Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Kabar kepulangan ibu


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, nina mendapat kabar, bahwa sang ibu akan pulang dari negeri Jiran.


Nina sangat senang, dan dia meminta izin Gilang untuk pulang, agar bisa ikut menjemput sang ibu.


" Ya sudah, tapi aku tidak punya cukup uang, untuk biaya mu pulang."


" Tidak apa apa, aku sudah mendapat pinjaman uang, ibu bilang dia akan mengganti nya setelah sampai di Indonesia."


" Kapan ibumu pulang?" Tanya gilang.


" Sekitar 2 minggu lagi."


" Ya sudah, kau segera memesan travel. Pulanglah lusa atau tiga hari lagi. Jadi kau bisa menemani ibuku sebelum ibu mu pulang." Ucap gilang.


" Ya. Aku akan mampir ke rumah ku, dulu. Setelah itu, baru aku akan pulang ke rumah mu bersama adikku."


" Ya. terserah kau saja."


Tiga hari kemudian, Nina akhirnya ada di dalam perjalanan pulang. Dia emang kamu sebentar lagi akan bertemu ibunya, namun dia juga sedih kalau meninggalkan gilang. Walaupun selama ini Gilang lebih banyak berlaku kasar padanya, tapi saat mereka akan berpisah Nina tentu saja merasa sedih.


" Hati hati ya, jangan lupa selalu menelpon ayah." Ucap gilang pada ilmi.


" Iya ayah."


Cup


Gilang mencium ilmi, kemudian dia mencium kening Nina.


blush...


Nina merasakan getaran cinta dalam hati nya. Seandainya sikap Gilang selalu lembut seperti ini. Pasti lah Nina, menjadi salah satu dari kelompok wanita paling bahagia di dunia ini.


" Kami pulang dulu ya ayah." Ucap nina sembari mencium punggung tangan Gilang.


" Ya, kabari aku nanti."


Nina mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil.


Mobil pun berjalan, Ilmi melambaikan tangan ke arah gilang.


" Bye ayah.." Teriak ilmi.


Nina melihat gilang juga ikut melambaikan tangan ke arah Ilmi. Nina terharu melihat pemandangan itu, ada apa sakiti hatinya saat dia meninggalkan Gilang.


" Aku mencintaimu Gilang, semoga setelah ini aku akan berubah." Lirih nina sambil mengusap matanya yang mulai berair.


Sepanjangan perjalanan, Nina dan Gilang saling berkomunikasi lewat aplikasi hijau. Nina merasa sangat bahagia, karena sikap bilang sangat manis dan lembut. Gilang juga memanggil Nina dengan sebutan sayang. membuat Nina merasakan kembali masa-masa saat dia pedekate dengan gilang.


(kamu gak tidur sayang) pesan dari Gilang.

__ADS_1


(iya ini mau tidur Sepertinya aku sudah mulai mengantuk) balas Nina.


(Ya sudah tidur nanti kabarin aku jika sudah menyeberang) pesan dari gilang.


(Ya sudah kalau begitu aku tidur dulu ya. kamu jangan lupa tidur juga jangan begadang) balas Nina.


(siap sayang. Ya sudah selamat tidur 😘) balas bilang lengkap dengan emoticon cium.


Nina tersenyum saat membaca pesan terakhir dari Gilang. Lalu dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan bersiap untuk tidur karena perjalanan ini masih sangat panjang.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam, Nina dan ilmiahnya sampai di rumah kontrakan milik Nina. Terlihat adik Nina Dwi sudah menunggu di pinggir jalan, karena memang sebelumnya Nina sudah mengirimkan pesan kepada Dwi agar menunggunya di pinggir jalan. Jadi, dwi bisa membantu Nina membawa barang bawaan milik Nina.


" Halo Tante Wi aku sangat rindu tante." Ucap ilmi, saat turun dari mobil dan langsung menghampiri Dwi dan memeluknya.


" Iya tante juga kangen sama adik. Yuk sekarang kita pulang, Tante sudah membelikan jajan untuk Ilmi."


" Hore terima kasih Tante."


Sesampainya di dalam rumah, Nina segera mencari kakek dan mencium punggung tangan nya.


" Baru sampai berangkat jam berapa travelnya tadi malam?" basa-basi kakek Nina.


" Sekitar pukul 9."


" Oh ya termasuk masih sore ya. Tapi kok nyampeknya siang?. Dulu waktu aku kembali ke rumah paman aku dijemput pukul 7, dan subuh Aku sudah sampai disini."


" Suami kamu tidak ikut?"


" Tidak karena pekerjaannya sedang sepi, jadi uangnya cuma cukup untuk biaya aku dan Ilmi pulang."


" Kapan katanya ibu mau pulang?"


" katanya sih 1 minggu lagi."


" oh ya sudah, aku pikir ibumu ingin aku yang menjemputnya, ternyata ibu mu malah menyuruh mertuanya yang menjemput. Padahal kan ibu mu itu, belum pernah ketemu dengan mertuanya, Kenapa bisa dia malah menyuruh orang lain untuk menjemputnya bukan ayahnya sendiri." Ucap kakek nina.


" Kata ibu, karena barang-barang ibu yang dikirim oleh suaminya ditujukan ke alamat mertuanya. Jadi sang suami menyuruh ibunya untuk jemput istrinya. karena dia mau ih share-nya langsung tinggal di sana Dan tidak pulang ke sini." Terang nina.


Setelah mengatakan itu Nina pamit untuk beristirahat, entah si Kakek paham atau tidak perkataan Nina.


Nina berada di rumahnya selama 5 hari, dan selama 5 hari itu, gilang tidak lagi bersikap baik. Sesekali dia mengajak Nina bertengkar karena Nina terlalu lama ada di rumahnya.


Seperti biasa, Gilang selalu bertengkar dan mengatai Nina segala macam kata buruk yang menyakiti hati Nina. Membuat cinta yang awalnya tumbuh kini menjadi layu lagi.


Nina mencoba menumbuhkan lagi perasaan itu dengan membuka kembali, album foto saat dirinya dan Gilang sedang dalam masa-masa pendekatan. Namun, rasa kecewa yang dirasakan Ina tidak mampu menumbuhkan lagi perasaan itu.


Akhirnya nina dan dwi menuju kota Gilang, 2 jam. Mereka menempuh perjalanan itu dengan menggunakan sepeda motor.


Saat mereka sudah hampir sampai di rumah gilang, ban sepeda motor milik Dwi pecah. Untung saja pecah ban itu terjadi tepat di depan sebuah bengkel. jadi nina segera membawa motor Dwi menuju bengkel yang langsung mengganti ban nya.

__ADS_1


" Kenapa ban sepedanya?" Tanya wanita yang mungkin istri dari pemilik bengkel.


" Tidak tahu apakah bocor atau apa?" Ucap nina.


" Biar aku periksa dulu." Ucap seorang laki-laki yang keluar dari dalam rumah.


Beberapa saat kemudian..


" Ini banyak sudah pecah karena sudah terlalu tipis, mau diganti yang baru atau yang bekas?"


Nina dan Dwi saling berpandangan.


" Mbak beli ban luarnya aku beli ban dalamnya gimana?" Ucap dwi.


Nina mengangguk tanda setuju.


" Ya sudah pak diganti saja, ban luarnya yang bekas aja dulu ya, karena uangnya untuk kebutuhan yang lain."


" Siap. Ya sudah duduk dulu sambil menunggu aku mau perbaikin motornya." Ucap laki laki tadi.


Setelah Nina dan dwi serta ilmi duduk. Dwi menyerahkan selembar uang berwarna biru kepada nina.


" Ini untuk membeli ban dalam sepeda motorku."


" Tidak usah, bawa saja. Insyaallah uangku cukup." Kata nina.


Drttt drrrrtt drrrttt


Ponsel nina berdering, panggilan dari gilang.


" Halo?" Jawab nina.


" Apa itu ke mana saja sih jadi pulang ke rumah hari ini atau tidak?. Jangan-jangan itu hanya alasanmu saja" Ketus gilang.


Karena tidak ingin berdebat nina mematikan ponselnya, lalu mengirimkan foto yang berisi sepeda motor Dwi yang sedang diperbaiki di sebuah bengkel.


(Oh ya sudah. Aku kira kau tidak jadi pulang hari). Pesan dari gilang.


Nina tidak membalasnya, Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sungguh sebenarnya ia enggan untuk kembali ke sana.


Setelah ban sepeda selesai diperbaiki, Nina melanjutkan perjalanan menuju rumah mertua nya.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2