Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Mematahkan semangat


__ADS_3

" Heh, anakmu itu lo di lihat, diawasi. Diajari belajar kek. Kamu bukannya didik ILmi malah asik HP.an. Lagian buat apa nulis kalau tidak menghasilkan uang. Buang buang kouta aja." Ketus Gilang.


Nina memilih diam karena dia sudah lelah untuk bertengkar.


" Ilmi, mulai besok kamu ikut Ayah kerja. Kamu belajar sama Ayah disana. Disini kamu bukan nya di didik, malah di biarkan jadi anak nakal, anak liar, tambah bod*h. Punya ibu sibuk main HP. Bukannya mengajari anak belajar." Ketus Gilang lagi.


" Heh, aku bukannya tidak mau mengajari Ilmi, aku akan mengajarinya segera setelah aku menidurkan Akifa. Apa kamu tahu jika Akifa belum tidur, dia akan menganggu Ilmi. Dan membuat Ilmi jadi tidak fokus belajar. Mangkanya kamu ada dirumah, biar tahu bagaimana repot nya aku menghadapi Akifa yang semakin hari semakin aktif."


" Ya itu sudah menjadi tanggung jawab mu. Masak kamu tidak bisa mendidik sekaligus menjaga Akifa. Kamu juga Ilmi, sudah tau punya ibu gobl*ok jangan menjadi seperti dia. Kamu harus bisa inisiatif sendiri untuk belajar. Jangan ikuti jejak ibumu uang bod*h itu "


Nina memejamkan mata, mencoba untuk tidak menanggapi perkataan Gilang yang menyakitkan.


" Koar koar ke sana sini jika menjadi penulis. Penulis busung saja bangga. Koar koar itu jika sudah bisa menghasilkan uang nyata. Kamu, masih penulis abal abal saja bangga."


" Aku tidak memamerkan aku menjadi penulis. Aku hanya menjawab ketika mereka bertanya kenapa aku sudah jarang berada di luar rumah."


" Ya sama saja, kamu itu pamer."


Nina memilih untuk membawa Akifa untuk duduk di luar rumah, karena jika Nina tetap berada di sana tentu Gilang akan semakin mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Nina.


Nina tetap berada di luar rumah sampai waktu Gilang kembali untuk bekerja. Setelah nya Nina lalu kembali masuk dan mencoba merayu Ilmi untuk belajar.


" Lo besok aja bunda, aku capek."


Sungguh, Ilmi yang sangat alot untuk diajak belajar membuat Nina makin merasa frustasi. Ingin rasanya Nina berteriak melampiaskan kekesalan dalam hatinya.


Malam hari, Gilang tengah melakukan panggilan video call dengan ibunya.


" Ilmi, ini ibuk, ayo sini bicara sama Ibu."


" Ayah, aku sedang menggambar ini lo." Ucap Ilmi.


" Sudah sana ngomong sebentar sama ibu setelah itu Ilmi boleh lanjut untuk belajar." Bujuk Nina.


" Sebentar lagi bunda."


" YA SUDAH, AWAS KAMU MINTA UANG SAMA AYAH AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN SEPESERPUN UANG KEPADAMU." Ucap Gilang dengan nada tinggi dan kesal


" Ya udah sini, aku mau ngomong." Ucap Ilmi pasrah


" Gak usah, sana kamu pergi dari hadapanku." Ketus Gilang


Lalu Nina mencoba untuk menenangkan Ilmi yang terlihat sudah siap untuk menangis. Nina juga mendengar Gilang dan ibunya berbicara tentang sepupu Gilang yang baru saja pulang dari Bali dan kembali lagi saat malam Jumat manis.


" Lo, Jumat kemarin adalah jumat manis?" Tanya Gilang.


" Iya."


" Aku tidak tahu, karena aku tidak memiliki kalender Jawa."

__ADS_1


" Iya le, Jumat kemarin adalah jumat manis karena itu diharuskan untuk berdoa mengirim al-fatihah untuk yang sudah meninggal. Kamu sudah kirim doa buat bapakmu?" Tanya Ibu.


" Tidak, di rumah ini semuanya orang bodoh Tidak ada yang mau mengaji. Jangan kan mengaji untuk salat saja tidak ada yang mau."


Sungguh, hati Nina sangat miris mendengar Gilang mengatakan itu.


Memangnya orang salat harus berkoar-koar dan mengatakan jika sudah salat. Kamu sendiri jika aku mengingatkan tentang salat selalu saja marah dan banyak beralasan. Batin Nina.


" Bodoh, bodoh. Tidak tahu jika malam Jumat jadi tidak mau mengaji." Ucap Gilang sambil meletakkan ponselnya di atas lemari setelah melakukan video call dengan ibu.


Nina memilih diam dan tidak ingin menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh Gilang. Karena sudah pasti perdebatan akan kembali terjadi jika Nina menanggapi perkataan Gilang.


..


Beberapa hari berlalu, suasana di antara Nina dan Gilang terlihat membaik. Saat Nina dan Gilang sedang duduk santai, Nina memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya kepada Gilang. Namun, belum selesai Nina berbicara Gilang sudah lebih dulu membuka percakapan.


" Nda, kamu itu beli celana pendek, gamismu itu kadang transparan."


" Ya, mau gimana lagi namanya juga gamis murahan."


" Kenapa tidak beli yang mahal agar tidak terawang?"


" La, kamu tidak memberiku uang."


" Lo, kan aku selalu memberi kamu uang."


" Ya makan gamis itu." Ucap Gilang.


Nina mendengus kesal.


" Mangkanya kerja biar dapat uang bisa biar kamu bisa membeli gamis atau apapun yang kamu inginkan. Jangan hanya mengandalkan diriku, dan meminta uang dariku. Kamu tahu sendiri untuk makan saja selalu kurang kurang." Ketus Gilang.


" Jika Aku tidak minta uang padamu lalu aku minta uang pada siapa?, kepada tetangga kita?"


" Ya coba aja siapa tahu kalau minta ke tetangga kamu akan dikasih untuk membeli gamis."


" Mana ada, Orang aku bukan istrinya kenapa akan diberikan uang. Kamu kan suamiku otomatis Aku minta uangnya darimu karena aku ini adalah istrimu."


" Ya, kalau aku ada uang pasti aku kasih Tapi kalau tidak ada apa yang mau dikasih. Ya, sana ambil uang di dompetku untuk membeli gamis. Tapi jika beras dan token habis pikirkan sendiri cara untuk membelinya. Katanya penghasilan dari penulis itu besar, tapi mana buktinya kamu setiap hari menulis sampai larut malam Tapi aku tidak pernah melihat penghasilan dari menulis mu " Ketus Gilang.


" Aku kan baru menulis, tidak akan langsung dengan instan mendapatkan bayaran yang tinggi. Semua pasti ada prosesnya, jika ingin instan Kenapa tidak ikut pesugihan saja."


" Ya, aku akan ikut Sugihan dengan kamu tumbalnya bagaimana apakah kamu mau?"


" Dasar gila." Ucap Nina


" Cari kerja yang nyata sana. Jangan berharap dari menulis. Aku berani bertaruh bahwa kamu tidak akan mendapat apapun dari menulis. Kamu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Lebih bagus kamu memijat iku daripada kamu terus-menerus memencet ponsel."


" Ck, kamu ini tidak mendukung aku sama sekali."

__ADS_1


" Dukungan seperti apa yang kamu harapkan, jika dari menulis bisa menghasilkan uang yang nyata baru akan aku akan mendukungmu." Ucap Gilang yang kemudian berlalu keluar rumah untuk merokok.


Selalu saja berakhir seperti ini, memangnya apa salahku jika meminta uang darinya. Dan apakah aku salah jika aku aku mencoba keberuntungan ku dengan menulis. Batin Nina.


...----------------...


" Tuhan, kapan keluargaku akan sebahagia keluarga yang lain. Salah kah jika aku juga berharap aku akan berbahagia seperti keluarga yang lain, apakah aku punya dosa dimasa lalu sehingga KAU menghukum kehidupanku di masa kini. Tidak bisa dipungkiri, dan aku juga tidak mau menjadi orang yang munafik. Aku sangat iri jika melihat keluarga lain dapat berbahagia, walaupun mereka kekurangan ekonomi tapi mereka masih tetap bisa membuat anak dan istrinya bahagia. Kapan Gilang bisa bersikap seperti itu kepadaku dan juga anak-anak." Ucap Nina sambil melihat kedua putrinya yang masih tertidur.


Nina lalu menyeka air matanya, dan memulai aktivitas rutin yang dilakukan di pagi hari. Setelah semuanya selesai dari memasak membersihkan rumah serta menyuapi dan memandikan Akifa, Nina mengambil ponselnya. Membuka aplikasi biru tempat biasa Nina untuk menulis.


Nina memandangi sebuah karya yang baru saja dia buat. Lama Nina memandanginya, hingga perkataan Gilang kembali menggema di pikirannya. Nina memejamkan mata dan akhirnya mematikan ponsel. Semangat nya untuk menulis kini telah hilang. Dia dia tahu apa yang dikatakan Gilang mungkin ada benarnya, Nina terlalu berharap dapat menghasilkan uang dari cara menulis. Hingga beberapa hari yang lalu namun masih belum melanjutkan tulisannya, hingga dia beberapa kali mendapatkan notifikasi bahwa dia sudah tidak pernah memperbaharui tulisannya.


" Huft..."


" Kenapa?" Tanya Novi


Ya, saat ini Novi berkunjung ke rumah Nina. Karena ini hari Minggu dan seperti biasanya setiap hari Minggu Gilang dan suami Novi akan pergi lomba burung.


" Entahlah, aku mulai kehilangan semangat untuk menulis."


" Kok bisa?"


Nina lalu menceritakan apa apa saja yang pernah dikatakan oleh Gilang kepadanya.


" His, kamu ini. Sudah biarkan saja Gilang berkata apapun, bukankah kamu bilang kepadaku bahwa kamu akan terus menulis dan rajin menulis serta menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Jika rezekimu ada dari menulis, maka kamu akan menghasilkan uang dari sana. Ya walaupun aku tidak tahu kapan, tapi kamu harus tetap semangat dan optimis. Buktikan kepada Gilang bahwa ucapannya salah. Buktikan bahwa dari menulis pun kamu bisa menghasilkan uang dan dapat membeli apapun yang kamu inginkan."


Nina menatap Novi, yang dikatakan Novi memang benar. Anggap saja penghasilan berapa pun nanti yang akan didapatkan Nina dari novel itu sebagai tabungan. Jika nominalnya sudah penuhi syarat untuk penarikan minimal. Maka Nina bisa mengambil uang itu dan membelanjakan barang apa yang menjadi impiannya selama ini.


" Iya sih, Aku juga pernah membaca postingan salah seorang penulis di aplikasi itu. Dia juga menceritakan pengalamannya saat baru pertama menulis. Kebanyakan dari mereka yang bercerita memang tidak mudah."


" Itu kamu tahu, Jadi sekarang yang perlu kamu perbaiki adalah semangat menulis mu. Biarkan saja gila mengoceh apa saja. Yang penting kamu tetap nulis dan semangat untuk menghasilkan uang dari menulis."


" Iya ya..."


" Iya lah."


" Baiklah kalau begitu, aku akan melanjutkan kembali novel yang sempat tertunda."


" Nah itu baru Nina dengan semangat yang aku kenal."


Nina tersenyum, lalu mereka menghabiskan siang itu dengan bercerita. Saling berbagai masalah rumah tangga dan juga melakukan hal me time bersama saat anak dari Nina dan juga Novi sudah tertidur.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2