Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Cerita dilanjutkan


__ADS_3

" halo anak ayah hanya sampai juga, kemari peluk ayah." Ucap Gilang saat Ilmi dan Nina baru saja tiba.


Setelah beberapa saat anak dan ayah itu saling melepas rindu, Gilang mengajak Nina dan Ilmi untuk masuk ke dalam kamar kost, kamar yang dulu pernah ditempati Nina dan Gilang, saat pertama kali mereka menikah. kini Nina dan Gilang kembali menempati kamar itu.


Ceklek...


Pintu terbuka, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada lemari sederhana pemberian tetangga, sebuah meja dan kasur lantai.


" Maaf tidak ada apa-apa." Ucap Gilang.


" Tidak apa-apa, bukankah kita sepakay akan memulainya dari nol lagi."


" Yah kau benar."


Nina kemudian memandikan Ilmi sebelum dia membongkar barang bawaannya. Setelah menidurkan Ilmi. Nina mulai menata barang yang dia bawa dan meletakkannya ke dalam lemari.


Malam harinya, Nina menata beberapa susun selimut untuk tempat tidur ilmiah agar dia merasa nyaman.


" Uang pembayaran sepeda masih dibayar 4.000.000. Sisa nya akan dibayar minggu depan." Ucap nina pada Gilang.


" Ya sudah tidak apa-apa, kita cari sepeda yang murah-murah saja dulu. Yang penting kita mempunyai sepeda, di sini susah jika tidak punya sepeda kita, tidak bisa kemana-mana."


" Ya sudah bawa saja uang 4juta itu besok untuk mencari sepeda."


" Ya aku akan meminta bantuan joko nanti, untuk menemaniku mencari sepeda. Sudah malam sebaiknya kita tidur."


....


Pagi harinya ini terbangun dengan sedikit rewel, mungkin karena alas tidur yang tidak sempurna saat tidur diatas kasur.


" Kenapa sayang badannya sakit ya?" Tanya Nina.


" Iya besok beli kasur ya bunda.." Ucap polos ilmi.


" Iya nanti kalau ayah sudah punya uang kita beli kasur."


" Sama beli TV juga ya.."


" Sementara Ilmi nontonnya lewat laptop ya nanti malam kita pergi ke pasar malam mau beli kaset ini mau kan??" Tanya nina


" iya Ilmi mau.."


" Tapi tunggu ayah sudah punya sepeda ya, Ayah masih pergi mencari sepeda bersama pakde Joko."


" Ilmi mau lihat film di laptop boleh?"


" Boleh dong sayang, Ilmi nonton ya bunda memasak."


" Iya bunda."


Setelah menyalakan laptop dan memutarkan film untuk Ilmi, Nina mulai memasak. Hingga tak beberapa lama kemudian Gilang pulang."


" Nda, sepedanya seharga 3.800.000."

__ADS_1


" Ya sudah tidak apa-apa masih sisa 200 toh?


" Yang 200 tadi aku buat beli makananku dan joko, kebetulan kami berdua tidak sarapan. jadi saat sudah mendapatkan sepeda aku mengajak Joko makan di warung."


" Ya sudah tidak apa-apa mau bagaimana lagi."


" Ayah belikan Ilmi kasur dengan TV." Rengek ilmi pada Gilang.


" Iya nanti tunggu uang sisa dari pembayaran sepeda ya.."


....


Beberapa hari kemudian, Nina menelpon sang ayah dan menanyakan kapan kiranya sang ayah akan melunasi uang kekurangan sepeda.


" Tunggu papa sudah gajian ya nanti papa kirim." Ucap sang papa melalui sambungan telepon.


" Kalau bisa Nina minta tolong jangan lama-lama ya, kasihan Ilmi setiap bangun tidur selalu merengek. Karena kami tidurnya di kasur lantai."


" Iya akan papa usahakan secepatnya."


Tut. panggilan dimatikan...


Selang dua hari kemudian, papa Nina menepati janjinya. Dia mengirimkan sejumlah uang, kekurangan dari pembayaran sepeda. Nina langsung mencari kasur dan TV bekas di sosial media.


" Ini ada yah, kasur seharga 350 nego tv-nya 300.000 17 in. Semua masih bisa dinego. Siapa tahu dapat 500 keduanya."


" lokasinya di mana?"


" Jauh sekali ongkos pickupnya 100.000."


Nina masih perlu bermain dengan ponselnya, karena dia sedang mengchat penjual yang memposting barangnya untuk dijual.


" Dikasih 500 yah."


" Coba bilang bisa antar ke sini nggak 600 ya nggak apa-apa. Coba lihat mana video kasur dan tv-nya"


Nina kemudian memberikan ponselnya kepada Gilang, setelah beberapa saat bilang melihat beberapa video yang dikirimkan oleh penjual..


" Kasur busa ya?"


" Iya tidak apa-apa kan untuk sementara. Inijuga mumpung TV dan kasur 1 orang yang jual. Jadi sekalian." Ucap nina.


" Layar Tv nya juga terlihat merah.., jangan-jangan tv-nya rusak."


Gilang menyerahkan ponsel kepada nina.


" Terus gimana orangnya udah mau ni ngantar barangnya ke sini. Ini dia baru saja wa."


" Ya sudah tidak apa-apa."


Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, ponsel Nina berdering panggilan dari nomor tidak dikenal..


" Halo Bu, ini saya yang jual TV dan kasur, saya sudah ada di di jalan yang ibu katakan, Saya harus ke mana sekarang?"

__ADS_1


" Setelah belok kanan ada kos di sanalah saya."


" Nggak ada kok Bu cuma rumah aja."


" Sebentar saya keluar..."


" Yaya saya ya yang naik mobil putih."


Saat nina keluar, masih dalam sambungan telepon...


" Bapak pak kelewatan putar balik ini saya sudah di jalan."


Nina melambaikan tangan kearah mobil putih. Lalu orang yang ada di dalam mobil itu membalas lambaian t.angan nina.


" Oke oke, saya putar balik sekarang."


Setelah sampai, Gilang dibantu orang itu mengangkat kasur dan TV.


" Ini uangnya ya."


Nina menyerahkan sejumlah uang kepada orang tersebut.


" Saya hitung ya Bu,"


" Ya silahkan."


Setelah beberapa saat..


" Pas ya bu, terima kasih kalau begitu saya permisi."


" Ya.."


Nina kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Ilmi melompat-lompat di atas kasur. Sepertinya dia senang karena sekarang dia punya kasur dan juga TV.


" lho kan layar TV nya merah usaha ini tv-nya." Ucap gilang.


" Pantas aja orangnya mau harga murah." Imbuh gilang.


" Lalu bagaimana?"


" besok saja aku bawa ke tukang servis sekarang aku akan kerja dulu."


" Hmmm, baiklah."


Nina bersyukur, walaupun layar tv-nya merah. Setidaknya sudah ada TV agar Ilmi dapat menonton film kembar botak kesukaannya. Dan juga, ada kasur empuk untuk mereka tidur.


Nina kemudian menelpon ayahnya, dan mengucapkan terima kasih karena sudah membayar uang sisa pembayaran sepeda. Jadi dia bisa membeli sebuah TV dan kasur walau itu barang bekas.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2