Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Merasa tersisih


__ADS_3

Setelah menunggu kurang lebih selama 30 menit. Akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu Nina dan Dwi terlihat,


Nina dan dwi tak kuasa menahan air matanya, saat wanita yang membesarkannya terus berjalan mendekat ke arah mereka.


Nina dan dwi, sudah membayangkan mereka akan langsung berpelukan bersama ibu, namun kenyataannya.., sang ibu justru melewati mereka berdua dan langsung menuju mertuanya.


" Sttt lihatlah kita yang anaknya sendiri bahkan diabaikan." Ucap dwi.


" Iya." Jawap nina.


Setelah menyalami kedua mertuanya, sang ibu lalu memeluk Dwi dan Nina ala kadarnya. Dan langsung menggendong Ilmi.


" Ayo kita langsung mobil saja." Ucap nenek.


Ibu kemudian berjalan bersama ibu mertuanya, dan tidak menoleh kearah Nina dan Dwi.


" Sia-sia Aku mengeluarkan air mata." Bisik dwi pada sang Kakak.


" Iya."


" Jadi merasa tersisihkan. Tau tahu gini aku tidak ikut ma jemput ibu. Ibu yang datang sendiri ke rumah." Ketus dwi.


" Sudahlah, mungkin karena ini adalah pertama kalinya Ibu bertemu dengan mertuanya, jika beliau langsung menghampiri kita berdua, sangat tidak sopan." Ucap nina, mencoba menenangkan hati dwi yang sedang kesal.


" Tapi, kakak lihat sendiri kan tadi. Bagaimana nenek berteriak seolah-olah nenek sudah mengenal itu sejak lama. Padahal ini adalah kali pertamanya mereka bertemu."


Sesampainya di dalam mobil, kegaduhan pun sempat terjadi.


Dimana, ibu yang tidak memberitahu Jika dia pulang bersama teman. Dan juga bawang bawaan mereka yang sangat banyak, membuat mobil itu tidak muat.


" Kenapa tidak bilang kalau sari juga ikut pulang bersamamu, Kautsar ikut pulang bersamamu dan barang bawaan kalian banyak kita tidak akan menyewa mobil ini." Ucap nenek.


" La wong katanya suami nanti Ibu sama bapak membawa mobil yang besar seperti APV. Karena itulah Sari menemaniku pulang bersama." Ucap sang ibu.


" Oh berarti dasar nari yang tidak benar, dia mengatakan mobil apa apa saja untuk menjemputmu." Ucap sang nenek.


" Aduh ini gimana mengaturnya ini sudah jelas-jelas tidak akan muat." Omel toni.


" Ya kalian aku saja deh Bagaimana enaknya Kalian pasti bisa bukankah kalian pemilik mobil ini." Ucap nenek.


" lihatlah Ibu bahkan tidak lagi mengajak kita bicara." Ucap dwi sambil melihat ke arah ibunya yang tengah sibuk bermain ponsel untuk menelpon suaminya.

__ADS_1


Saat barang sudah ditata.


" Kamu duduk depan saja." Ucap nenek pada sang ibu."


Kemudian duduk di depan sambil memangku Ilmi.


Nina dan Dwi langsung duduk di kursi tengah, dan siapa sangka difusi tengah yang seharusnya diisi oleh 3 orang, jadi diisi 4 orang.


Kakek dan Toni duduk di belakang bersama barang barang ibu dan temannya.


Ketika sang Ibu asik siaran langsung di media sosial, Dwi memilih menutup telinganya menggunakan handset dan memejamkan mata. Dia tidak lagi peduli pada sekitar, hatinya sudah terlanjur kecewa.


Begitupun dengan Nina, namun Dina masih mencoba meredam nya. Dia pikir pasti akan ada saat dimana sang ibu akan mengobrol bersama kedua putrinya.


Perjalanan pun dilanjutkan, hingga mereka berhenti di sebuah rumah makan.


" Kalian mau makan apa?" Tanya ibu.


" Biar aku lihat menunya dulu.," Ucap nina, Sedangkan dwi memilih untuk langsung menuju meja untuk melihat menu apa yang ada di rumah makan itu.


" Setelah ini aku mau langsung pulang ke rumah mertua mu saja kak." Bisik dwi pada nina yang barusaja duduk disebelah dwi.


" Sabar, lihatkan ibu membawa sebuah laptop. Kau harus mengambilnya, sebelum laptop itu diambil oleh nenek. Dan kita tidak akan pulang ke rumah ibu mertuaku sebelum Ibu memberikan perhiasan yang dia janjikan. Kita memilikinya sebelum sang nenek merampas semua milik ibu."


....Skip....


Perjalanan yang melelahkan, Saat mereka sudah memasuki kota, yang sudah dekat menuju desa rumah mertua ibu. Mobil mengalami kerusakan. Itu membuat dwi semakin bertambah kesal.


Dwi bahkan tidak menjawab saat ibu mengajaknya bicara.


Hingga mereka tiba di rumah wah nenek saat hari sudah mulai gelap. Dwi langsung masuk tanpa menghiraukan panggilan dari ibu.


" Ayo makan, Kalian pasti lapar." Ucap ibu saat mereka sudah selesai mandi.


Setelah makan, tidak ada percakapan antara ibu dan anak.


Ibu lebih memilih bercengkerama bersama dengan mertuanya.


Hingga hari ketiga mereka menginap di sana sejak kedatangan ibu. Nina dan dwi sama sekali tidak berbicara dengan ibu.


Mereka hanya bicara ala kadarnya saja.

__ADS_1


Saat pagi, ibu sibuk memasak dan berbicara bersama mertuanya. Saat malam hari Ibu sibuk dengan gawai nya..


Hingga hari ke lima, setelah Ibu memberikan apa yang pernah dijanjikannya kepada Nina dan Dwi. Nina dan dwi memutuskan untuk kembali ke rumah ibu mertua Nina.


kalau ada drama menangis, Tapi Dwi sama sekali tidak merasakan sedih. Dia masih kecewa dengan sikap sang ibu yang seolah-olah tidak menghiraukan mereka.


" Ah, masih enak disini." Ucap dwi saat mereka sudah tiba di rumah ibu mertua sang kakak.


" Lo nduk, ibu mu sudah pulang?" Tanya ibu mertua.


" Sudah Bu dan beliau sekarang ada di rumah mertuanya."


Malam hari nya, karena ada pasar malam di depan rumah ibu mertua Nina. Dwi mengajak sang kakak untuk kesana, mencari kesenangan setelah beberapa hari merasa kecewa.


" Buk, aku mau kepasar malam dulu." Ucap nina pada ibu mertua nya.


" Ya."


Nina dan dwi menghabiskan waktu berkeliling pasar malam. Mereka benar-benar menghibur diri dan melupakan apa yang sebelumnya terjadi.


" Kak, antara kan aku beli paket data."


" Ya sudah ayo."


Dan saat Nina kembali setelah mengantarkan Dwi membeli paket data, nina mendengar omongan yang menyakitkan dari adik mertua nya.


" Keluar masuk seenaknya." Ucap adik mertua, saat nina akan memasukan motornya ke dalam rumah.


" Kau kamu tidak tahu kalau di sini tuh sudah seperti hotel." Ucap ibu mertua nina.


Nina tidak tau pasti, siapa yang dimaksud oleh adik mertuanya itu. Tapi yang jelas nina merasa tersindir.


Sungguh memang tidak ada rumah senyaman rumah sendiri, namun bagi nina, dimanapun dia berada dia sulit untuk mendapatkan kebahagiaan apalagi ketenangan.


Hanya bercanda tawa bersama ilmi lah, satu satu nya, hal yang dapat membuatnya merasa bahagia.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2