
" Hiks hiks hiks hiks.."
Nina yang barusaja menidurkan Ilmi menjadi terkejut, karena Ilmi yang tadi pamit bermain tiba-tiba pulang dalam keadaan menangis dengan telinga yang di jewer Gilang.
" Ada apa?" Tanya Nina.
Brug !!
Gilang melempar Ilmi ke atas kasur.
" Kamu itu tidak becus jadi ibu, anak di biarkan main sampai ke kost atas. Bukan nya di ajarin membaca, kamu malah enak enakan tidur." Ketus Gilang.
" Aku tidak tidur, aku barusaja nidurin Akifa."
" Alasan saja kamu. Awas kalau aku melihat Ilmi sampai main ke atas lagi." Ketus Gilang, kemudian segera ke belakang untuk makan siang.
Ilmi masih menangis di pelukan Nina.
Kenapa selalu saja menyalahkan ibu, apakah seorang ibu seperti ku memang tidak becus mengurus anak?
" Awas kamu sampai main ke atas lagi." Ucap Gilang sambil menunjuk Ilmi sebelum akhirnya dia kembali bekerja.
" Belajar yuk." Ucap Nina. Ilmi menggelengkan kepalanya.
" Ya udah, ayo tidur."
Nina melihat ke arah jam, pukul 13.00. Nina akhirnya memutuskan untuk tidur agar Ilmi juga tidur.
Sore harinya...
" Tolong jaga kan Akifa sebentar, aku mau meneruskan cuci piring dan memasak untuk makan malam." Ucap Nina.
" Kamu itu tidak tahu ya jika aku baru saja pulang dan ingin beristirahat." Ketus Gilang.
Karena tidak ingin berdebat Nina akhirnya melakukan pekerjaan sore itu sambil menggendong Akifa, padahal dia tahu betul bahwa Gilang sudah pulang sejak 2 jam yang lalu. Bukan kah menjaga Akifa tidaklah sulit?.
" Ayah, ayo ke senggol." Rengek Ilmi.
" Kamu tidak tahu jika aku sedang lelah. Aku ingin istirahat. Karena sebentar lagi harus kembali bekerja. Kamu itu terlalu banyak jajan."
Sungguh hati Nina sangatlah sakit mendengar yang dikatakan Gilang, bukankah dulu Gilang sangat mendambakan seorang anak. Tapi kenapa sekarang sikap Gilang berubah apakah sikapnya berubah karena himpitan ekonomi, atau karena aku yang tidak bisa memberikan keturunan seorang anak laki-laki.
Nina ingat betul, dulu Gilang juga menyalahkan kan hari kelahiran Nina. Karena hari kelahiran Nina dengan hari kelahiran Gilang jika dipadukan dan dihitung menurut Jawa, menyebabkan mereka tidak bisa memiliki tabungan. Dan Gilang mempercayai hal itu karena pernikahan yang hampir menginjak usia 6 tahun tidak pernah bisa memiliki tabungan sepeserpun.
Beberapa hari terakhir Gilang lebih sering marah karena rasa lelahnya. Bekerja dengan temannya tidak membuat Gilang menjadi lebih baik, justru semakin memperkeruh keadaan.
Setiap Malam, Gilang selalu minta pijat Nina, jika Nina menolak Gilang langsung marah dan berkata segala macam hal.
....
" Ayo ke pantai." Ucap Gilang di suatu sore.
" Ayo." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.
__ADS_1
" Nanti jam 3 ya. Nunggu ayah menyelesaikan pekerjaan ayah."
" Siap bos." Ucap Ilmi.
Setelah menidurkan Akifa dan Ilmi. Nina segera berkemas. Memasukkan pakaian ganti untuk Akifa dan Ilmi. Serta memasak lauk untuk bekal msksn mereka di pantai nanti.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo yah?" Ucap Nina.
" Sudah siap?, anak anak masih tidur apa sudah bangun?"
" Masih tidur."
" Ya sudah, sebentar lagi aku akan pulang."
" Iya."
Tak lama setelah Nina mematikan telepon nya. Ilmi terbangun.
" Bunda, ayah sudah datang?"
" Belum. Tapi ayah akan segera pulang."
" Jadi ke pantai?"
" Jadi dong. Sana cuci muka.," Perintah Nina, karena nina sedang sibuk memasukkan kotak bekal kedalam tas.
" Lo, adik juga sudah bangun." Ucap Ilmi yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai mencuci muka.
" Halo?"
Nina menggendong Ilmi kemudian meletakkan kembali di atas kasur karena Nina akan berganti pakaian.
" Temenin adiknya ya kak." Ucap Nina.
" Oke."
Dengan cepat Nina segera berganti pakaian karena dia mendengar suara sepeda motor Gilang. Dan benar saja setelah Nina baru saja selesai berganti pakaian Gilang masuk ke dalam kamar.
" Lo, anak Ayah sudah bangun semua nya." Ucap Gilang yang langsung menggendong Akifa.
" Bawakan juga aku baju ganti." Ucap Gilang kepada Nina
" Sudah, aku hanya membawakan Celana."
" Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat."
" Ayo."
Gilang lebih dulu keluar sambil menggendong Akifa, sedangkan Nina membawa tas dan meletakkannya di depan sepeda motor. Lalu mereka berjalan menuju pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di pantai, Nina segera melepas popok yang dikenakan oleh Akifa. Dan membiarkan Akifa dibawa oleh Gilang untuk bermain air.
__ADS_1
Setelah memastikan tasnya aman. Nina segera menghampiri Gilang dan Ilmi yang terlihat bersenang-senang sambil bermain air pantai. Nina mulai menyuapi Ilmi dan Akifa secara bergantian.
Setelah makanan nya habis, Dina segera mengembalikan kotak makan itu ke dalam tas. Lalu mengambil ponsel untuk mengabadikan momen itu.
Hmm, seandainya keluarga kami selalu terlihat sebahagia ini. Pasti hari-hariku akan jauh lebih berwarna. Anak anak sangat bahagia sikap Gilang manis, pastilah Aku tidak akan melampiaskan kekesalan ku kepada Ilmi. Maafkan bunda nak, bunda sungguh bukan ibu uang baik. Batin Nina.
Namun, harapan tinggal harapan. Kebanyakan memang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Nina yang berharap besar akan perubahan sikap Gilang hanya bisa menelan pil pahit. Karena mereka selalu saja cekcok jika menyangkut soal uang.
" Baru kemarin aku memberimu uang. Masak sudah habis." Ucap Gilang.
" Ayah ngasih aku 300ribu. Untuk beli keperluan mandi dan Akifa saja sudah 100ribu. Belanja ke pasar juga 100ribu. Belum untuk Ilmi, jika dia minta jajan."
" Ck." Gilang mendengus kesal sambil memberikan selembar uang berwarna merah kepada Nina.
" Hemat nda. Kalau begini terus bagaimana kita bisa menabung. Kamu tidak bisa ya menyisihkan sebagian dari uang belanja."
" Bisa, aku bisa menabung. Tapi uang itu selalu ku pakai lagi saat aku tidak memiliki uang untuk belanja ataupun uang jajan Ilmi."
" Ya di kontrol dong jajan nya Ilmi. Jangan di loss."
" Coba kamu kalau ngasih aku uang itu yang benar."
" Memangnya selama ini aku ngasih uang ke kamu tuh nggak bener?"
" Ya, maksud aku jangan setengah-setengah ngasihnya. Jangan nunggu aku minta lalu kamu baru memberikan aku uang."
" Kalau aku tidak ada uang dan belum dapatkan uang bagaimana bisa memberikanmu sebelum kamu minta."
Nina memilih diam. Karena jika dilanjutkan juga percuma karena Gilang tidak akan mau kalah dan tidak mau disalahkan. Nina paham betul berapa uang yang didapat Gilang jika pekerjaannya selesai, Tapi bilang tidak pernah memberikan semua uang itu kepada Nina. Entah kenapa tapi selalu saja Nina hanya mendapat bagian sepertiga dari hasil yang didapat Gilang. Sungguh sangat tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dengan dua anak.
Nina mulai memutar otak, mencoba berselancar di dunia maya dan mencari tahu apa-apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Lalu, Nina mulai tertarik dengan aplikasi yang menawarkan cuan kepada mereka yang bisa menulis atau membuat cerita yang menarik.
Nina langsung menginstal aplikasi isi novel berwarna biru dan juga hijau. Namun ekspresi kita tidak sesuai dengan realita. Ternyata Nina sangat susah mendapatkan pembaca di aplikasi menulis berwarna hijau. Jadilah dia mencoba menulis di aplikasi warna biru. Dengan harapan dia kan bisa menghasilkan cuan dari menulis.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...