Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Flashback Gilang (POV Gilang)


__ADS_3

( Berdasarkan cerita yang bersangkutan, dan beberapa sumber yang lain)


" Besok kalau sudah menikah, tidak perlu lagi bekerja. Cukup membantu ku menjaga toko. Kamu tinggal disini saja, aku akan membuatkan rumah untuk kalian." Ucap Ayah dari pacarku, Mila.


Usiaku baru 20 tahun, tapi aku sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Aku sudah merantau ke Bali setiap usiaku 17 tahun. Aku bekerja ikut kakakku, bantu kakakku dan menjadi pengrajin perak dan emas.


Aku dan Mila sudah berpacaran kurang lebih selama 2 tahun, dan selama itu hubungan kami terutama dengan keluarga sangat baik dan dekat. Mila seringkali mengajak keluargaku liburan dengan menggunakan mobil. Ya aku akui keluarga Mira memang sangat kaya.


Sangking kayaknya sampai Ayah Mila mengatakan jika kami sudah menikah aku tidak lagi perlu bekerja. Beliau bahkan akan membuatkan rumah untuk kami. Dan tentu saja itu sangat bertentangan dengan prinsipku.


Aku laki-laki, aku yang harusnya menafkahi istri. Bukan Aku yang akan dimaafkan oleh keluarga istriku.


Mila adalah wanita yang cantik, siapapun pasti bahagia jika menjadi kekasihnya. Terutama diriku, tapi apalah dayaku. Aku masih muda, aku masih suka berkelana dan memacari para wanita. Aku juga pernah berselingkuh dengan sahabat dekat Mila. Dan anehnya Mila selalu saja memaafkanku, ya walaupun mendapat maafnya sangat susah dan butuh perjuangan.


lalu di saat puncak kedekatan aku dan Mila, sebuah badai akan menghantam hubungan kami. Sehingga mau tidak mau hubungan kami harus dipisahkan.


" Weton kamu dengan Mila tidak cocok, jadi kamu tidak boleh lagi berhubungan dengannya. Cari saja wanita yang lain." Ucap Orangtuaku.


Aku?, tentu saja aku sangat kecewa. Aku hampir tidak lagi bersemangat untuk bekerja, tapi aku sadar. Aku adalah tulang punggung keluargaku, kakakku yang sudah berumah tangga tidak lagi fokus pada ada orang tuanya. Adikku masih sekolah dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Jadi aku memilih untuk menekuni pekerjaanku demi menghidupi keluargaku. Ayahku yang juga sakit-sakitan membuatku harus ekstra semangat dalam mencari uang.


Hari itu, Seperti biasa aku membeli rokok di supermarket dengan cat biru.


" Rokok Mal*ro putih."


" Satu?"


" Iya lah."


" 25 ribu." Ucap Kasir yang aku tahu bernama Nita.


Nita Cantik, dan karena aku sering membeli rokok di tempat Nita bekerja. Membuat ku kembali merasakan perasaan cinta lagi.


Aku berusaha mendekatinya meminta nomor ponselnya, Namun sepertinya aku bukanlah tipe dari Nita. Terbukti Aku tidak pernah bisa mendapatkan hati dan perhatiannya.


Setiap kali aku datang untuk membeli rokok buka lagi Nita yang berada di meja kasir, Tapi Novi. Dan aku dengan Nita sudah dipindahtugaskan ke Lombok.


" Nov, carikan aku teman untuk chattingan."


" Hmm, siapa ya?, apa pendekatan mu dengan Kak Nita tidak berjalan dengan lancar?" Tanya Novi.


" Ya, harusnya kamu bisa menilainya sendiri. Dia sekarang sudah dipindahtugaskan ke Lombok, saat di sini saja aku sangat sulit untuk mendapatkan hati dia juga perhatiannya. Apalagi sekarang."


" Ya sudah nanti aku carikan."


Lama aku menunggu nomor seseorang yang akan Novi berikan kepadaku. Dan siapa sangka melalui Novi aku mengenal Nina.


Pertemuan pertama biasa saja, karena memang saat itu aku hanya kesepian.


Pertemuan kedua dan ketiga, kenapa aku jadi merasa benar-benar suka padanya.


Dengan keberanian aku mengajak Nina untuk menikah. Aku mengajaknya menikah setelah hari raya Tahun itu.


Namun, rencana ku yang akan mengajak Nina untuk bertunangan batal, karena ayahku harus dibawa ke rumah sakit Malang. Mengingat kondisinya yang semakin memburuk.


Hingga saat Nina membantu menjaga ayahku yang saat itu dibawa ke rumah sakit Malang, aku semakin yakin untuk mengajak Nina menikah.


Namun siapa yang sangka dan menduga bahwa pernikahan kami akan dipercepat. Beberapa minggu setelah meninggal nya ayahku, Paman dan sebagian dari keluargaku datang kerumah Nina untuk meminta Nina.


Seperti mimpi, aku dan Nina kini menjadi pasangan suami istri. Aku tentu sangat bersemangat karena aku yang sejak awal sudah sangat menginginkan anak, dan berharap anak pertama ku adalah laki laki.


" 70% saya bisa bilang jika bayi bapak dan ibu adalah perempuan."

__ADS_1


Penjelasan dokter membuat ku sedikit kecewa, sehingga dalam perjalanan pulang setelah kontrol kehamilan aku memilih diam. Rasanya Aku ingin protes tapi sudahlah.


" Masih ada 40% Untuk berharap bahwa anak ku akan lahir laki laki." Lirihku.


Namun ternyata, anak pertama ku adalah perempuan. Walaupun kecewa tapi aku bersyukur karena ternyata aku dan Nina bisa memiliki keturunan.


Hari demi hari, aku merasa Nina semakin membangkang. Dia selalu saja menolak jika aku memintanya untuk pulang ke rumah ku, dan lebih lama berada disana untuk menemani ibuku yang hanya tinggal sendirian.


Sebenarnya ibuku tinggal dengan adikku Namun karena adikku seorang laki-laki dan sering bermain dan pulang larut malam. Aku menjadi kasihan kepada Ibu karena dia tidak ada teman. Aku berharap setelah menikah Nina akan menuruti semua keinginanku karena aku untuk tetap tinggal di rumah menemani ibuku.


" Apa kamu masih belum sadar juga suka ibuku sendiri yang di dalam rumah." Ucap ku penuh emosi kepada Nina, saat dia terus ah Jangan beri alasan ketika aku memintanya untuk pulang ke rumah.


" Kamu itu istri durhaka, tidak pernah mendengar perintah suami."


Aku sering cekcok dengan Nina setiap kali Nina pulang dari Bali dan singgah di rumahnya terlebih dahulu. Yang aku harapkan adalah Nina lebih dulu pulang ke rumah aku bukan ke rumahnya.


Tapi nyatanya Nina selalu beralasan karena rumahnya lebih dulu dilewati saat pulang. Karena itu dia memilih untuk tinggal lebih dulu di rumahnya.


Sejujurnya aku tidak suka, ditambah adikku yang selalu mengatakan jika Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ilmi. Membuat ku semakin emosi Kaka la Nina selalu beralasan setiap kali aku menyuruhnya untuk pulang. Bahkan Aku Tidak segan untuk mengancamnya bercerai jika Nina tak kunjung kembali ke rumah.


Dan, hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi, Nina di hakimi seluruh keluarga ku, aku merasa malu mempunyai istri membangkang seperti Nina.


Ku Lihat Nina menangis, tapi tidak pernah terbersit dalam pikiran ku untuk menenangkannya, Aku justru semakin memaki-maki ini nah setelah semua keluargaku pergi.


Selama berapa hari aku mengetahui bahwa Nina mengurung diri di kamar bersama Ilmi.


" Dimana Ilmi?" Tanya Ibuku.


" Dikamarnya, biarkan saja biarkan dia mengintropeksi diri nya sendiri agar dia tahu di mana letak kesalahannya." Ucapku.


Satu Minggu kemudian, aku kembali ke Bali sendirian untuk mengemasi barang-barang di kost. Karena aku sudah memutuskan akan tinggal bersama dengan ibuku. Aku tidak menggubris pendapat nilai yang mengatakan jika aku jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Tapi tekadku sudah bulat aku akan tinggal di sini menemani ibuku, jadi aku akan selalu bisa mengawasi gerak-gerik Nina jika dia berbuat ulah lagi.


Aku menjual sepeda motor kesayangan ku untuk menutup hutang dan juga biaya sewa kendaraan saat mengangkat barang-barangku dari Bali menuju rumah. Setelah membeli sepeda motor dengan harga murah, sisa uangnya kuberikan kepada Nina agar dia bisa membuka usaha.


Nina sudah memutuskan bahwa dia akan berjualan pulsa dan juga jajanan untuk anak-anak.


Bulan pertama dan beberapa bulan setelahnya jualan Nina semakin hari semakin membaik, penjualannya meningkat tajam dan pelanggannya juga bertambah banyak.


Saat itu aku bangga karena hidup di kampung dan tidak merantau juga bisa membuat kebutuhan terpenuhi. Namun tidak bagi Nina, justru mengatakan bahwa hidup di sini ataupun di Bali sama saja. Sama dalam artian bahwa kita tetap saja tidak bisa menabung dan mengisi kesusahan soal keuangan.


" Beda lah, disini kita tidak membayar uang kos, dan juga kebutuhan terpenuhi lagipula di sini kan semuanya tidak semua hal saat kita berada di Bali." Ucap ku.


" Iya, itu karena sekarang jualanku sedang laris, bayangkan jika nanti usahaku mulai menurun dan sampai akhirnya aku tidak dapat memenuhi kebutuhan kita."


" Itu tidak akan terjadi." Sergah ku.


Aku terus saja menyela apa yang dikatakan oleh Nina. Dan lama kelamaan aku mulai memikirkan apa yang dikatakan Nina ternyata benar adanya.


Penghasilan ku yang terlalu sedikit setiap bulannya membuat aku selalu bertengkar perihal uang dengan Nina.


Dan aku juga kehilangan semangat bekerja karena gaji yang aku terima sedikit, dan berbanding terbalik dengan pendapatan saat aku ada di Bali.


Penghasilan Nina berkurang, dia lebih sering mengeluh Karena Dia menderita kerugian yang sangat besar. Aku semakin frustrasi karena nyatanya aku tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Ternyata selama ini aku bisa karena mendapat bantuan dari Nina.


Dan sekarang, aku membiarkan Nina mencari penghasilan tambahan dengan membuat sikat. Aku sering melihat biar tidak tidur saat malam hari karena harus mengejar target setoran.


Aku berpikir semalam. Lalu aku memutuskan akan kembali merantau ke Bali.


Dengan berat hati, Aku mengatakan kepada Nina untuk menunggu beberapa bulan sebelum dia memilih untuk ikut kembali.


LDR dengan anak istri cukup menyiksa. Namun, itu sepertinya memperbaiki hubungan ku dengan Nina. Aku pasti kembali pada masa pacaran kami dulu, saling mengirim pesan mesra dan saling merindukan satu sama lain.

__ADS_1


Enam bulan kemudian, aku menyuruh Nina untuk menyusulku ke Bali Karena aku sudah mendapatkan kamar kost. Dan ternyata kami kembali menempati kamar kos kami dulu yang pernah aku tempati saat aku lajang hingga menikah dengan Nina.


Wanita yang aku rindukan, kini telah kembali bersama ku. Aku bersyukur karena memiliki Nina, wanita yang tidak pernah mengeluh, walaupun dia sudah tahu bahwa aku tidak bisa memberikan apapun kepadanya, tapi dia tidak pernah memperlihatkan bahwa dia sangat kecewa padaku.


" Maaf ya, karena aku tidak bisa membelikan tempat tidur untuk kita bertiga."


" Tidak apa apa, jika nanti ayahku sudah membayar uang kekurangan sepeda uang itu akan kita berikan untuk membeli kasur."


Malam itu, aku sangat bahagia karena akhirnya aku dapat berkumpul kembali bersama dengan anak dan istriku.


Dan,


Kebahagiaan yang aku pikir dapat bertahan lama ternyata tidak. Imbas dari Covid membuat pekerjaan ku sangat sepi, aku juga sering cekcok dengan Nina.


Terkadang Aku kesal karena uang yang aku berikan kepada Nina selalu saja habis, danina selalu mengungkit pengeluaran kuyang membeli rokok dan terkadang memang lomba burung.


" Lebih baik aku lomba burung daripada aku bermain wanita kamu pilih yang mana?" Ucapku saat Nina mengomel saat aku pulang dari lomba burung.


" Ya main perempuan saja sana Aku lebih senang." Ketus Nina.


Hari berlalu, kami semakin sering cekcok, membuat ku semakin pusing. Jadi aku memutuskan untuk pergi memancing setiap sore hari.


Pusing ku semakin bertambah tak kalah Nina mengatakan jika dirinya telah hamil 2 bulan.


Sungguh berita ini sangat memberatkan diriku, mengingat kondisi ekonomi yang masih sangat jauh dari kata stabil. Namun apa daya, mengugurkan nya justru semakin menambah dosa.


" Yah, ada kasur murah." Ucap Nina saat diriku sedang bekerja.


" Tapi aku tidak punya uang."


" Kalung Ilmi saja dijual. Aku juga sudah meminta izin ibu, jika kalung pemberian nya akan aku gunakan untuk biaya persalinan."


Walaupun berat, akhirnya aku mengiyakan apa yang dikatakan Nina. Sebenarnya aku tidak mau, karena kalung Ilmi sebelumnya juga sudah dijual.


Hari kelahiran anak kedua kami pun tiba, aku yang sangat berharap akan mendapatkan anak laki-laki, lagi lagi harus menelan pil pahit. Karena ternyata anak kedua ku juga berjenis kelamin perempuan.


Aku coba menghibur diriku dengan mengatakan kepada Nina, mungkin memang sudah takdir hanya diberi titipan anak perempuan.


Aku berharap setelah ini, ekonomi keluarga akan membaik, namun justru semakin terpuruk. Hal itu kembali membuat ku dan Nina sering bertengkar. Aku lelah karena Nina sangatlah bodoh dan tidak pandai mengatur keuangan. Dia selalu saja menghabiskan uang yang aku berikan bahkan terkadang aku memberinya dua ratus ribu, dan habis dalam waktu 3 hari. Apa Nina tidak tahu pusingnya aku yang mencari uang.


Untuk itu aku memilih pergi memancing dan terkadang lomba burung untuk menghilangkan rasa jenuh ku. Aku sudah lelah karena bekerja seharian, dan sampai dirumah malah meminta uang dengan alasan beberapa keperluan sudah habis.


Dengan muka kesal, aku memberi Nina selembar uang. Tak jarang aku pemarah ini nah karena aku rasanya enak terlalu boros. Dan anehnya Nina selalu membandingkan dengan uang rokok ku juga uangnya aku keluarkan setiap aku lomba.


" Mangkanya bekerja biar punya uang, jangan hanya tidur saja."


Kata yang sering aku lontarkan ketika Nina mau minta uang dariku untuk membeli sesuatu yang dia inginkan.


Entahlah, Aku sungguh ku merasa lelah bekerja, ditambah bertahun-tahun pekerjaan Aku tidak pernah bisa memiliki tabungan sepeserpun.


Sebenarnya aku sangat berharap Nina akan bekerja, seperti wanita pada umumnya yang tinggal di kos-kosan ini. Mereka semua bekerja,sedangkan suami mereka yang bertugas mengurus anak-anak.


Aku juga sering sekali merasa kesal saat ini selalu saja minta uang jajan kepadaku.


Tak jarang aku juga memarahinya sebagai imbas dari rasa lelah ku bekerja.


Aku kita tidak tahu apakah selamanya kehidupan keluargaku akan seperti ini. Ingin membuka usaha tapi tidak mempunyai modal, karena jika hanya mengandalkan dari bekerja sebagai pengrajin perak dan emas tidak akan punya masa depan.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2