
Dua hari kemudian, Gilang mengajak Nina untuk mengunjungi orang tua Nina. Tentu saja Nina sangat senang karena Nina sudah sangat merindukan sang ibu.
" Berapa hari disana?" Tanya mertua saat Nina dan Gilang sudah siap untuk berangkat.
" Berapa hari nda?" Tanya Gilang sambil menatap Nina.
" Ya berapa hari kek gitu." Ucap Nina.
Setelah mengatakan itu, Lina memilih untuk masuk ke dalam mengambil selimut yang akan mereka jadikan untuk alas duduk. Karena jok sepeda milik adik Gilang sangatlah tipis. Dan perjalanan yang jauh pastilah membuat bokong terasa panas dan pegal.
Samar samar Nina mendengar obrolan Gilang dan juga Ibu mertuanya yang mengatakan kalau bisa jangan lama-lama berada di sana, karena sang ibu mertua takut jika Kakak Gilang akan datang dan mengajak mereka untuk jalan-jalan.
" Memangnya kenapa sih kalau lama?, toh itu juga dirumah sendiri, walaupun ngontrak tapi setidaknya kan di sana ada keluargaku sendiri. Kenapa ibu mertua selalu saja membuat keadaan semakin memburuk. Gilang saja sudah enggan untuk mengunjungi orang tuaku, ditambah dengan omongan sang ibu. Pastilah aku di sana tidak lebih dari 3 hari." Lirih Nina sambil menangis, meratapi nasibnya yang selalu tidak bisa lebih lama berkumpul bersama keluarganya.
" Kami pamit bu." Ucap Nina sambil menyalami Ibu mertuanya.
" Hemm."
Ibu matanya seperti tidak rela melepas kepergian Gilang dan Ilmi.
Nina tidak mau mempermasalahkan hal itu, dia langsung naik ke atas jok sepeda motor yang sudah siap berangkat.
Perjalanan panjang, di tengah jalan ban sepeda yang mereka kendarai bocor.
" T*ik.., Anj*ng."
" ****."
Gilang terus saja mengumpat karena kesal, membuat Nina menyadari bahwa sesungguhnya Gilang enggan untuk mengunjungi orang tuanya.
" Kamu sama Ilmi naik bis aja nanti aku akan menyusul kalian." Ucap hilang beberapa saat setelah dia selesai mengeluarkan kata-kata kasar dan banyak kata yang tidak pantas diucapkan saat berada di dekat anak-anak.
" Tidak kita cari bengkel bersama-sama saja, lagi pula rumah kontrakannya sudah pindah kamu tidak akan tahu. Daripada nanti kita sama-sama bingung mencari posisi dimana dan dimana lebih baik kita berangkat bersama saja."
" Ya sudah terserah."
Gilang lalu menuntun sepedanya sedangkan Nina mengandeng Ilmi agar tidak berjalan terlalu dekat dengan jalan raya.
" Itu sepertinya bengkel." Tunjuk Nina.
" Ohya."
Nina akhirnya bisa tersenyum lega, karena dia tidak lagi harus mendengar Gilang yang terus saja mengumpat karena kesialan yang mereka alami.
" Kenapa mas?" Tanya tukang tambal ban.
" Bocor."
" Ohya, saya periksa dulu ya."
Setelah tukang tambal ban itu membongkar ban sepeda milik adik Gilang.
__ADS_1
" Ohya, lihat ini bocor nya di tempat bekas tembelan."
" Besar gak lubangnya?"
" Ya lumayan. Bekas lubang yang dulu itu terbuka. Ini peleng sepeda nya juga bukan yang aslinya. Ini juga bisa membuat ban rawan bocor.
" Ya sudah, ganti ban dalam saja. Biar cepat, soal nya perjalanan kami masih jauh." Ucap Gilang.
" Oke, tapi tunggu sebentar ya karena saya harus mengambil ban di dalam rumah."
" Jauh?"
" Enggak, hanya di belakang rumah yang besar itu saja."
" Baiklah."
Sepeninggal tukang tambal ban, Gilang menelpon adiknya dan dia terlihat marah marah. Karena sang adik tidak becus mengurus sepeda, hingga sepeda nya menjadi rusak.
Tak lama kemudian, tukang tambal ban kembali. Setelah memasang ban dalam baru. Gilang dan Nina pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Nina.
" Ini kan jalan nya." Tanya Gilang.
" Iya. Pelan pelan jalannya karena aku sedikit lupa belokannya."
Gilang melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Nina menoleh ke kanan kiri mengingat patokan jalan di mana dia harus berbelok.
" Lah, itu jalan nya kelewatan." Ucap Nina sambil menepuk-nepuk punggung Gilang.
" Huh, kamu itu gimana sih yang bener kamu itu kalau lihat." Ucap Gilang dengan nada marah.
" Lalu ini gimana sekarang kita sudah melewati nggak terlalu jauh." Kata Gilang masih dengan nada marah.
" Ya sudah kita belok kiri setelah ada Indomaret saja." Ucap Nina.
Karena jalannya memutar, tentu saja hal itu membuat bilang semakin marah. Dan saat mengetahui jika rumahnya terlalu masuk kedalam Gilang semakin mengomel. Nina berusaha untuk tidak menghiraukannya.
" Keluarga mu itu gimana sih, setiap mengontrak rumah selalu saja terlalu masuk ke dalam. Tidak pintar memilih rumah atau bagaimana?"
" Aku tidak tahu yang jelas mereka mencari rumah kontrakan sesuai dengan keuangan yang ada." Ucap Nina.
Begitu Nina dan Ilmi tiba, Ibu langsung menyambut mereka dengan suka cita. Setelah bersalaman Gilang langsung meminta izin ke kamar mandi.
" Kak, Mama belum masak mau beli bakso atau rujak?" Bisik Dwi.
" Terserah, sedapatnya aja dan ini uangnya." Ucap Nina sambil memberikan selembar uang berwarna biru kepada adiknya.
" Pegang saja dulu sementara pakai uangku, Ilmi ayo ikutan teh nanti Tante belikan Ilmi es krim."
" Hore.."
Nina langsung membantu melepas jaket Ilmi. sepeninggalan Ilmi Lina membawa masuk tas yang berisi pakaian mereka.
__ADS_1
" Istirahatlah dikamar." Ucap Nina saat melihat bilang sudah keluar dari kamar mandi.
" Iya, nanti saja." Ucap Gilang.
" Nina, suamimu dibuatkan teh atau kopi?" Tanya Mama yang sudah menghidupkan kompor hendak memasak air.
" Sebentar aku tanya."
Nina lalu mendatangi Gilang yang terlihat sedang merokok di teras rumah.
" Mau kopi lagi?"
" Teh saja."
" Hmm, baiklah."
Setelah mengetahui apa yang yang Gilang mau, Nina segera berjalan kembali menuju dapur dan mengatakannya kepada sang ibu.
" Ma, aku akan melahirkan di Bali."
" Kenapa?"
" Karena di sana ada klinik yang bisa bayar seikhlasnya."
" Oh ya sudah, nanti aku yang akan datang ke sana untuk merawatmu."
" Ohya ma, jika Gilang masih belum bisa mengumpulkan uang untuk biaya persalinan ku, aku minta ijin untuk meminjam kalung yang telah ibu berikan kepada Ilmi. Nanti, kalau aku ada rezeki lain aku akan menggantinya."
" Iya, gunakan saja. Lagipula itu kan sudah aku berikan kepada Ilmi."
" Ya, walaupun sudah diberikan Tapi tetap saja kan aku harus meminta izin kepada yang memberi."
" Iya pakai saja, mama juga tidak bisa membantu apa-apa kepadamu."
" Cukup dengan datang dan membantu ku menjaga Ilmi saat aku akan melahirkan saja sudah membuatku senang." Ucap Nina sambil tersenyum kepada sang ibu.
" Ya sudah ini, berikan teh nya kepada suamimu."
Nina menerima gelas berisi teh dan mengantarkannya kepada Gilang.
Mama, seandainya aku bisa aku ingin memberitahumu tentang segala sesuatu yang aku rasakan. Maafkan aku mama, karena sejauh ini aku masih saja terus merepotkanmu. Batin Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
__ADS_1
...kasih like dan komen...
...Juga vote, dan hadiah...