Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Gilang setuju


__ADS_3

Brak !!


Gilang menutup pintu dengan kasar.


Brug !!


Dia mendorong Ilmi ke kasur, Ilmi menangis. Nina yang baru saja selesai muntah menjadi terkejut dan langsung menghampiri Ilmi.


" Kamu itu punya anak dijaga. Kok bisa anak dibiarkan main sama anak laki laki, sampai ke jalan jalan. Didik anak yang betul. Kamu ini anak semakin liar. Ilmi itu nakal. Bandel, anak liar."


Brak !!


Gilang kembali keluar rumah dan menutup pintu dengan keras.


" Ilmi.."


" Bunda.."


Ilmi langsung memeluk Nina.


" Ilmi gak main ke jalan Ilmi cuma lihat di pinggir aja. Lalu ayah tiba-tiba datang dan menjewer telinga Ilmi." Ucap Ilmi.


" Iya sayang, tenanglah."


Nina terus mendekap ilmi. Dan menenangkan nya.


Hari berlalu, bulan juga berganti.


Usia kandungan Nina sudah menginjak 4 bulan. Dan terjadi sedikit perdebatan.


" Bulan depan kita pulang bersama kakakku, bagaimana kalau kau melahirkan di rumah saja." Ucap Gilang.


" Kenapa?, Melahirkan di klinik bumi sehat saja. Disana kan bisa bayar seikhlasnya atau semampunya kita."


" Kamu siapa yang merawat. Ibuku Tidak mungkin mau datang ke sini ibuku sudah tua tidak keluar perjalanan jauh." Ucap Gilang


" Ibuku yang akan datang sini. Lagipula coba pikirkan di sini kita itu bisa menghemat biaya daripada melahirkan di Jawa."


" Kok bisa?"


" Kamu tahu, dulu saat Ilmi Puput pusar aku menghabiskan uang 2jt. Saat Ilmi berumur 40hari aku menghabiskan hampir 5juta. Padahal acaranya tidak besar Hanya mengundang tetangga kanan-kiri dan juga depan belakang." Terang Nina.


Gilang terdiam.

__ADS_1


" Kalau disini, kita kan bisa jika hanya membuat beberapa piring saja dan dibagikan kepada tetangga. Itu bisa membuat kita menghemat. Sesuai dengan kondisi keuangan kita." Imbuh Nina.


hilang kembali terdiam dan sepertinya dia sedang memikirkan perkataan Nina. Padahal mereka sudah berulang kali membahas tentang melahirkan di sini. Tapi, hilang selalu saja berubah-ubah pikiran.


" Bukan aku tidak mau melahirkan di rumahmu. Tapi, lihatlah kondisi perekonomian kita. Dan seandainya aku melahirkan di rumah, kita harus mempunyai uang sedikitnya lima juta. Dan juga setidaknya memiliki uang simpanan lain minimal 1 juta untuk biaya travel. Itu belum termasuk nanti jika membuat pacar aku putus asa dan Selatan. Itu saja sudah berapa?"


" Huft..."


Gilang terlihat menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Nina memilih keluar dan menemani Ilmi bermain, membiarkan Gilang berpikir. Bahwa keinginannya agar Nina melahirkan di rumah itu justru membuat pengeluaran mereka semakin bengkak.


Beberapa minggu setelah nya.


"Nda, minggu depan kita pulang bersama dengan kakak. Jika kau tidak usah mampir ke rumahmu dulu dah langsung pulang ke rumahku bagaimana?. Jadi kita akan pulang ke rumahmu beberapa hari setelah kita sampai."


" Ya, kan aku menggendong kembar tentu saja kita langsung pulang ke rumahmu." Ucap Nina dengan senyuman walaupun sebenarnya hatinya terasa sakit dengan kenyataan itu. Karena Nina tahu jika Gilang tidak pernah mau lebih dari 2 hari untuk bermalam di rumahnya.


Hingga, hari di mana mereka semua akan pulang pun tiba. Mereka pulang dengan menumpang mobil milik kakak Gilang. Nina mengendong salah satu dari anak kedua kakak ipar yang kembar.


Perjalanan panjang dan melelahkan. mereka tiba di kampung halaman Gibran tepat pukul 1 dini hari.


Setelah bersalaman dengan Ibu mertua dan mencuci muka. Nina segera masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Nina memutuskan untuk membongkar barang bawaannya besok aja, rasa lelah yang teramat berat membuatnya memilih untuk segera beristirahat.


Keesokan harinya, Nina sudah berusaha bangun pagi. Namun, saat Nina terbangun kakak ipar dan ibu mertuanya sudah sibuk memasak.


" Iya, aku mau mandi dulu badanku rasanya lengket semua. Apa ada orang di kamar mandi?" Tanya Nina.


" Tidak ada, mandilah sana " Ucap ibu mertua.


Nina lalu mengajak Ilmi untuk mandi. Setelah Nina memandikan Ilmi terlebih dahulu, Gilang terlihat mengetuk pintu. Dan membawa serta kembar.


" Sana mandi sama Tante." Ucap Gilang.


Nina lalu memandikan si kembar. Setelah itu dia teriak memanggil bilang untuk meminta. Namun yang datang justru kakak ipar dan langsung membawa si kembar.


" Sudah mandi?, pasti dingin ya.." Tanya Kakak ipar.


" Disini airnya dingin." Ucap Nina.


" Apalagi dirumahku, aku setiap pulang anak-anak selalu aku mandikan air hangat. Karena airnya sangat dingin sekali apalagi kalau musim hujan." Ucap Kakak ipar


" Sudah ayo, tante mau mandi." Ucap Kakak ipar.


Setelah selesai mandi, Nina lalu mengambil piring untuk menyuapi Ilmi. Nina mencari cari Ilmi dan ternyata ini berada di rumah belakang, dan sedang bermain bersama dengan Tina. Anak dari sepupu Gilang yang usianya hampir sama dengan Ilmi.

__ADS_1


" Aduh, tidak pernah pulang tidak pernah terdengar kabarnya. Tahu tahu sudah hamil saja."


" Iya. Gara gara keseringan lokdown." Kekeh Nina.


" Sudah berapa bulan?"


" Lima."


" Berarti nanti setelah ini ditinggal di sini?"


" Tidak, ikut kembali ke bali. Kembar itu tidak ada yang mengendong.,"


" Oo.."


Setelah selesai menyuapi Ilmi. Nina kembali pulang untuk sarapan.


Setelah sarapan, Nina bergabung bersama dengan kakak ipar, Ibu mertua serta si kembar.


" Sebentar lagi cucu ibu akan bertambah satu." Ucap Kakak ipar


" Iya."


Lalu Gilang datang dan bergabung bersama.


" Nanti ibu ke bali?" Tanya Kakak ipar.


" Lo, ngapain ke bali?" Tanya ibu.


" Kan Istri Gilang melahirkan di Bali."


" Lo iya Gilang?" Tanya mertua kepada Gilang. dan Gilang mengangguk.


" Aku kira melahirkan disini."


" Di bali saja. Karena di sana ada klinik yang bayar seikhlasnya."


Nina tersenyum lega, karena akhirnya gelang menyetujui untuk melahirkan di Bali.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2