Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Seandainya Waktu Dapat diputar (Flashback Nina)


__ADS_3

Tidak ada wanita yang tidak menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Terutama Nina, nina yang lahir dan besar di keluarga broken home sangat berharap bisa menemukan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecil nya sendiri.


" Suatu saat jika kamu sudah dewasa, pilihlah laki-laki yang benar menyayangimu. Agar kehidupanmu jauh lebih baik dari yang sekarang." Ucap Nenek.


" Iya nek."


" Ya sudah ayo makan."


Malam itu, Nina makan malam bersama neneknya dengan lauk sambal.


Nina yang masih duduk di bangku SMP, hanya menanggapi perkataan neneknya dengan ya dan mengangguk. Karena dia masih tidak tahu apa-apa tentang memilih laki-laki yang tepat dan benar.


" Kakek, aku berangkat ke sekolah dulu ya." Ucap Nina, kakek hanya mengangguk dan memberi Nina selembar uang yang bernilai 2.000.


" Ini keranjang kuenya, dan jangan lupa minta uang kue kemarin." Ucap Nenek.


" Baik nek."


Setiap hari, setiap berangkat ke sekolah Nina selalu membawa keranjang kowe dan mengantarkannya ke pasar. pasar dan sekolah wah yang searah membuat Nina tidak malu untuk membawa kue dari rumah dan mengantarkannya ke pasar sebelum akhirnya ke sekolah.


" Hati hati ya, nanti mama jemput."


" Iya ma."


Cup


Seorang ibu terlihat mencium pipi anaknya.


" Sudah sana, belajar yang rajin ya."


Anak tadi tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya melambaikan tangan dan masuk ke halaman sekolah.


Nina yang kebetulan ada di sana dan melihat kejadian itu menjadi sangat miris, dadanya terasa sesak. Sungguh dia ingin sekali berada di posisi anak itu. Tapi apalah daya, Nina mengenal orang tuanya tapi tidak pernah tahu rasanya tinggal bersama orangtuanya.


" Nina, kok disini? ayo masuk." Ucap Ika yang mengagetkan Nina.


" Ayo"


Di dalam kelas, Nina lebih banyak diam. Karena dia tidak tahu apa yang harus dibagi jika mengobrol bersama dengan teman-temannya.


Rata rata, temannya membahas soal kegiatan keluarga ataupun tentang acara TV yang dina bahkan tidak tahu apa itu. Karena di rumah yang minat tinggal di tidak ada televisi.


" Eh kantin yuk, aku rasakan timnya sudah cukup sepi Sekarang." Ucap LuLuk, teman Nina.


" Enggaak ah, kalian aja. Aku tidak punya uang untuk membeli jajan." Ucap Nina.


" Sudah ayo, hari ini aku diberi uang sangu lebih. Jadi aku yang akan teraktir."


" Asik."


Nina dahulu sangat senang kemudian mereka bertiga sama-sama berjalan menuju kantin.


Nina tidak tahu jika sedari tadi rimba mengawasi gerak-gerik Nina.


" Nina, nanti sore kamu ada di rumah enggak?. Kita belajar kelompok bareng yuk." Ucap Ika.


" Boleh, aku pasti akan senang jika kita belajar bersama jadi aku tidak akan merasa kesepian saat di rumah." Ucap Nina.


" Apa aku boleh ikut?" Ucap Rimba yang tiba-tiba saja datang.


" Cie cie.."


Ika dan Luluk jadi menggoda Nina, siapa yang tidak tahu dengan kisah Rimba dan Nina. Rimba yang begitu menyukai Nina namun tidak mendapat balasan yang baik dari Nina.

__ADS_1


Entahlah, Nina hanya merasa malu atau mungkin minder jika teman-teman di kelasnya menggoda dirinya dan juga Rimba.


Nina tidak tahu, dan tidak akan pernah menyangka bahwa Rimba lah yang selalu setia mendengarkan keluh kesannya terhadap kehidupan.


Jika di ingat, kejadian di masa SMP Nina sangatlah memalukan. Dimana Nina selalu saja berusaha menghindari Rimba, namun terkadang juga mencoba mencuri perhatiannya. Namun Nina dan Rimba sama-sama tidak mau mengakui perasaannya.


Hingga saat kelulusan, entah bagaimana ceritanya tapi ini na benar-benar kehilangan kontak dengan Rimba.


Dan Nina juga lupa kapan kali terakhir dia memulainya, namun Nina dan Rimba sudah kembali berkomunikasi.


Bahkan setelah lulus sekolah SMA. Rimba sering mengajak Nina untuk jalan-jalan. Walau sekedar nongkrong di cafe atau mengcopy film yang ada di warnet, hal itu berlangsung setelah satu tahun kelulusan mereka. Rimba yang sudah berada di semester akhir tingkat kuliahnya. Sedangkan Nina masih belum mendapatkan pekerjaan lagi.


" Nina, apa kamu mau ikut untuk melihat kampusku?. Hari ini aku ada jadwal kampus. Kalau kamu mau ikut aku akan menjemputmu satu jam lagi."


" Bolehkah?" Ucap Nina yang sangat bersemangat saat Rimba menelepon dan mengatakan akan mengajaknya ke kampus.


" Tentu, Jadi kau bisa merasakan bagaimana Jadi anak kampus selama 1 hari."


" Boleh."


" Ya sudah kalau begitu bersiap-siaplah aku akan menjemputmu satu jam lagi lalu kita akan segera berangkat, oh ya jangan lupa untuk membawa laptop aku akan mengajakmu untuk mengambil film yang ada di warnet."


" Oke."


Setelah panggilan berakhir, Nina segera mengemasi laptop dan juga beberapa alat make-up yang mungkin akan dia butuhkan nanti.


Dalam perjalanan menuju kampus Rimba yang jaraknya sekitar 1 jam dari rumah Nina, mereka saling bercanda tawa dan juga bertukar cerita. Hingga saat mereka sudah tiba di kampus Rimba, Nina menolak saat Rimba mengajaknya untuk masuk kelas. Karena Nina takut akan ketahuan oleh dosen bawah Nina bukanlah siswi dari kampus itu.


" Aku akan menunggumu di luar saja." Ucap Nina.


" Jangan, kalau kamu memang tidak mau masuk aku akan mengantarkanmu ke kosku saja, jadi kamu bisa beristirahat sambil menonton film di laptopku, bagaimana?"


" Tapi aku takut."


" Baiklah."


Rimba akhirnya kembali untuk mengatakan Nina ke kosnya, setelah memastikan Nina akan baik-baik saja Rinda kemudian pergi karena jadwal kelasnya akan segera dimulai.


Dua jam kemudian, Nina terkejut karena kedatangan Rimba.


" Maaf ya, sudah membuatmu menunggu terlalu lama."


" Tidak apa apa."


" Pergilah cuci mukamu lalu kita akan makan siang lalu pergi ke warnet seperti yang aku janjikan." Ucap Rimba.


" oke."


Mereka kemudian kembali berkendara dan singgah sebentar di rumah makan sederhana. Setelah nya, simbah langsung melajukan motornya ke warnet di mana di sana terdapat banyak film.


" Ini lagu nya bagus, jika aku mendengarkan lagu ini aku seperti merasa ada di dalam lagu itu." Ucap Rimba saat dirinya dan Nina sudah mendapatkan satu meja yang kosong, dan Rimba yang terlihat menggunakan earphone mendengarkan sebuah lagu.


" Benarkah?, apa judul lagunya?"


" Just give me a reason." Ucap Rimba sambil memaasang earphone pada Nina.


" Hmm, lagunya bagus."


" Mirip Seperti kisah kita." Lirih Rimba, Nina bedengan nya namun dia pura-pura tidak mendengar.


Satu jam berlalu, setelah puas mengcopy film. Rimba mengajak Nina untuk beristirahat di rumah bibi nya. Sore hari, setelah mereka selesai mandi, Rimba mengajak Nina untuk menikmati pemandangan sore hari di atas bukit Rembangan.


" Rimb, aku rasa mungkin takdir kita memang jadi seperti ini." Ucap Nina saat mereka tengah menikmati pemandangan kota di atas gunung.

__ADS_1


Semilir angin membuat suasana hati keduanya menjadi sangat tenang dan sepertinya memang waktu yang pas untuk berbicara tentang masa depan.


" Apa maksud mu?"


" Ya lihat kita. Kita ini apa?, teman? sahabat? kekasih juga bukan. Terkadang kita terlihat seperti saudara saat saling menguatkan satu sama lain. Terkadang juga kita terlihat seperti teman. Sesekali terlihat seperti sepasang kekasih. Namun, bisa kita mengucapkan perasaan masing-masing selalu saja diwaktu yang tidak tepat."


Nina terdiam, memejamkan mata dan membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya. Nina masih ingat betul kejadian dulu, saat Rimba menyatakan perasaannya saat itu Nina sedang bersama dengan Yongki. Dan jauh sebelum itu Nina juga pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rimba, dan itu Rimba sudah memiliki seorang kekasih.


" Tapi, setidaknya aku bahagia karena aku tahu bahwa kamu juga menyayangiku, sama seperti aku yang menyayangimu."


Nina tersenyum dan menatap Rimba.


" Kau tahu, mungkin memang takdir kita harus seperti ini dan tetap seperti ini. Kita saling mencintai namun Tuhan tidak menghendaki kita untuk bersama. Dan aku juga tidak ingin kehilangan sosok seperti dirimu, kamulah satu-satunya yang dapat mengerti aku lebih dari siapapun."


" Nina, tapi aku berharap suatu saat nanti aku bisa, tidak tidak kita bisa bersama."


" Rimba, Aku tidak akan tega jika harus melihat intan tersakiti. Bagaimana pun juga aku tahu dia sangat mencintaimu. Jadi Aku mohon pertahankan dia dan bahagiakanlah dia."


" Tapi bagaimana denganmu?" Ucap Rimba.


" Aku?, aku akan baik-baik saja. Kau hanya perlu membantu mendoakanku agar kelak aku juga mendapatkan seseorang yang begitu mencintaiku seperti intan yang mencintaimu."


Rimba menatap Nina.


" Besok aku akan ikut training di Surabaya selama 3 bulan."


Nina menatap Rimba, keduanya cukup lama saling menatap sebelum akhirnya kembali menatap pemandangan kota, di mana lampu lampu rumah dan lampu jalan mulai hidup.


Nina menatap wajah Rimba dengan saksama.


" Lalu Kenapa kamu merasa sedih?, bukankah seharusnya kamu senang karena sebentar lagi kuliahmu akan tuntas."


" Tidak kah kamu merasakan kesedihanku?, 3 bulan. Itu artinya aku tidak akan bertemu denganmu."


" Ck, Rimba waktu 3 bulan itu sangat singkat. Percayalah setelah ini kita pasti akan dapat bertemu."


" Hmm,"


Rimba terdiam, Nina tersenyum lalu mengelus-ngelus bahu Rimba.


" Boleh aku tidur di pundakmu?" Tanya Rimba. Nina menatap Rimba sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengangguk.


Nina memejamkan mata, dan mungkin juga Rimba melakukan hal yang sama.


Dua orang yang sejatinya saling mencintai, namun tidak pernah menjadi satu pasangan.


Mungkin takdir memang tidak menginginkan mereka untuk bersama.


...Flashback off...


Nina selalu saja menangis, jika mengingat kisahnya dengan Rimba. Kadang terbesit dalam pikiran Nina untuk membukukan kisahnya dengan Rimba. Tapi butuh waktu tenang dan santai untuk dapat kembali mengingat kisahnya dengan Rimba.


Semoga suatu saat keinginan Nina untuk menuliskan kisahnya dengan Rimba dapat tercapai.


" Seandainya aku dapat memutar waktu, mungkin aku akan kembali di masa aku harus mengenal cinta. Sehingga aku dapat memperbaiki segalanya. Dan tidak terjebak dalam pernikahan yang terasa hampa ini." Lirih Nina di sepertiga malam nya.


" Tuhan, berikanlah aku kesabaran dan ketabahan yang melimpah. Jadi kan aku pribadi yang kuat dalam menghadapi setiap cobaan yang kau berikan, Aku percaya pasti akan ada terang dalam gelap. Dan aku yakin pasti akan ada secercah kebahagiaan yang akan aku dapatkan hari ini." Imbuh Nina


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2