
" Maksud kamu apa?, menuduh ibu ku membicarakan mu yang tidak tidak." Ucap galang penuh emosi.
" Memang kenyataan nya seperti itu." Bela nina.
" Aku tidak pernah menuduh nina yang tidak, tidak. Kau mengarang saja." Ucap ibu galang.
" Aku kira, selama ini kalian bisa berdamai. Ternyata aku salah. Nina, kau masih seperti dulu. Suka pendendam." Ucap galang masih dengan emosi yang menyulut.
" Dendam kenapa?" Tanya ibu.
" Hal dulu, pertengkaran dulu."
" Oh, berarti kamu itu punya hati yang jelek. Hati mu busuk, penuh dendam. Suka iri. Iri itu tidak baik. Kau itu tidak mau berusaha mengambil hatiku" Omel ibu.
" Kau memang tidak bisa di pimpin." Ucap galang lagi.
" Kau juga kenapa selalu marah jika aku pulang ke rumah ku." Ucap nina.
" Itu lagi, itu lagi yang di bahas. Sudah aku bilang jika kau pulang ke sana tanpa suami itu hukum nya dosa. Pamalik. Tanya sama ibu kalau tidak percaya. Kalau perempuan sudah menikah itu tidak boleh lagi pulang ke rumah nya sendiri, kecuali dengan suami nya" Ketus galang
" Tapi kau tidak pernah mau tinggal lebih lama di sana. Semua saudara ku banyak yang menanyakan dirimu. Aku sudah bersuami, tapi mereka tidak pernah tau suamiku. Bahkan, jika aku mengajakmu ke rumah ibu tiri ataupun nenek dari ayahku. Kau tidak pernah mau kan." Ucap nina.
" Jelas, untuk apa aku berlama lama disana. Rumahmu masuk gang, terlalu sepi. Aku bosan. Dan ya, saudara mana yang kau maksud hah?, juga keluarga mana yang kau bicarakan. Aku bahkan tidak pernah merasakan uang dari keluarga mu. Pernikahan kita saja, semua keluargaku menyumbang. Sedang keluargamu??!!, apa menyumbang?!, satu rupiah pun tidak ada."
" Bukankah dulu saat kalian datang sudah di beri tahu bagaimana kondisi keluargaku." Nina masih mencoba membela diri nya. Berharap sang suami mau mengerti dan memahami nya.
" Lagi pula, aku pulang karena aku merindukan adikku, aku juga ingin berkumpul bersama keluarga ku, sama seperti mu." Ucap nina lagi.
" Kalau kau masih berat dengan adikmu, kenapa kau menikah denganku. Hah!!!" Galang mengeprak meja.
" Sudah, memang wanita seperti mu tidak bisa di pimpin." Ucap galang lagi.
" Aku tidak pernah mengatakan hal aneh tentang istri mu." Ucap ibu.
" Diam lah bu, aku tau sifatmu seperti apa. Sudah berapa tahun aku jadi anakmu, tentu aku sudah paham sifat mu, bu. Nina saja orang nya pedendam, gampang sakit hati."
" Iya le, istri mu, sejak kau pergi, makan nya hanya sedikit. Aku berpikir mungkin tidak enak, karena tidak iku memasak, aku tidak tau jika ternyata istrimu gampang sakit hati. Mangkannya aku tidak pernah menegurnya, nanti aku di katakan cerewet."
Hem, tidak pernah menegurku, tapi membicarakan aku di belakang. Batin nina.
Melihat galang yang berkata lembut, membuat batin nina begitu sakit. Bagaimana tidak, nina bahkan lupa. Kapan kali terakhir, gilang berkata lembut pada nya. Bahkan nina lupa, jika diri nya adalah seorang istri. Nina merasa seperti seorang pel*cur, yang diberi uang, setelah memberikan servis di ranjang.
__ADS_1
" Ya aku memang pendendam, aku tidak bisa di pimpin. Aku suka iri. Aku gampang sakit hati. Karena apa? aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari keluarga ku, aku dari keluarga broken home. Kau bahkan tidak lagi memperlakukan ku dengan baik."
" lalu sekarang, mau kamu apa?, hah?" Dengan nada ketus.
" Aku ingin ikut denganmu, ke bali." Nina sekuat tenaga menahan air mata nya.
" Kau pikir mudah membawa mu kesana, hah?. Butuh banyak uang. Kau pikir mudah aku mendapatkan uang." Ketus galang.
Nina memilih diam, di teruskan berdebat juga percuma, akan semakin membuat nya terluka. Nina memilih masuk ke kamar, membawa ilmi bersama nya. Menutup pintu, dan mengunci nya.
" Nak, hanya kau penyemangat bunda. Bunda sudah bertekad, tidak akan membiarkan mu, menjadi seperti bunda. Yang kurang kasih sayang." Tangis nina sambil memeluk ilmi, yang sudah tertidur pulas.
Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Demi ilmi, ya demi ilmi. Batin nina.
" Ya ALLAH, jika memang semua ini terjadi karena kesalahan ku sendiri, maka aku siap menerima segala sesuatu yang akan menimpa ku. Namun, jika ini memang bukan sepenuhnya salahku, bukankah lah pintu hati suami ku, KAU MAHA PEMBOLAK BALIK HATI.
YA ALLAH, jika ini adalah ujian darimu, berikan lah aku kelapangan hati, berikan aku beribu ribu kesabaran, dan kekuatan agar aku bisa menjalani nya." Tangis nina kembali pecah, di sepertiga malam nya.
...----------------...
...----------------...
" Ilmi, apa kau mau ikut?" Ucap kakak galang pada ilmi.
" Orang gak muat." Ucap ilmi. Membuat semua nya terkekeh.
" Ya, ilmi menyusul dengan bunda ya, kapan kapan." Ucap sang ayah.
" Kapan, kapan, kapan kapan terus. Ya lama. Ayah ini gimana sih." Ketus ilmi.
" Ya kan ayah masih cari uang." Ucap galang.
" Gak tau, aku marah sama ayah." Ucap ilmi, kemudian pergi untuk bermain.
" Hei, mau kemana. Sebentar lagi ayah mau berangkat lo." Teriak galang.
" Sudah, biarkan saja. Nanti malah menangis kalau tau, kau pergi." Ucap nina.
" Dimana tasku?, apa sudah kau bereskan pakaianku?." Tanya galang.
" Sudah, biar aku ambilkan." Ucap nina, kemudian berlalu, dan hendak menuju kamar.
__ADS_1
" Ini, tolong masukan ini juga. Aku akan memakai celana pendek saja. Udara pasti panas. Perjalanan jauh, dan aku suka mabuk perjalanan." Ucap galang, sambil memberikan celana panjang pada nina.
" Aku berangkat ya." Galang mencium kening nina.
" Iya, hati hati". Ucap nina, kemudian mengantar galang, hingga mobil kakak galang melaju dan tidak terlihat lagi.
" Lo, ilmi kok gak ikut?." Ucap salah seorang tetangga, yang kebetulan melihat galang dan kakak nya sudah kembali ke bali.
" Looo, ya masih lama. Ayahnya masih cari uang. Ibu nya biar kerja juga di sini cari uang." Ucap ibu.
Nina memilih masuk, daripada meladeni atau mendengar omongan dari ibu atau tetangga nya yang lain.
Kepergian galang kali ini, terasa biasa saja. Jika dulu nina akan menangis setelah mengantar kepergian galang. Namun kali ini, nina merasa biasa saja. Seolah tidak ada lagi getaran cinta ataupun rindu.
" Sudah berangkat, ayah ilmi dan kakak nya." Ucap mbak ratih, saat nina datang mengambil barang yang diperlukan untuk membuat sikat.
" Sudah. Barusaja, lalu aku segera kesini." Ucap nina, yang duduk melihat sikat yang sudah siap di kirim.
" Kamu gak ada rencana ikut ke bali lagi." Tanya ratih, sambil memberikan sekotak bahan kepada nina.
" Entahlah mbak, nanti aku bilang mau menyusul, tapi nyata nya tidak. Nanti, aku bilang tidak, ternyata menyusul." Ucap nina, sambil berusaha tersenyum.
" Iya juga sih."
" Ya sudah mbak, aku mau pulang. Nanti keburu ilmi mencari."
" Iya sudah, hati hati.."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1