Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Hanya Gertakan


__ADS_3

" Aku sudah membatalkan travel nyam" Ucap Gilang saat Nina hampir selesai memasukkan semua pakaiannya dan milik Ilmi.


" Apa maksud mu?"


" Kurang jelas?. Aku membatalkan travel nya. Jadi kau akan tetap berada di sini."


Brak !!


Nina melempar koper yang baru saja ditutup.


" Apa maksud mu?"


" Dengar, jika kau pulang itu artinya kau ingin Ilmi tidak punya ayah."


" Memangnya kau mau mati sehingga bicara seperti itu?"


Gilang menghampiri Nina dan memeluknya dari belakang.


" Jika kau pergi itu artinya kau sudah siap untuk bercerai dengan ku."


" Memang aku sudah siap."


Gilang melepaskan pelukannya dan menatap Nina.


" Kau serius dengan perkataan mu?"


" Bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku harus pergi dari hadapan mu."


Gilang menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.


" Aku hanya bercanda."


Nina tersenyum tipis.


" Kenapa setiap aku benar benar sudah muak, kau selalu mengatakan jika itu hanya sebuah candaan. Kau pikir hatiku ini apa?, seenaknya saja kau menarik ulur."


" Nina. Apa kau ingin jika Ilmi tidak punya ayah?, kamu senang?"


" Aku pasti akan mencarikan nya ayah baru.

__ADS_1


Hening.


Kata kata Nina mungkin seperti belati yang menusuk ke dalam relung hati Gilang. Terbukti Gilang langsung diam seribu bahasa.


" Bunda ayo, katanya kita mau pulang ke rumah tante dwi." Celoteh Ilmi yang baru saja pulang dari bermain.


" Tidak jadi." Ketus Nina sambil menendang koper yang ada di hadapannya.


" Lo, Kenapa?"


" Tanyakan saja kepada ayahmu."


Brug !!


Setelah mengatakan itu Nina menjatuhkan dirinya di atas kasur dan menyibukkan diri dengan bermain ponsel.


" Ayah, Kenapa kok Ilmi tidak jadi pulang ke rumah tante dwi?"


" Karena ayah tidak ingin berpisah dengan Ilmi."


" Ayah jahat, Ilmi tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah Tante Dwi."


" Hiks hiks hiks." Ilmi mulai menangis.


Gilang mendekati Ilmi


" Maafkan Ayah, ayo kita pergi beli es krim mau? atau Ilmi ingin naik odong-odong?, Ilmi boleh bermain sepuasnya di sana."


" Benaran?" Ucap Ilmi sambil menghapus air matanya.


" Iya."


" Ya udah, ayo."


" Coba tanya kepada bunda apakah bunda akan ikut?" Ucap Gilang.


" Bunda, bunda mau ikut aku beli es krim?"


" TIDAK." Jawab Nina tanpa melihat ke arah Ilmi dan terus sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


" Ayah, bunda tidak mau ikut."


" Ya sudah ayo dengan ayah saja."


Setelah Ilmi mengenakan jaket serta kerudung dia dan hilang kemudian segera pergi meninggalkan kamar kos menuju tempat yang dikatakan Gilang tadi.


Sepeninggal mereka, Nina mulai menangis.


Kenapa aku begitu lemah, Kenapa aku tidak mempunyai keberanian untuk pergi dari sini. Hiks hiks, seandainya saja salah satu orang tuaku ada di Indonesia. Mungkin Aku tidak akan menderita seperti sekarang. Mama, papa. Kenapa hidupku selalu seperti ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku merasa bahagia.


Nina semakin larut dalam kesedihan nya, terkadang dia menyalahkan sang ayah karena dulunya membatalkan perjodohannya dengan seorang laki-laki yang kini sudah beristri dan hidup bahagia yang tinggal di pulau nan jauh disana.


Nina terus saja menangis hingga dirinya terlelap. Dia bahkan tidak menyadari saat Ilmi dan Gilang sudah pulang dari bermain.


Pagi harinya, ada yang aneh dari sikap Gilang. Dia berubah menjadi laki laki yang manis.


" Hari ini Tidak usah masak aku sudah membelikan nasi bungkus untuk sarapan." Ucap nya saat melihat Nina terbangun.


" Hmm."


Nina hanya berdehem lalu bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Nina selesai mandi, Gilang memeluknya.


" Maafkan aku Nina, aku sungguh sungguh menyesal."


Nina Hanya terdiam. Sungguh hatinya sudah lelah dengan drama Gilang.


Karena Nina sudah hafal, sikap manis tilang hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah itu gilang akan kembali ke sifat normalnya lagi.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Maaf ya, kalau ceritanya pendek-pendek. Karena ini ini murni kisah penulis sendiri, jadi terkadang masih dipilah-pilah mana yang pantas dituang dalam tulisan ataupun tidak.


Terima kasih, penulis ucapkan an-najah yang sudah berkenan untuk mampir dan membaca tulisan ini.

__ADS_1


__ADS_2