Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Tidak tahu lagi


__ADS_3

Memang susah menjalani bahtera rumah tangga, jika semuanya sudah tidak dapat berjalan sesuai rencana atau berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Mungkin dalam rumah tanggaku, komunikasi lah yang kurang. tapi bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan baik jika lawan bicaranya selalu ingin menang sendiri. Tidak ingin kalah ataupun tidak ingin disudutkan.


Dalam pertengkaran pun selalu aku yang harus mengalah. Karena jika tidak hal itu akan membuatku semakin terluka.


...


" Dasar kamu istri durhaka, dasar anj*ng."


" Sudah aku bilang aku sedikit tidak enak badan, bisakah kau meminta nya besok pagi atau besok malam saja."


" Menyingkirlah kau dari hadapanku aku bosan melihatmu."


Brak !!


Gilang membanting pintu saat Nina tidak mau melayaninya.


" Hiks hiks hiks..."


Nina menangis dalam diam, dia tahu jika dia telah bersalah karena tidak melayani sang suami. Tapi batinnya memaksanya untuk tidak menuruti keinginan sang suami.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Nina berdering.


Nina mengangkat dengan tangan kanannya.


" Ya halo?"


" Apa kau sedang menangis?" Tanya seseorang dari seberang sana.


" Tidak."


" Jangan berbohong."


Nina terdiam, entah kenapa seseorang yang menelponnya itu selalu tahu saat Nina menangis ataupun bersedih.


" Nina..."


" Hiks hiks hiks." Nina pun kembali menangis.

__ADS_1


" Ada apa?, bertengkar dengan Gilang lagi?"


" Iya."


" Ya Tuhan, kali ini kenapa lagi?"


Nina lalu menceritakan apa penyebab diabetes angka dengan Gilang.


" Kamu juga sih, kenapa juga menolak permintaan Gilang?"


" Ya, aku harus bagaimana. Gilang selalu baik dan manis padaku saat dia menginginkan hanya sebagai suami, namun saat dia tidak menginginkanku dia kembali dengan sikapnya yang cuek dan egois. Dan setelah dia selesai menunaikan hajatnya pun dia langsung pergi begitu saja, tidak ada lagi pelukan dalam tidur. Ataupun ciuman selamat malam. Jadi untuk apa aku harus terus melayani nya saat dia menginginkanku saja?, aku merasa seperti pelacvr. Di sayang saat dibutuhkan, dan di hina di caci maki saja sudah tidak diperlukan."


" Kau tidak boleh berkata seperti itu, cobalah untuk memahami Gilang. Mungkin rumah tangga kalian akan jauh lebih baik."


" Memahami dengan cara yang bagaimana lagi, selama ini aku sudah memahaminya mencoba mengerti keinginannya. Mencoba selalu membuatnya bahagia dan merasa nyaman. Tapi apa balasannya?, dia selalu mencaci memakiku mengata ngatai ku. Seolah Olah aku ini hanya beban hidupnya."


" Iya aku tahu, maksud ku..."


" Maksud mu aku harus bertelanjang setiap hari di depan Gilang?. Maaf! aku tidak akan sudi melakukannya, biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. Aku sudah lelah, selama ini aku yang selalu mengalah terhadap dirinya. Namun semakin aku mengalah rasanya harga diriku semakin diinjak-injak. Dia seperti tidak lagi menghargaiku sebagai seorang istri, dan aku juga sadar akan posisiku yang hanya menumpang menyambung nyawa bersama dengan putriku."


" Nina..."


" Jangan berkata apa-apa lagi, kau hanya menilai dari sudut pandang. Tapi tidak dari sudut pandang ku."


Keesokan paginya, Nina terkejut karena menerima serangan tiba-tiba dari Gilang.


Nina terus saja mengalihkan pandangan, saat Gilang memegang pipinya, maksud agar Nina menatap matanya saat mereka sedang melakukan penyatuan. Nina langsung membuang muka.


Plak !!


" Dasar j*lang. Kau tidak mau menatapku?, apa kau merasa jijik dengan ku?"


" Bukankah kau sendiri yang bilang, jika aku harus menyingkir dari hadapanmu?"


Gilang terlihat marah, dia segera menyelesaikan hajatnya. Lalu menyingkir dari Nina.


Nina dengar suara di kamar mandi, sepertinya Gilang mandi. Dan benar saja setelah itu,? Gilang terlihat tergesa-gesa memakai pakaiannya lalu keluar.


Brak !!


Sekali lagi Gilang membanting pintu.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Gilang kembali dan melemparkan beberapa lembar uang ke arah Nina.


" Ini uang untuk travel, jangan minta lebih. Aku tidak punya uang lagi."


Setelah mengatakan itu, Gilang kembali meninggalkan rumah.


Tak beberapa lama setelah kepergian Gilang. Eka datang.


" Lo, kamu kenapa?" Tanya Eka.


Nina menyuruh Eka masuk, lalu menceritakan apa yang terjadi.


" Jadi apa yang akan kamu lakukan?"


" Aku tidak tahu."


" Begini saja. lihat nanti malam apakah dia memesankan travel untukmu atau tidak. Jika dia memesankan transfer untukmu artinya kau harus pulang."


" Begitu ya.?"


" Iya, ya sudah aku akan lihat nanti."


..


Sore hari nya, Nina mulai membereskan sebagian barang miliknya dan juga Ilmi. Berjaga jaga jika dirinya dan Ilmi akan benar benar pulang.


" Heh, kenapa kau belum membereskan pakaian mu,?" Ketus Gilang, saat dirinya pulang.


" Kau yakin ingin menyuruh ku pulang?"


" Ya. Aku muak dengan mu. Ini aku sudah menelepon travel."


Gilang menyerahkan ponsel nya


Nina kemudian berbicara kepada supir travel. Dan saat supir itu mengatakan jika akan menjemput Nina dan Ilmi dalam waktu 1 jam. Nina segera memasukkan pakaiannya dan ilmi kedalam tas.


Nina menarik nafas.


" Akhirnya, aku akan terbebas dari belenggu ini."


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2