
Sesampainya di Klinik, Nina langsung menjalani tes rapid. Supir dan Ibu Nina terpaksa pulang karena hanya suami yang boleh menunggu.
" Silahkan duduk dulu bu, kita lakukan tes dulu ya." Ucap bidan.
" Kapan terakhir kali periksa ke sini?" Tanya bidan yang satu lagi yang tengah melihat buku kontrol milik Nina.
" Tadi sore." Ucap Nina sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit.
" Oh, ini tadi yang saya suruh USG ya?"
" Iya."
" Maaf ya." Ucap bidan saat dirinya mengambil sampel darah Nina.
Nina tidak merasakan sakit akibat robekan kecil yang dibuat oleh bidan itu. Karena kontraksi yang dialami oleh Nina jauh lebih sakit dari sayatan pisau kecil di tangan Nina.
" Jadi apa itu sudah melakukan USG, seperti yang diperintahkan?"
" Belum. Suami masih belum mendapatkan uang, jadi rencananya hari ini akan melakukan USG."
" Emm ya sudah tidak apa apa."
" Hasil tes negatif ya." Ucap Bidan yang bertugas melakukan pengecekan terhadap Nina.
" Ayo bu, kita pindah ke ruangan sebelah."
Ya Tuhan, aku pikir akan disuruh berbaring di sini, tapi kenapa justru berpindah-pindah tempat lagi. Apakah bidan itu tidak tahu jika aku merasakan sakit yang luar biasa?. Batin Nina.
Dengan bantuan Gilang, Nina berjalan hati-hati hingga mereka tiba di ruangan yang berada di seberang ruangan tadi.
" Berbaring disini, hati hati."
Dengan hati-hati Gilang membantu Nina untuk naik ke atas ranjang.
" Kita cek pembukaannya dulu ya?"
" Buka 4. Atur nafas ya bun, dan silakan berbaring menghadap kiri, bapak boleh memijat lembut punggung ibu ya, sembari menunggu pembukaannya lengkap."
Setelah mengatakan itu, kedua Bidan itu pun keluar dari ruangan Nina.
Nina melihat ke arah jam, pukul setengah 4 dini hari.
Nina mencoba menahan rasa sakit yang terus menerus datang. Namun, rasa sakit itu tidak tertahankan hingga Nina menangis. Nina merengek layaknya anak kecil yang merasa kesakitan. Gilang semakin bingung. Ditambah Nina yang tidak mau berbaring di ranjang, dia lebih suka duduk di atas toilet duduk.
Setiap kali, Nina mencoba untuk berbaring, rasa sakitnya semakin datang dan semakin menyiksa Nina. Akhirnya Gilang membiarkan Nina untuk duduk diatas toilet.
" Apa rasanya sakit sekali?"
" Iya, rasanya berkali-kali lipat. Padahal dulu aku melahirkan Ilmi tidak sesakit ini."
Nina terus mengerang kesakitan, membuat Gilang semakin bingung Dan panik.
" Sakit sekali, huhuhu..."
Nina mencubit bahkan sesekali mencakar bahu Gilang. Nina terus merasakan sakit hingga dia sesekali mengejan. Lalu seorang bidan datang dan mungkin ingin melihat perkembangan dari pembukaan jalan lahir Nina.
" Lo, Kenapa ada di kamar mandi Kenapa tidak tidur di atas ranjang saja?" Tanya bidan itu.
" Katanya kalau dibawa berbaring sakitnya semakin parah." Ucap Gilang.
" Sakit sekali ya?, apa sudah mau mengejan?"
" Iya, hiks hiks hiks." Ucap Nina sambil menangis.
" lo jangan menangis, nanti tenaga nya habis."
Dan tanpa sadar Nina mulai mengejan.
__ADS_1
" Lo jangan mengejan disini. Ayo kita kembali ke ranjang lagi."
Dengan hati-hati Gilang membantu Nina untuk kembali tidur di atas ranjang.
" Buka saja pakai ibu pak, tutupi dengan kain ini saja." Perintah Bidan.
Nina melihat ke arah jam, pukul 6 kurang 15 menit
Seperti nya bayi ini akan lahir di jam yang sama dengan Ilmi. Batin Nina
Nina lalu mulai mengikuti instruksi yang diberikan oleh bidan.
Nina berjuang keras, hingga akhirnya Nina dapat mengeluarkan bayi nya.
oeekk...oek...oek...
Nina tersenyum dan bernafas lega, rasa sakit itu berangsur-angsur hilang seiring dengan suara tangisan dari bayi.
" Bayi nya perempuan. Anak pertama ya?" Ucap Bidan.
" Kedua." Ucap Gilang dan Nina bersama.
Bidan lalu meletakkan bayi itu di atas dada Nina dan langsung menyuruh Nina untuk melakukan IMD.
Sementara bidan itu mulai membersihkan jalan lahirnya Nina, dan memberikan sedikit jahitan sana. Lalu datang bidan lain yang bertugas untuk mencatat waktu kelahiran bayi.
" Bayi nya lahir bertepatan dengan hari ibu." Ucap Bidan yang bertugas mencatat kelahiran bayi.
Nina tersenyum. Dia mengelus rambut putri kecilnya.
" Tiga jam lagi, kalau Ibu tidak merasa pusing silakan mencoba untuk berbaring kanan dan ke kiri. Lalu bangun dari posisi tidur ya. Dan jika masih belum 3 jam, Jangan pernah bergerak ataupun bangun." Ucap Bidan setelah selesai menjahit bagian Nina.
" Iya bu."
" Kalau begitu kami permisi dulu, kalau ada apa-apa silakan bapak datang ke ke posko yang ada di sebelah kanan ruangan ini."
" Iya."
Drrrttt drrrttt drrrttt Ponsel Gilang berdering. Gilang sedikit menjauh jauh lalu mengangkat panggilan itu.
Setelah Gilang kembali, Nina meminta tolong untuk diambilkan ponselnya. Karena Nina ingin mengabadikan moment pertama dari kehidupan bayinya yang sudah keluar dari kandungan.
" Aku akan merokok di depan, telepon aku jika kamu butuh sesuatu."
Nina mengangguk. Lalu mulai mengambil foto serta video bayinya yang terlihat terbangun.
Nina tersenyum, karena saat melahirkan Ilmi dulu, Nina tidak sempat untuk mengabadikannya.
Nina lalu mengirim foto serta video Putri keduanya itu ke grup keluarga. Serta membagikan melalui status aplikasi hijau.
Tring
Tring.
Nina menerima banyak sekali pesan dari sanak saudara dan juga teman yang mengucapkan selamat atas kelahiran Putri keduanya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo yah, ada apa?" tanya Nina saat mengetahui Gilang nelponnya.
" Video bayi kita yang kamu jadikan status kirimkan kepadaku."
" baiklah."
Tut.
Gilang mematikan telepon, lalu Nina segera mengirim beberapa foto dan video yang sempat direkam tadi kepada Gilang.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
" Permisi, ini sarapan untuk ibu dimakan ya." Ucap seseorang yang datang dan langsung meletakkan makanan di meja sebelah kiri Nina
" Terima kasih."
Tak lama kemudian Gilang sudah kembali.
" Ini makanan untuk siapa?" Tanya Gilang.
" Untukku."
" Oh, Aku kira makanan ini untukku." Kekeh Gilang.
" Haha, ada-ada saja. Yang melahirkan karena aku, tentu saja aku yang dapat makanan."
" Ya kali aja. Apa kamu akan memakannya?"
" Ya, Aku sangat lapar."
" Kalau begitu ayo aku akan menyuapimu."
Gilang lalu membuka tudung saji yang menutupi makanan itu. Nasi merah tema tekstur mirip tekstur untuk bayi yang berusia 9 bulan keatas dengan lauk telur dan tomat, serta buah semangka.
" Semangka nya aku makan." Ucap Gilang.
" Lo, kalau kamu mau kita bisa menghabiskan makanan itu berdua."
" Ini bubur, dan aku tidak suka bubur.," Ucap Gilang, langsung menyuapi Nina, hingga Nina menghabiskan setengah dari makanan itu.
" Tidak dihabiskan?" Tanya Gilang.
" Tidak, aku sudah kenyang."
Setelah tiga jam, Gilang membantu Nina untuk berlatih miring ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya Nina bangun dari posisi tidur nya.
Nina mencoba berjalan perlahan menuju kamar mandi.
" Hati hati, jangan sampai kamu pingsan di kamar mandi." Ucap Gilang yang saat itu menggendong Putri kecil mereka.
" Iya iya, aku tahu."
" Ingat jangan menangis lagi." Ledek Gilang.
" Ih apaan sih." Ucap Nina yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
" Eh jangan tutup aku takut kamu nanti pingsan di dalam."
" Hmm, baiklah."
Ada ada saja.Batin Nina
Nina tersipu malu jika dia mengingat momen saat dia menangis karena tidak tahan merasakan kontraksi yang rasanya berkali-kali lipat dari yang dirasakan saat melahirkan Ilmi. Tapi semua itu sudah terbayarkan dengan kelahiran buah hati kedua Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...Hadiah...