Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Jalan jalan


__ADS_3

" Jalan jalan ke taman yuk." Ucap Gilang saat setelah Gilang selesai mandi pada malam hari


" Ayo." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.


" Ya ayo, lekas bersiap."


Ilmi segera meletakkan ponselnya, berjalan menuju lemari dan mengambil jaket serta kerudung yang biasa dia kenakan saat akan berpergian cukup jauh. Sedangkan Nina langsung memakaikan sepatu kepada Afifah dan juga jaket, tidak lupa kerudung agar Akifa terlihat sama seperti dirinya dan juga sang kakak yang juga memakai kerudung.


Sejak kecil my name masa lalu mengajarkan kepada Ilmi untuk berkerudung saat akan keluar dari rumah. Hal itu Nina lakukan agar kelak Ilmi terbiasa dengan kerudung dan juga baju panjang. Hal seperti itu juga diterapkan Nina kepada Akifa, jika dulu Ilmi diam saja saat dipakaikan kerudung lain halnya dengan Akifa. Baru dipakaikan kerudung, belum 1 detik kerudung itu sudah ditarik sehingga terlepas.


Drama yang selalu terjadi ketika mereka akan jalan-jalan, dimana Akifa selalu berlari saat akan di kenakan kerudung ataupun sepatu.


" Adek tinggal yuk kak." Ucap Gilang sambil menyisir rambutnya.


" Da da...da...da.." Ucap Ilmi Ya mulai berjalan keluar.


Akifa?, tentu saja dia menangis ingin ikut.


" Mangkanya sini ayo pakai sepatu dan kerudung nya dulu lalu kita akan ikut." Ucap Nina.


Akifa pun akhirnya mendatangi Nina dan diam saat Nina mengenakan sepatu dan juga kerudung.


Setelah memastikan bahwa kipas sudah dimatikan dan tidak ada kompor yang menyala, Nina segera mengunci pintu dan berjalan menuju Gilang dan juga Ilmi yang sudah menunggu mereka di depan pintu gerbang rumah kost.


" Sudah?" Tanya Gilang saat mengetahui Nina dan juga kita sudah naik ke atas sepeda motor.


" Sudah."


Akhirnya Gilang melajukan kendaraannya, sepanjang perjalanan Gilang dan Nina saling bercerita. Ada perasaan senang juga perasaan sedih saat Gilang mengajak Nina untuk keluar.


Bahagia? tentu saja Nina bahagia karena jarang-jarang sekali Gilang akan mengajak mereka semua jalan-jalan. Namun, Nina juga sedih karena nanti malam bilang pasti meminta kembali hanya kepada Nina.


Bukan Nina menolak, hanya saja terkadang dia tidak ikhlas dalam melayani Gilang mengingat bagaimana cara Gilang memberinya uang belanja. Dan juga perlakuan Gilang yang bisa dibilang kurang memuaskan Nina.


Untuk sesaat Nina tidak mau memikirkan hal itu, karena mereka sudah sampai dan Nina mulai kerepotan menjaga Akifa yang sudah berlarian kesana-kesini.

__ADS_1


" Ayo ambil makan dulu." Ucap Nina pada Akifa.


Akifa tentu saja menggelengkan kepala dan mulai berjalan lagi. Tanpa pikir panjang Dina langsung menggendong aktiva dan berjalan menuju Gilang yang tengah duduk bersantai menjaga barang bawaan mereka.


" Kok sudah kalau bermain?" Tanya Gilang.


" Mau makan." Ucap Nina yang mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa untuk Akifa.


" Lo, bawa bekal ya.." Ucapnya sambil menatap Akifa.


Akifa justru menunjuk kearah Ilmi yang tengah bermain bersama teman barunya.


" Lihat Kakak mu itu sudah dapat teman saja." Ucap Gilang sambil melihat kearah Ilmi yang tengah berlari bersama temannya.


" Iya, sejak dulu setiap kita bermain kemanapun Ilmi selalu cepat mendapatkan teman." Ucap Nina.


Setelah membuka kotak bekal yang isinya puding untuk Akifa, Nina segera kembali mengajak Akifa untuk berjalan dan bermain di taman bermain yang ada di pusat kota Gianyar. Jaraknya lumayan jauh sekitar 30 menit dari rumah kost Nina.


" Huft, sana gantian. Aku sudah capek mengikuti Akifa yang tidak mau berhenti." Ucap Nina kepada Gilang setelah Akifa menghabiskan puding.


Gilang lalu segera menghampiri Akifa yang tengah berlari karena tahu jika Gilang berjalan ke arahnya. Nina menggunakan kesempatan itu untuk bersantai. Dan mencicil tulisan nya di aplikasi yang sudah Nina gunakan untuk menulis.


Belum selesai Nina menulis Gilang sudah kembali dengan menggendong Akifa.


" Ini, kamu saja yang menemani Akifa." Ucap Gilang sambil menyerahkan Akifa


" Kenapa?" Tanya Nina.


" Jika aku yang menemani Akifa maka Akifa selalu saja minta gendong dan tidak mau berjalan."


" Ya tidak apa apa." Ucap Nina.


" Ya aku capek."


" Ayah lihat aku bertemu dengan kakak keke." Ucap Ilmi.

__ADS_1


" Lo, Kakak Keke sama siapa mamanya di mana?." Tanya Nina.


" Mama tidak ikut karena Mama sibuk membuat terang bulan sedangkan aku kesini bersama ayah. Itu ayahku sedang duduk di sana."


" Dimana kosnya?" Tanya Gilang.


" Deket kok, bla bla bla bla bla .." Keke menjelaskan panjang lebar, namun tidak ada di antara Gilang dan juga Nina mengerti apa yang dikatakan oleh Keke. karena keke hanya memberi tahu arah tanpa memberitahu nama jalan yang akan dilewati untuk menuju rumahnya.


Akhirnya Gilang dan Nina hanya mengangguk-anggukan kepala walaupun sebenarnya mereka tidak mengerti.


" Jaga anak anak ya, aku akan merokok sebentar di sebelah sana." Ucap Gilang


" Baiklah."


Setelah cukup lama, Nina yang sudah mulai lalu mengajak Akifa ada juga Ilmi untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Nina sedikit merasa kesal karena tatanan sepatu ataupun sandal yang ada di rak luar kamarnya berantakan. Bahkan jemuran Nina juga tidak ada di tempat biasanya, beberapa sepatu dari Akifa pun hilang dan berserakan entah kemana. Hal itu tentu saja membuat Nina marah. Siapapun yang telah bermain-main di sana seharusnya mengembalikan sepatu dan sandal ke tempat semula.


Nina sendiri jika Akifa sedang mengobrak-abrik sandal milik tetangga,


ataupun akikah membawa serta membuang sembarangan sendal atau sepatu yang dia bawa. Nina selalu saja mengembalikannya ke tempat semula. Atau jika kita membuat kapal di teras kamar tetangga lain, Nina selalu membersihkannya. Tapi Kenapa setiap kali orang lain yang membuat kota di teras Nina, ataupun bermain-main di mana sandal atau sepatu. Tidak ada yang akan mengembalikan nya lagi ke tempat semula.


Sabar mungkin memang begini nasib orang tidak punya. Tidak pernah akan dibantu dalam hal apapun. Batin Nina sambil berusaha mencari sendal dan juga sepatu Akifa yang berserakan.


Setelah menidurkan Akifa, Nina mulai membersihkan pekerjaan rumah yang belum sempat dia selesaikan sore tadi. Lalu saat Nina hendak tidur Gilang mencegahnya.


Hmm, sudah ku duga. Hal ini pasti terjadi ketika Gilang mengajak jalan-jalan. Tuhan sebenarnya aku sangat enggan untuk melayaninya, tapi Karena dia sudah bertekad untuk mengajak kami jalan-jalan maka baiklah. Batin Nina.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2