Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Teman Senasib


__ADS_3

" Aku akan pergi memancing." Ucap gilang di suatu siang.


" Sepedanya jangan dibawa nanti ilmi mengaji."


" Aku akan memancing dengan temanku."


" Ya sudah kalau begitu."


Setelah gilang pergi memancing. Nina mulai mempersiapkan tas dan keperluan ilmi untuk mengaji.


" Bunda hari ini ngaji?" Tanya ilmi, yang terbangun saat ini nah masih mencari gamis untuk dipakai Ilmi mengaji.


" Iya, sudah ayo cepat mandi."


Setelah memandikan Ilmi, Nina juga mulai bersiap dan mengantar Ilmi mengaji yang jaraknya sekitar 5 km dari rumah kost Nina.


Nina mulai memperhatikan Ilmi mengaji, dan seperti biasa nina selalu sibuk mengasuh anak guru ngaji Ilmi.


Nina saat senang mengasuh anak laki laki eka, yang bernama azril.


" Gimana suami?" Tanya Eka saat jam istirahat.


" Ya, masih seperti biasa."

__ADS_1


" Sabar siapa tahu nanti berubah."


" Ya namanya juga watak nggak akan berubah sampai kapanpun. Watak itu ibarat batu, mau dipukul di hancurin namanya tetap batu, keras."


" Iya sih. Tapi Tapi nggak sampai memukulkan?" Tanya eka.


" Sejauh ini sih enggak terakhir kali yang aku cerita ke kamu itu."


" Ya udah selama enggak mukul juga nggak apa-apa."


" Kalau sampai mukul sih aku langsung pulang. Kamu itu lo, apa rahasianya kok bisa betah sama suamimu" Jawap nina.


" Aku nggak tahu, aku masih merasa bahwa suatu saat suamiku akan berubah."


" Entahlah aku kadang juga lelah, di sini aku yang cari nafkah tapi dia yang marah-marah kurang apa coba Aku ini. tempo hari aku sampai minta tolong sama dia. Tolong carikan uang karena aku sudah ditagih terus-terusan sama pemilik kos, aku nunggak 3 bulan."


" Terus dia mau?"


" iya dan aku nggak tahu dia itu dapat uang dari mana. Dia ngasih aku 2 juta, dia ngasihnya malam hari, terus paginya, diambil lagi. Padahal aku belum megang uang itu lo."


" La terus gimana?"


" Nggak tahu lah. Kadang aku pusing, aku anak pertama dalam keluarga, tapi malah aku yang sering minta kepada orang tuaku kadang juga aku minta pada adikku."

__ADS_1


" Haha, sama aja. aku juga kadang minta sama ibuku kadang sama ayahku, buat jajan ilmi. Mau gimana lagi, suami kalau ngasih selalu pas. Sedangkan si ilmi doyan jajan. bukannya aku enggak bersyukur tapi coba deh bayangin dia ngasih aku 100.000 suruh hemat, sampai 2 minggu apa bisa?"


" Ya gak bisa bu. Kadang aku juga nggak ngerti pikirannya para suami itu kayak gimana sih sebenarnya?. dia itu ngasih uang ke kita tanpa mau tahu kebutuhan itu kayak gimana." Ucap eka.


" Iya ya orang laki-laki itu, kalau untuk jajannya sendiri nggak masalah abis berapapun Tapi kalau uangnya ada di istrinya habis selalu saja marah."


" Iya sama aja kayak suamiku kayak gitu. bayangin dia ngasih aku 500.000 tapi dia nggak ngasih lagi selama 2 bulan. Ya terus aku makanya dari mana Kalau nggak dari bulanan ngaji anak-anak."


" Nggak tahulah kadang aku juga lama-lama stres. Pengen nyerah."


" Sabar ingat ada Ilmi."


" Iya terkadang kalau aku ingin nyerah aku lihat kamu, mungkin aku lebih beruntung daripada kamu, jadi aku akan sangat malu jika aku yang menyerah sedangkan di sini kamu yang cari nafkah."


" Nah itu, disini kita saling menguatkan aja. Bersama sama berdoa, semoga suami kita diberikan hidayah dan dibukakan pintu hatinya."


" amin..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2