Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Nasib orang miskin


__ADS_3

Nina yang sedang tidur siang terkejut dengan suara hujan. Dengan segera Nina keluar untuk mengangkat jemuran.


" Hmm, selalu saja begini, jika jemuran ku yang ada di luar tidak ada yang berteriak untuk memanggilku karena hujan. Tapi ya sudahlah mungkin memang mereka mengangkat jemuran nya jauh sebelum hujan datang."


Nina berargumen sendiri sambil mulai melipat baju dan memasukkannya ke dalam lemari.


Ini memang bukan kali pertama, jemuran Nina terkena hujan dan tidak ada yang berteriak perihal hujan. Padahal Minato betul rumah yang yang berhadapan pas dengan lahan untuk jemuran terbuka lebar. Tapi penghuni seakan enggan untuk berteriak bahwa hari ini sedang turun hujan.


Hari ke hari berikutnya, Nina akan mulai menidurkan Akifa, dia terlebih dulu mengangkat jemurannya. Dan saat Nina tahu bahwa cuaca sedang mendung dan mungkin mulai gerimis, Nina tidak lagi merasa khawatir karena jemurannya sudah berada di tempat yang teduh.


Dan anehnya, setiap jemuran ia sudah berada di tempat yang teduh selalu saja ada orang yang berteriak dan mengatakan bahwa telah turun hujan. Hal itu tentu saja membuat Nina merasa minder.


" Apa karena aku orang tidak punya?"


Nina lalu meninggal beberapa kejadian di mana para penghuni kos merencanakan untuk berwisata bersama, Nina mengusulkan untuk pergi ke pantai. Namun yang lain mengatakan jika bosan pergi ke pantai Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke kebun binatang yang sedang ada diskon tiket. Jadilah Nina hanya menyimak pembicaraan dari rencana liburan para penghuni kos.


" Ayah, aku mau ikut kakaknya. Kakak nya mau jalan jalan." Ucap Ilmi.


" Tidak usah, wong kamu tidak di ajak kok mau ikut." Ucap Gilang.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Nina yang baru saja selesai mencuci tangan Akifa di kamar mandi.


" Ilmi mau ikut jalan jalan."


" Oh."


" Ayo bunda jalan jalan. Aku ingin naik mobil." Ucap Ilmi.


Gilang yang sedari tadi berada diluar kini masuk setelah mendengar Ilmi yang terus saja merengek minta jalan jalan naik mobil.


" Heh, kamu itu anaknya orang miskin. Sama kalau kamu ingin naik mobil jadian orang kaya." Ketus Gilang.


" Kok jadi menyalahkan ayah, suruh siapa kamu jajan terus. Coba jangan jajan. Uang nya di tabung untuk beli mobil." Ucap Gilang.


Setelah mengatakan itu, Gilang menelpon temannya, sepertinya Gilang sudah mempunyai janji untuk pergi lomba burung bersama temannya, terbukti setelah menelpon Gilang keluar sambil membawa serta burungnya.


" Ayah ini kenapa lomba burung terus." Ucap Ilmi dengan nada kesal.


" Udah sana kamu tidur. Nanti malam ayah ajak ke taman kota." Ucap Gilang.

__ADS_1


" Bohong."


" Sudah sana tidur."


" Ayah jahat." Kesal Ilmi lalu masuk ke dalam kamar


Nina hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa berkata apa-apa. Nina sudahlah jika berbicara tentang bilang yang suka lomba burung. Pernah sekali Nina juga pada bab perihal Gilang ya hampir setiap minggu, terkadang terlalu sering lomba burung. Dan jawaban Gilang selalu sama. Daripada dia bermain wanita lebih baik bermain burung.


" Aku lomba burung juga pakai uangku." Ucap Gilang.


Disitu Nina merasa bahwa segala sesuatu Gilang yang mengatur, artinya jika Gilang memberi Nina uang maka uang itu tidak boleh habis. Jika habis maka Gilang akan marah dan terjadilah perdebatan diantara mereka. Namun jika Gilang yang menghabiskan uangnya untuk lomba burung atau semacamnya, Gilang tidak akan marah karena memang Gilang yang mencari uang.


Fix berarti disini aku dan anak-anakku hanya menumpang menyambung hidup. Batin Nina.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2