Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
ketidaknyamanan


__ADS_3

Hari raya, harusnya hari saling bersilaturahmi. Saling mendatangi rumah sanak saudara. Namun bagi nina momen itu tidak mungkin bisa ia lakukan. Sebab kehamilan ini membuatnya hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur, jangankan untuk keluar rumah, berdiri saja sudah membuatnya mual hebat.


" Coba saja kalau istrimu KB dulu, pasti saat ini kalian bisa berkunjung ke sanak saudara." Suara ibu terdengar dari kamar nina.


" Memang kenapa sih bu, kalau istriku hamil. Apa ibu tidak suka, jika aku punya anak?" Ucap galang.


" Bukan begitu, kalau begini kan sanak saudara tidak ada yang tau istrimu siapa. Jangankan untuk pergi. Menemui sanak saudara yang datang ke rumah kita saja, istrimu tidak bisa menemui mereka." Ketus ibu.


" Kalau misal istri ku KB dulu, lalu bernasib seperti keluarga bang harun bagaimana?, ibu mau aku tidak punya keturunan." Jawap galang.


" Ya bukan gitu maksud ibu.."


Bla bla bla, ibu dan anak itu terdengar berdebat dengan spekulasi masing². Nina memilih memejamkan mata, pura² tertidur. Hingga sebuah pelukan mengejutkannya.


" Apa perutmu masih sakit?" Ucap galang sambil memegang perut nina.


" hmmm, rasanya lebih baik saat kau tekan."


" Tidurnya, setelah ini kita akan periksakan kandungan mu."


" Tidak usah, hal ini normal menurut bidan. Dan juga aku malu harus bolak balik ke bidan yang sama. Bayangkan saja, kau mengajakku kesana 5x dalam 2 minggu."


" Hmm, baiklah. Ayo tidur."


...----------------...


Beberapa hari kemudian...


" Nda, ayo kita ke klinik Dr. Elvi. Kata mbak tia, dia adalah dokter kandungan yang cukup bagus, tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini."


" Hmm, baiklah"


" Apa kau kuat untuk berjalan."


Nina hanya membalas dengan anggukan, setelah galang memakaikan nina jaketnya. Mereka pergi menuju klinik Dr. Elvi.


" Selamat siang, ada yang bisa kamu bantu." Resepsionis.


" Saya mau USG "


" Apa sebelumnya ibu sudah pernah datang kesini?"

__ADS_1


" Belum.."


" Baik, tunggu sebentar ya bu. Karena ini kali pertama ibu kesini, jadi akan saya buatkan kartu kunjungan dulu ya"


Beberapa saat kemudian...


" Ini kartu kunjungan ibu, harap dibawa saat akan kontrol selanjutnya. Mari saya antar ke ruang pemeriksaan."


Tok tok tok


ceklek...


" Mari bu silahkan, bapak juga boleh ikut."


" Kita tensi dulu ya, ibu ada keluhan."


" Pening, lemes, Mual muntah dok, dan kalau susah muntah, terasa sangat sulit untuk berhenti, sampai cairan yang di muntah kan berwarna kuning."


" Bagaimana makan dan minumnya?"


" Tidak bisa masuk dok, sekali makan langsung muntah.".


" Nah karena itu, karena tidak ada makanan masuk membuat asam lambung ibu jadi naik."


" Kita liat dulu ya." Dokter meletakan gel di perut nina, kemudian mulai menggerak-gerakkan alat.


" Usia kehamilan genap 2 bulan ya, ini kantung rahimnya sudah terlihat besar. Dan... bakal janin nya ini sangat kecil." Menunjuk titik hitam pada layar.


" Harusnya ini sudah keliatan, ini terlalu kecil untuk usia kehamilan 2 bulan."


" Lalu bagaimana dok?"


" Apa ada yang bisa masuk ke tubuh ibu selain makanan? susu ibu hamil?"


" Saya bisa berhenti muntah kalau minum atau makan sesuatu yang dingin dan manis dok." Terang nina.


" Susu hamil?"


" Kalau hangat muntah dok, tapi kalau dingin tidak."


" Ya tidak apa, minum susu hamil di beri es batu."

__ADS_1


" Tapi dok, kata ibu mertua nanti bayi nya besar"


" Justru sekarang ini, mengejar BB janin bu, karena janin ini dibawah ukuran normal, tidak apa makan atau minum yang dingin, kalau udah memasuki TM 3 baru tidak bolehnya bu. Atau begini saja. Saya kasih waktu 2 minggu. Kalau masih seperti ini, terpaksa ibu harus rawat inap disini. Demi bayi ibu."


" Baik dokter."


Setelah mengurus administrasi, dan menebus obat. Nina dan galang memutuskan langsung pulang.


" Lusa aku berangkat ke bali, kau tinggal lah dulu disini sampai kondisimu membaik. Lagipula 2 bulan lagi 100hari ayahku. Biar kamu tidak perlu bolak² jawa-bali."


" Hmm, baiklah."


Sepeninggalan galang, nina kira akan senyaman rumah sendiri. Ternyata dia salah, banyak omongan yang membuatnya merasa tidak nyaman.


" kalau bangun siang, makanan sudah matang baru bangun"


" Kerjaannya tidur saya, padahal dulu aku hamil anak 2 tidak begitu"


" Dia terlalu berlebihan"


" Tiap hari minumnya es, nanti bayinya besar"


" Makan nya pilih²."


Dan masih banyak lagi yang tak bisa di jelaskan dengan kata².


.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2