
Beberapa hari ini sepertinya suasana hati Gilang sedang baik, terbukti dia memberiku uang cukup banyak dari biasanya. Dan juga tidak ada drama saat Ilmi meminta uang jajan.
Beberapa malam menjadi waktu yang santai bagi Nina, karena tidak ada lagi perdebatan dan juga raut muka kesal dari Gilang.
Seperti biasa, setelah menidurkan anak-anak Nina memulai kembali hobi barunya menulis.
Nina berniat mencoba mendekati Gilang untuk berbicara dari hati ke hati. Karena Nina sadar bahwa yang kurang dari hubungan mereka adalah komunikasi.
Dan belum juga Nina mendekati Gilang, Gilang sudah lebih dulu membuka obrolan.
" Ini lo nda, cara nabung agar kita mempunyai uang simpanan." Ucap bilang sambil menunjukkan sebuah postingan di salah satu media sosial.
" Lo, aku bisa menabung seperti itu atau kamu memberiku uang dengan benar."
" Benar gimana?"
" Ya, selalu memberiku uang sebelum uang belanja ku habis."
" Kok jadi menyalahkan aku, harusnya kamu kan menggunakan kepandaianmu. Bagaimana membuat uang yang aku berikan cukup untuk belanja dan untuk menabung. Masak kamu tidak bisa menyisihkan uang 1000/2000 setiap harinya." Ucap Gilang.
" Bisa, aku bisa menabung bahkan kapan hari aku dapat mengumpulkan sejumlah uang, sehingga totalnya mencapai seratus ribu. Tapi karena kamu yang selalu marah setiap Aku mengatakan jika uang belanja habis, dan juga terkadang marah kepada Ilmi saat dia meminta uang jajan. Membuat aku terpaksa menggunakan uang tabungan yang sudah aku kumpulkan."
" Ya itu tandanya kamu tidak pandai mengatur keuangan." Ketus Gilang.
" Kok jadi aku, padahal aku sudah berusaha sehemat mungkin menekan pengeluaran. Coba saja kamu memberiku uang yang pas dan cukup untuk belanja, jadi aku tidak harus meminta saat uang belanja habis."
" Kamu pikir aku gampang mencari uang, Jika kamu tidak sabar menunggu ku untuk mendapatkan uang kenapa bukan kamu sendiri yang bekerja dan menghasilkan uang." Ucap Gilang.
" Kenapa jadi kamu yang marah, harusnya aku yang marah aku yang protes karena kamu tidak memberiku uang yang cukup untuk belanja. Coba kalau untuk lomba burung habis berapa pun tidak masalah."
" Kenapa kamu selalu membahas soal itu taruh jika kita sedang berbicara."
" Tentu saja, setiap Aku mengatakan jika uang yang kamu berikan habis kamu selalu marah. Tapi saat kamu menghabiskan uang untuk lomba burung kamu bahkan tidak marah ataupun tidak protes."
" Tentu saja, karena aku yang mencari uang, lagi pula aku melakukan itu tidak setiap hari kan. Dan aku juga butuh hiburan untuk menghibur pikiranku agar tidak selalu memikirkan tentang pekerjaan."
Nina menghela nafas panjang, Nina sudah tidak lagi merasa kaget. Karena hal ini biasa terjadi saat Nina mencoba berbicara dengan lembut kepada Gilang. Dan ujung-ujungnya pasti selalu seperti ini, Gilang yang tidak terima disalahkan dan selalu ingin menang dalam perdebatan. Akhirnya obrolan itu ditutup dengan saling diam dan fokus pada gawainya masing-masing.
Ok Fix, berarti jika aku yang menghabiskan uangnya dia marah. Tapi Jika dia sendiri yang menghabiskan uangnya maka tidak akan marah dan tidak akan terjadi pertengkaran. Fix berarti aku disini hanyalah menumpang menyambung hidup. Batin Nina.
...----------------...
Pagi harinya, Gilang diam dan tidak mengajak bicara Nina, hal itu tentu saja membuat Nina sedikit kesal. Bukankah seharusnya dia yang merasa kesal kepada Gilang tapi kenapa justru Gilang yang kesal terhadap Nina.
" Waktu santai yang berantakan." Gumam Nina.
Ya, Nina harus merelakan waktu santai beberapa hari yang dia rasakan kini telah usai. Nina harus kembali menatap wajah kesal bilang setiap saat.
Jika saat mereka berselisih paham, Nina lah yang mengalah dan selalu berusaha untuk mencairkan suasana. Tapi kini, jika mereka sedang berselisih paham maka Nina tidak lagi melakukan itu. Nina justru memilih ikut diam.
__ADS_1
Drrrttt drrrttt drrrttt
Notifikasi ponsel Nina.
" Iya rim?"
" Sibuk gak?"
" Enggak kok, ada apa, ada apa?"
" Hmm."
" Loh, kok hem?"
" Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Nina terdiam, suara Rimba seperti mewakili perasaannya yang sudah kacau saat ini.
" Katakan dengan perlahan."
Hening, untuk beberapa saat hening.
" Aku lelah." Ucap Rimba.
" Karena??"
" Ada apa dengan kehidupan mu?"
" Rumit, kau tahu kan pekerjaanku tidak memberikanku penghasilan yang pasti dan juga tidak mencukupi untuk keluargaku. Ditambah lagi sepertinya intan sedang hamil."
" Bukankah itu berita yang sangat menggembirakan?"
" Tidak untuk ku, kau tahu kan karena keuanganku tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan berat hati aku mengizinkan intan untuk bekerja. Aku merasa bukan laki-laki lagi. Aku merasa tidak becus menjadi seorang suami, aku tidak becus mencari uang untuk keluargaku sehingga aku membiarkan istriku bekerja."
" Tidak apa, mungkin ini adalah ujian pernikahanmu. Kau harus bisa dan harus kuat, percayalah jika suatu saat keadaan akan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sekarang."
" Ya aku tahu hanya saja.."
" Rimb, kebanyakan nyaman harapan yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Tapi kita tetap harus menjalaninya dengan lapang dada bukan?" Ucap Nina.
" Ya kau benar."
" Dan soal ekonomi, aku sendiri juga bisa dibilang sangat kurang untuk masalah ekonomi, Tapi itu tidak harus mempengaruhi hubungan kalian berdua kan?. maksud ku kamu maksud detail membahagiakan Intan dengan cara lain, dengan menambah kasih sayang dan perhatian misalnya. Apalagi kemungkinan besar Intan hamil. Jadi kamu harus bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih kepadanya. Soal ekonomi, percayalah jika suatu saat akan ada jalan dihadapanmu."
" Iya, bagaimana dengan ceritamu?"
" Aku?, hahah. Cerita masih sama seperti dulu tidak pernah berubah sedikitpun. Bolehkah aku menyerah sekarang?"
" Jangan, kau selalu menyemangatiku ketika aku berada dalam masalah, tapi kenapa kau sendiri justru akan menyerah dengan masalah hidup mu sendiri."
__ADS_1
" Entahlah Rimba, aku merasa lelah dengan semua ini. Aku hanya memikirkan apa alasan lain untuk tetap mempertahankan pernikahan ini selain karena anak-anak."
" Kamu sih, aku minta kamu untuk mencintaiku kamu tidak mau."
" Mulai lagi deh.."
" Hehe, maaf. Tapi aku jujur, aku masih menyayangi mu seperti dulu."
" Ingat Intan." Ucap Nina.
" Haha, intan sedang mengajar di sekolah dan aku juga sedang berada di kantor untuk mengurus pekerjaanku yang tidak selesai."
" Jadi begitu?"
" Hehe."
" Rimb, dengar. Aku berat kamu akan selalu mengingat kata-kata aku, bahagia kan selalu Intan. Walaupun kalau tidak bisa membahagiakannya lewat materi tapi bahagiakan dia dengan cara lain. Seperti cintai dia sayangi dia dan berikan perhatian kepadanya. Kau tau akan sangat menyakitkan bagi wanita jika suami nya tidak lagi memberikan kasih sayang."
" Nin..."
" Aku bersungguh-sungguh rim, aku ingin kau berjanji bahwa kau akan selalu membuat Intan bahagia apapun yang terjadi, bahagia kan dia walaupun kalian diterpa ujian materi."
" Tentu, aku akan selalu membuat istriku bahagia, dan aku juga berharap bahwa kamu akan menemukan kebahagiaan."
" Sudah dulu ya, aku harus mengajari Ilmi belajar."
" Baiklah. Nin..."
" Ya??"
" Jangan lupakan bahwa kau masih mempunyai diriku yang akan selalu setia mendengarkan keluh kesahmu."
" Tentu."
Tut
Panggilan berakhir Nina meletakkan kembali ponselnya.
Rimba, jauh dalam lubuk hatiku makasih ada cinta untukmu. Kau tahu, aku benar-benar mengerti apa itu cinta setelah aku bertemu denganmu. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak memaksakan kehendak dari masing-masing pihak. Aku sangat bersyukur bahwa aku mencintai lelaki sepertimu. Cinta dan kisah kita kelak akan aku ceritakan kepada anak dan cucuku. Aku akan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara untuk membahagiakan pasangan dan juga menemukan cinta yang tepat. Batin Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1