kapan kamu mau pulang ke rumahku?" Ketus Gilang.


Hah, Ilmi sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi di mana Gilang akan selalu marah-marah jika Nina tidak kunjung kembali ke rumah Gilang.


" Ya sudah. Uang mu masih ada kan?"


" Ada tapi tinggal sedikit."


" Ck, kenapa sih kamu itu selalu saja boros enggak di Bali enggak di Jawa. Ya sudah Aku akan mengirim uang nanti Dan tolong di hemat-hemat."


" Iya."


Hari dimana Nina harus pulang ke rumah sang suami pun tiba. Walaupun sebenarnya Nina enggan untuk kembali, tapi dia tetap harus kembali ke sana untuk mengurus akte kelahiran Akifa dan juga berencana membuat KK sendiri. Karena Nina sudah bertekad untuk membuat KK sendiri, dan tidak perlu menjadi satu dengan KK Ibu mertuanya.

__ADS_1


" Kamu itu, sudah tahu suamimu masih seperti itu apalagi lagi dia tidak memberikanmu nafkah dengan benar, kenapa kamu masih saja bertahan dengan nya." Ucap Ibu pada malam sebelum Nina akan kembali pulang.


" Tidak apa apa, untuk saat ini aku bisa sabar karena aku sedang menunggu akte kelahiran Akifa dan juga KK baru. Selama ini KK ku jadi satu dengan ibu mertua."


" Ya sudah, yang penting kamu selalu ingat jika kamu sudah tidak tahan dengan sikap Gilang maka pulanglah karena kamu masih punya orang tua.Dan aku masih sanggup untuk membiayai hidupmu dan juga kedua anakmu. Tinggalah disini temani adikmu maka aku akan kembali merantau untuk mencukupi kehidupan mu dan juga anak-anakmu." Ucap Ibu.


Nina terdiam, dia menangis dalam tidurnya.


Ibu seandainya saja kita punya rumah sendiri, pastilah aku sudah dari dulu pulang pada ibu. Karena rasanya aku sudah tidak sanggup bertahan pada pernikahan. Anak kedua bukalah jembatan untuk membuat hubungan aku dan Gilang menjadi lebih baik. Tapi justru membuat pujian ku bertambah. Gilang semakin menjadi-jadi. Bukan Aku tidak ingin menyerah sekarang, Aku ingin sekali Bu. Tapi seandainya aku pulang kepada ibu dan ibu memutuskan untuk kembali merantau. Siapa yang akan membelaku saat aku kembali di hakimi oleh keluarga Gilang. Aku merasa bahwa Aku tidak mempunyai cukup orang untuk mendukungku. Aku takut mereka akan mengambil anak anakku. Karena Gilang selalu mengancam akan memisahkan aku dari anak anak bu. Aku harus bagaimana Batin Nina.


Berada di rumah mertua seakan berada di dalam penjara bagi Nina, karena setiap gerak-gerik Nina merasa banyak pihak yang mengawasinya. Namun Nina berusaha untuk tidak memperdulikan nya, karena apapun yang dilakukan Nina pastilah buruk dimata mereka.


Ditengah rasa ketidaknyamanan Nina, Nina mendapat kabar bahagia. Bahwa esok hari di balai desa akan ada Dispenduk. Jadi Nina bisa membuat akte dan juga KK tanpa harus ke kota dan menunggu lama.


Dengan semangat Nina mendatangi balai desa dan mulai mengumpulkan berkas-berkas untuk persyaratan pembuatan akte dan juga membuat KK baru.


Nina tersenyum lega, setelah akhirnya menunggu selama kurang lebih 3 jam, akte Akifa dan juga KK baru yang hanya ada ada nama Gilang dan Nina serta anak-anaknya pun jadi. Rasa lelah karena harus bolak-balik meminta tanda tangan dari RT dan RW juga lelah mengantri serta berdesak-desakan tidak lagi dirasakan oleh Nina saat melihat akte dan KK itu kini berada di tangannya.


Akhirnya, aku mempunyai KK sendiri, jadi aku tidak lagi merasa khawatir jika suatu saat aku akan pergi dari kehidupan Gilang. Karena semua berkas-berkas aku yang memegang. Batin Nina.


...----------------...


...----------------...


Ups, apakah Nina berencana untuk pergi dari hidup Gilang?

__ADS_1


Entahlah, hanya waktu yang akan menjawabnya...


__ADS_2