
" Boleh gak aku minta uang, untuk beli bawang." Ucap Nina dalam perjalanan ke rumah Novi, karena Gilang akan lomba burung, jadi Nina akan menemani Novi di rumahnya sambil menunggu Ilmi pulang mengaji.
" Loh, uangmu apa habis?"
" Ada, tapi aku gunakan untuk membeli sayur."
" Terus, kalau udah beli sayur berarti uangmu habis?" Ketus Gilang
" Ya ada."
" Ck, jangan boros-boros kalau belanja, sebentar lagi akan bulan puasa masa kamu tidak bisa menabung. Jika begini terus maka kita tidak akan bisa pulang lebaran nanti."
" Aku sudah berusaha hemat tapi bagaimana denganmu?"
" Aku, kenapa dengan aku?"
" Kamu selalu saja lomba burung, dan kamu tidak pernah memberiku uang yang cukup untuk belanja. Bagaimana aku bisa menyisihkan uang belanja, jika untuk makan saja masih kurang."
" Ya diatur bagaimana caranya agar cukup. Masak baru tiga hari yang lalu aku memberimu 200, dan sekarang sudah habis."
" Waktu itu Aku membeli kebutuhan untuk mandi dan juga Pampers, belum cemilan untuk Akifa."
Gilang terdiam karena saat itu itu sudah sampai di tempat mengaji Ilmi, setelah menurunkan Ilmi mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Novi yang tidak jauh dari tempat mengaji Ilmi yang baru.
Ilmi tidak lagi mengaji di masjid, Karena guru yang biasa mengajar Ilmi sudah ganti. Dan Ilmi tidak cocok dengan guru baru yang mengajar karena terkesan tegas dan galak.
" Ini untuk beli bawang."
Dengan wajah jutek dan nada Ketus gila memberikan selembar uang merah kepada Nina.
" Jangan dihabiskan ingat dihemat." Ucap Gilang lagi.
" Tidak usah bawa saja, beli bawang nya nanti saja bersamamu." Ucap Nina sambil berusaha menahan tangisnya.
" Ini bawa saja dulu." Ucap Gilang.
" Tidak."
Nina lalu segera masuk ke dalam rumah Novi, setelah bilang dan suami Novi berangkat Nina akhirnya tidak dapat lagi menahan air matanya.
" Kenapa-kenapa?" Tanya Novi.
Novi kini menikah dengan teman Gilang, jadi Gilang bekerja bersama suami Novi di depan kos Novi. Novi sendiri sudah memiliki seorang putri yang usianya 4 bulan lebih muda dari Akifa.
Nina lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Gilang.
__ADS_1
" Ah sama saja, Toni juga seperti itu, terkadang aku juga tidak mengerti apa yang ada dipikiran para lelaki. Mereka memberi uang tapi tidak memikirkan jumlah kebutuhan, dan juga tidak memikirkan kan harga kebutuhan yang harus dibeli." Terang Novi
" Iya, aku sebenarnya sudah tidak tahan. Dan kamu tahu seandainya saja salah satu dari kedua orang tuaku ada yang hidupnya benar. Mungkin Aku sudah pulang ke rumah orang tuaku. Sekarang, kamu bayangkan saja papaku sudah menikah lagi dan istri yang sekarang jauh lebih muda dari istri yang sebelumnya. Juga istri papaku mengatakan bahwa jika mereka pulang dari Malaysia tidak akan pulang ke rumah Papaku, tapi akan langsung pulang kerumah istrinya. Sedangkan Mama. Kamu tahu sendiri kan mamaku itu sangat bucin kepada suaminya, padahal jelas-jelas suaminya sudah tidak menghendaki mamaku lagi."
" Daripada mana kamu tahu?" Tanya Novi.
" Sekarang saja ibuku sudah tidak pernah lagi dikirimin nafkah oleh suaminya, dan adikku bilang mungkin siswa mi itu merekayasa sebuah cerita di mana ibunya bertengkar dengan cucunya sendiri dan menyuruh ibu untuk mengambil koper yang ada di sana. Coba kita pikir mana ada seorang nenek akan bertengkar dengan cucunya sendiri. Dan ibuku masih percaya jika suaminya itu adalah pria yang baik."
" Susah ya, kamu jadi tidak tahu harus mengadu kepada siapa."
" Iya, asal kamu tahu aku sekarang ibarat sedang berlayar di tengah lautan, terombang-ambing terkena ombak. Tidak kau harus menyandarkan kapal di mana, karena aku tidak punya siapa-siapa. Walaupun Mama mengatakan jika aku sudah tidak tahan dengan sikap bilang aku suruh kembali ke rumahnya. Lalu, setelah aku kembali ke rumahnya aku akan makan dari siapa?, aku akan mencukupi kebutuhanku dan juga anak-anakku uang dari mana?. sedangkan sekarang yang jadi tulang punggung adalah adikku. Aku sendiri sebenarnya malu aku juga terkadang meminjam uang kepada adikku, padahal aku adalah kakaknya seharusnya aku yang memberinya 33yrey bukan aku yk1 3sang meminta kepada-nya." Ucap Nina dengan air mata yang masih terus mengalir.
" Sabar, siapa tahu suatu saat nanti Gilang akan berubah."
Nina menggeleng.
" Aku tidak yakin, usia pernikahan kami hampir 7 tahun. Tapi sampai sekarang Gilang masih belum berubah, dan selama itu pula aku yang selalu mengalah. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan bahagia sebagai seorang istri. Karena terkadang aku merasa bahwa diriku ini adalah seorang pelacvr, yang diberi uang setelah memberikan pelayanan. Tak jarang juga Gilang mengataiku dengan kata-kata yang menyakitkan jika aku menolak melayaninya."
" Aku enggak sih, palingan nanti Tony akan marah padaku, jadi keesokan paginya aku tidak bertegur sapa dengannya."
" Hmm, dulu aku juga begitu. Tapi lama-kelamaan kata-kata menyakitkan keluar dari mulut Gilang. Bukannya aku tidak dengan sepenuh hati memberikan pelayanan, hanya saja terkadang hatiku terlalu sakit walaupun itu sebenarnya sudah kewajiban dari seorang istri. Jujur Aku sangat lelah, Aku ingin menyerah. Aku berulang kali bertanya kepada hatiku sendiri, apalagi yang harus aku pertahankan dalam pernikahan ini selain karena anak."
" Sudah coba bicara baik-baik dengan Gilang?"
" Gilang itu tidak bisa diajak bicara, setiap kali kami dalam keadaan damai dan berbahagia dan saat aku mengajaknya bicara tentang sesuatu yang berkaitan dengan keuangan misalnya, atau dengan sikapnya dia. Selalu saja berujung dengan keributan, dan keesokan paginya Gilang tidak menyapa. Kami bahkan pernah Tidak bertegur sapa selama 2 hari karena hal sepele. Jadi Aku harus apa?, seandainya saja aku bisa memiliki penghasilan dari menulis. Mungkin Aku tidak akan mengandalkan uang pemberian dari Gilang lagi."
" Ya, hanya saja cerita yang aku tulis tidak sekarang dan sehebat novel-novel yang lain, mungkin itu yang membuat novel ku minim pembaca. Tapi tidak apa-apa aku akan terus berusaha walaupun Gilang tidak mendukung ku untuk menulis."
" Kenapa?"
" Karena dia mengatakan jika aku menulis Tidak membuat aku menjadi kaya dan menghasilkan uang."
" Kok gitu?"
" Iya, bahkan dia seringkali mengatakan bahwa karena aku terlalu fokus menulis aku jadi menelantarkan anak-anak. Padahal Aku menulis saat aku sudah merawat semua anak-anakku, Aku menulis di waktu santai. Terkadang aku tidur diatas jam 12 demi bisa menyelesaikan tulisanku. Ya, aku bisa memaklumi karena aku adalah penulis baru tidak mudah mendapatkan pembaca apalagi menghasilkan ide cerita yang cemerlang."
" Tidak apa apa, fokus saja pada menulis mu, dan jika suatu saat novelmu sudah menghasilkan uang jangan pernah memberitahu Gilang."
" Tentu saja, untuk sekarang aku akan tetap semangat menulis dan akan terus menulis, karena aku percaya jika rezekiku ada ada dari aku menulis maka aku akan tetap menerimanya entah itu kapan." Ucap Nina sambil tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.
Lalu Nina melihat ke arah jam, Tidak terasa sudah hampir pukul 6. Jadi Nina pamit untuk menjemput Ilmi.
" Nanti apa kesini lagi?" Tanya Novi saat Nina akan pergi.
" Iya, karena Gilang kan naik sepeda Toni tentu saja aku akan kembali ke sini lagi."
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu."
Nina kemudian segera melajukan motornya dengan menggendong Akifa, sesampainya di tempat mengaji ternyata Ilmi belum keluar karena pelajaran mengajinya belum selesai. Jadi Nina memutuskan untuk ke toko sembako membeli bawang dan juga kebutuhan yang lain. Untung saja Nina masih punya beberapa uang untuk dapat membeli kebutuhan nya.
Dan setelah Nina kembali dari membeli kebutuhan, Ilmi terlihat sudah menunggu Nina di meja depan toko yang ada di rumah mengaji.
" Bunda, Ayah sudah pulang dari lomba burung?" Tanya Ilmi.
" Belum, jadi kita akan ke rumah bude Novi untuk menunggu ayah."
" Hore, jadi aku bisa bermain dengan Arumi."
Selang sepuluh menit, Gilang dan Tony datang. Lalu langsung mengajak Ilmi dan juga Nina untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dan Gilang harus memandikan semua burung peliharaannya.
Dirumah, Nina mulai menyuapi Ilmi dan juga Akifa dengan bakso yang dibelinya tadi saat pulang dari mengaji.
Setelah itu Nina memasakkan mie instan dan telur untuk makan malam Gilang.
" Ini buat belanja." Ucap Gilang sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah.
Nina menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Dalam hati Nina sangat bersyukur karena disaat uangnya sudah habis tidak bersisa sepeser pun akhirnya gila memberikannya uang untuk belanja.
Nina menyimpan uang itu dengan hati-hati, sambil merencanakan cara paling hemat yang dapat dilakukan untuk menghemat uang pemberian dari Gilang.
...
" Ilmi, kamu kok tidak lagi mau belajar?, kamu kenapa jadi anak nakal?, kamu itu kenapa masih belum bisa baca. Nanti saat sekolah kamu sendiri yang paling bodoh di antara teman-temanmu." Ucap Gilang.
" Kamu punya ibu tapi tidak mau mengajari mau belajar membaca." Imbuh Gilang.
" Yah, jangan selalu mencoba aku yang tidak mengajar Ilmi belajar. Aku akan mengajari Ilmi belajar setelah Akifa tidur, karena jika tidak aktif akan mengajar dan membuat belajar mengajar menjadi tidak tenang."
" Alasan saja. Mulai besok Ilmi ikut Ayah kerja, bawa serta buku dan alat tulis karena kamu akan belajar bersama ayah di sana. Kamu ada di rumah juga tidak menjadi anak yang pintar justru menjadi anak yang semakin bodoh."
Nina terdiam, ingin rasanya Dia meluapkan semua emosinya kepada Gilang. Ingin rasanya Nina mencaci-maki Gilang Kenapa selalu saja menyalahkan dirinya atas ketidaklancaran Ilmi dalam membaca. Ingin rasanya Nina berteriak keras kepada Gilang dan mengatakan bahwa dirinya itu juga lelah merawat anak-anak dan juga melakukan pekerjaan rumah seorang diri. Tapi apalah daya, Dina belum berani melakukan semua itu. Dan entah apa yang membuatnya tidak berani.
Nina hanya bisa menangis setelah kepergian Gilang.
" Aku harus bagaimana, sebenarnya apa salahku. Apa memang aku adalah ibu yang yang buruk untuk kedua anakku, apakah aku memang tidak becus untuk mengajari anak-anakku? Apakah semua yang terjadi, pertengkaran ini perselisihan ini karena memang kesalahanku?"
Nina terus saja berspekulasi dengan pemikirannya sendiri tanpa menemukan jawaban.
Terkadang Nina juga berbicara dengan dirinya sendiri, apakah memang dia yang sangat boros dan tidak bisa mengatur keuangan. Atau memang Gilang yang selalu memberinya uang yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...