Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Semoga Saja Tidak


__ADS_3

Beberapa bulan setelah nya, Virus mengerikan menyerang Indonesia. Kebijakan Lock down hampir diterapkan ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Bali.


" Ini, untuk bekal lock down." Ucap Gilang sambil memberikan Sepuluh lembar uang merah.


Nina mengambilnya dan menyimpannya baik baik. Empat belas hari, bukanlah waktu yang sebentar bagi Nina, mengingat sembako dan bahan pokok lainnya terus mengalami kenaikan harga.


Tok


Tok


Tok


" Siapa?" Tanya Gilang.


" Tidak Tahu."


Nina lalu segera membuka pintu.


" Ini, dari bu bos, buat bekal lock down." Kata kakak ipar sambil menyerahkan sebuah kantung plastik besar berwarna putih.


" Terima kasih ya."


" Iya, Ilmi kemana?" Tanya kakak ipar berbasa-basi.


" Itu tidur, kembar kedengarannya belum tidur ya ?"


" Iya, masih mainan." Ucap Kakak ipar sambil berjalan pulang.


" Terima kasih Lo."


" Iya."


Nina lalu membawa kantung plastik itu ke dapur untuk melihat isinya.


" Siapa?" Tanya Gilang dari kamar mandi.


" Mama nya kembar, ngasih sembako. Katanya dari bu bos, buat bekal lock down."


" Oh, isi nya apa?"


" Beras 5kg, minyak 1 liter, kecap dan beberapa mie instan." Ucap Nina sambil mengeluarkan semua barang dari kantong plastik, dan menatanya ke tempat lain.


" Ya lumayan lah." Ucap Gilang.


" Iya."


...

__ADS_1


14 hari berlalu, Namun Gilang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan lagi. Jadilah Nina terpaksa menggunakan uang tabungan yang ada untuk menyambung hidup.


Pagi hari di minggu kedua bulan April. Nina merasa ada sesuatu yang terlewat.


" Seperti nya bulan ini aku belum datang bulan." Ucap Nina sambil mencari ponsel nya, dan melihat catatan pada aplikasi kalender haid.


" Terlambat 5 hari."


Nina tidak cemas, karena sejak 9 bulan lalu, saat dia memutuskan untuk tidak KB apapun, atau memilih KB alami, jadwal datang bulan selalu berantakan.


" Untung aku masih punya persediaan obat pelancar datang bulan." Ucap Nina yang langsung meminum obat itu.


Tiga hari berlalu, Nina mulai resah. Karena dia hampir menghabiskan 2 tablet obat pelancar haid, namun dia tidak kunjung datang bulan.


Malam harinya, Nina memutuskan untuk membeli jamu. Sudah menjadi kebiasaan, menjelang datang bulan hingga kapsul tidak mempan, maka Nina akan membeli jamu.


" Belum datang bulan juga?" Tanya Gilang.


" Belum."


" Ya bagus dong, berarti masih bisa dipakek."


" Enggak ah, kita berhenti dulu sebelum aku datang bulan." Ucap Nina.


Nina mulai resah dan gelisah. Ini sudah 1 minggu dia telat datang bulan. Nina langsung membeli beberapa sprite dan salah satu minuman yang biasa dikonsumsi menjelang haid.


Nina merasa sensasi panas dalam tenggorokan dan perut nya, karena minum minuman bersoda.


" Aku harus bisa." Ucap Nina sambil mencoba menghabiskan 1 botol kecil sprite.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Nina berdering.


" Halo farah?"


" Hai kak, bagaimana udah haid?"


" Belum."


" Coba beli jamu xxx di toko jamu."


" Ada?"


" Ada, tapi kata mamaku, jamu itu akan membuat perut terasa sangat panas."


" Hmm, baiklah. Nanti aku akan coba."

__ADS_1


" Kak.."


" Ya.."


" Kalau ternyata kakak hamil gimana?" Tanya Farah.


" Jangan lah. Kalau bisa jangan, kakak masih belum siap. Mengingat sifat Gilang yang masih belum berubah serta keegoisan nya yang masih bisa muncul kapan pun." Terang Nina.


" Ya sudah, aku doakan kakak tidak hamil."


" Makasih. Nanti malam, Kakak akan coba beli jamu seperti yang kamu katakan tadi."


" Bye kak."


" Bye.."


..


Malam harinya, dengan alasan membelikan Ilmi makanan, Nina keluar seorang diri, dia lebih dulu mampir ke toko jamu langganan untuk membeli jamu yang dikatakan oleh Farah.


" Mas ada jamu XXX." Ucap Nina setengah berbisik kepada penjual jamu.


" Belum datang bulan juga ya mbak?" Tanya penjual itu, sambil mulai mencari jamu yang di maksud Nina.


" Belum."


" Jamu ini mau gak?, istri ku juga pernah telat 2 Minggu. Setelah minum ini langsung haid." Ucap penjual jamu sambil menunjuk bungkus jamu kepada Nina.


" Boleh deh, saya ambil 2, sama jamu yang saya bilang tadi."


" Oke, bungkus."


Malam hari nya, saat Gilang pergi ke rumah temannya. Nina meminum jamu yang baru saja di belinya itu. Dan berharap dia akan segera datang bulan.


Tepat tengah malam, Nina merasakan sakit yang luar biasa pada perut nya. Panas seperti terbakar. Nina sekuat tenaga menahan rasa panas yang seakan membakar seluruh isi perut nya.


" Semoga ini pertanda bahwa aku akan segera datang bulan." Ucap Nina.


Tuhan, jangan biarkan aku hamil sebelum ekonomi keluarga ku membaik. Jangan biarkan aku mempunyai anak lagi sebelum aku mempunyai tabungan sendiri. Karena setelah ini aku akan bekerja untuk masa depan Ilmi. Batin Nina.


Malam itu, Nina menangis dalam diam, berharap dirinya akan segera datang bulan.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2