
" Aku akan pergi memancing." Ucap gilang.
" Kok mancing terus sih, memangnya nggak ada pekerjaan ya."
" Gak ada."
" ya kalau nggak ada coba cari ke yang lain daripada memancing terus."
" kamu itu lama-lama kok makin bawel sih. Kamu itu nggak usah ngurusin urusan ku, terserah aku mau kerja Aku mau mancing. Itu bukan urusanmu, daripada aku main perempuan karena bosan, lebih baik aku pergi memancing menghilangkan jenuh."
Itulah yang selalu terjadi saat Nina menanyakan kenapa Gilang selalu saja memancing.
Akhirnya Nina hanya melihat kepergian Gilang, tentang perasaan yang tidak bisa dibuka kan dengan kata-kata.
" Kenapa ini terjadi padaku, Apa salahku?. Kenapa aku mempunyai suami yang hanya mencari kesenangan yang sendiri." Lirih nina.
" Bunda, ngaji?" Ucap ilmi yang membuyarkan lamunan dari Nina.
" Iya sayang, ngaji."
Karena tidak ingin terus menerus larut dalam kesedihan, nina akhirnya memilih untuk bersiap diri mengantar Ilmi mengaji.
Malam hari,
Gilang mendekati nina, Gilang memijat kaki Nina.
" kakiku tidak sakit punggung ku yang sakit." Ucap nina.
" Ya sudah sini aku pijatkan." Ucap gilang.
Nina tau maksud dari perlakuan lembut gilang, dia pasti ingin meminta haknya.
Dengan rasa malas, nina akhirnya mendekat kearah Gilang.
Setelah gilang selesai memijat Nina. Gilang kemudian melucuti pakaian Nina, dan mulai meminta haknya.
Nina berusaha melayani suaminya dengan baik, walau sebenarnya hatinya enggan.
Nina merasa sudah tidak ada lagi getaran cinta saat mereka melakukannya.
Nina merasa, Gilang baik saat ada butuhnya saja.
__ADS_1
Dan hal itu benar, Gilang memilih tidur di sisi lain, setelah mendapatkan haknya.
Itu membuat nina terluka.
...
Drrttt drrrtt drrrttt
Ponsel Nina berdering, panggilan dari adik bungsu sang ibu.
" Nina lagi apa?"
" Lagi santai aja, kenapa te?"
" gak ada, aku cuma mau mengembalikan uang yang pernah aku pinjam pada mu, nanti kirim nomor rekening bank yaa?"
" Baiklah."
" Bagaimana kabarmu dan suami?"
" Ya, masih sama seperti yang biasa nya."
" Ya, karena dulu ibu punya rumah dan orangtua yang siap membela. Kalau aku, akan pulang kemana?, wong ibu saja pulang ke rumah mertua nya."
" Iya juga sih. Ya sudah kamu sabar saja. Semoga gilang bisa berubah dan menyayangi kamu."
" Amin. Terimakasih doa nya."
" Sama sama, ya sudah, aku tutup telpon nya ya, jangan lupa segera kirimkan nomor rekening bank mu."
" Baik."
Tut
Setelah panggilan di matikan, nina segera mengirimkan nomor rekening bank nya, kepada Tante.
Nina meletakkan ponsel nya, lalu berbaring di samping ilmi, dan memeluk nya.
" Haruskah aku melakukan apa yang ibu lakukan?"
Sejak hari itu, nina mulai menghibahkan pakaian nya dan ilmi yang tidK pernah dipakai, dan yang masih layak pakai tentu nya, melalui grup di sosmed.
__ADS_1
Saat pulang ke jawa juga, nina menghibahkan pakaian nya dan juga ilmi yang ad di rumah mertua nya. Sehingga pakaian nina dan ilmi hanya tersisa beberapa.
" Aku ingin pulang ke rumah." Ucap Nina, saat mereka tengah berada di rumah gilang.
" Kamu itu, mau ngapain pulang terus."
" Memang nya kenapa jika aku ada dirumah ku? lagi pula aku tidak melacurkan diri."
" Jaga bicara mu." Ketus gilang.
" Memang benar kan!, setiap aku pulang ke rumah ku, kau selalu curiga, seakan akan, aku disana akan menjual tubuhku."
" Dengar, kau itu sudah bersuami. Kalau wanita sudah menikah dan ikut suami, dia tidak boleh pulang kerumahnya lagi, haram hukum nya."
" Tapi bagaimana jika aku merindukan keluarga ku?"
" Ya aku harus menemani mu, kau tidak boleh kesana sendiri."
" Aku tidak suka jika dengan mu, kau tidak pernah mau lebih lama jika berada disana."
" Tentu saja. untuk apa aku berlama lama dirumahmu. Tidak ada gunanya. Lebih baik ada disini, menemani ibuku." Ketus gilang
Nina memilih masuk kamar dan mengunci pintu, karena tidak ada gunanya berdebat dengan Gilang. Dia pasti selalu ingin menang.
" Dasar istri durhaka. Mau nya menang sendiri." Umpat gilang dengan suara lirih. Namun masih terdengar jelas di telinga nina.
Nina membuka lemari, dan memastikan tidak ada lagi pakaian milik nya dan ilmi. Nina lalu mencari foto pernikahan nya. Dan menggunting foto pernikahan nya menjadi potongan potongan kecil.
Selalu saja, sang mertua yang dijadikan senjata oleh gilang.
Selalu mengatakan jika ibunya hanya sendirian dirumah. Lalu apa bedanya saat dulu Gilang belum menikah, bukankah ibu nya memang sendiri, ah tidak. Ibunya masih tinggal bersama anak bungsu nya.
" Kenapa selalu aku yang mengalah demi menyenangkan hatimu dan ibumu. Sampai kapan aku harus mengalah. Aku juga ingin bahagia, aku juga ingin merasakan kehangatan bersama dengan adikku. Jika dia mencari wanita yang mau menemani ibu nya, kenapa dia tidak menjadikan ku pembantu?, kenapa dia malah menjadikan ku istri."
Nina menangis setelah dia selesai menggunting semua foto pernikahan nya menjadi potongan kecil.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1