Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Harus aku bahagia?


__ADS_3

Keesokan paginya nya, saat Nina pergi ke pasar, dia menyempatkan diri untuk membeli Testpack yang letaknya tidak jauh dari pasar.


Sesampainya di rumah, Nina mulai menggunakan alat itu.


Nina sedikit terkejut karena saat dia BAK, airnya berwarna hijau ke biruan.


" Ini pasti karena aku telah meminum berbagai macam jenis jamu." Lirih Nina.


Setelah mencelupkan alat tes kehamilan itu, Nina menunggu dengan penuh ketegangan.


" Garis satu Garis satu."


Nina terus berdoa agar alat itu tidak menunjukkan garis dua.


Namun harapan tinggalah Harapan. Garis itu menunjukkan garis dua yang sangat terang.


" Tidak!!!"


Nina memejamkan mata, lalu memasukkan alat itu lagi ke dalam bungkus nya, dan menyimpannya di tempat yang tidak dapat ditemukan ole Gilang.


" Testpack nya pasti salah. Pasti rusak karena aku terlalu banyak minum jamu. " Lirih Nina sepanjang dia memasak.


Hari berikutnya, Nina mencoba mengetes nya kembali. Dan hasilnya tetap sama. Garis dua.


" TIDAK. Jangan."


Nina menangis sambil memukul-mukul perutnya sendiri, dia berlompatan di kamar mandi. Lalu Nina segera menghubungi Farah.


" Halo Farah."


" Ada apa kak?"


" Aku hamil."


" Astaga, selamat ya kak."


" Tidak. Aku tidak ingin kehamilan ini. Kau harus membantu ku. Aku ingin obat yang pernah kau bilang dulu "


" Baiklah, aku akan menghubungi teman ku dulu."


" Tapi, aku tidak punya uant sebanyak itu, untuk membeli obatnya."


" Kakak pikirkan saja dulu dengan benar. Jika sudah yakin tidak menginginkannya. Maka hubungi aku."


" Baiklah."


Nina mematikan telepon. Dia kembali pada aktivitas nya. Memasak, membersihkan rumah serta merawat Ilmi.

__ADS_1


" Sudah datang bulan belum?" Tanya Gilang


" Belum." Jawab Nina tanpa menoleh ke arah Gilang, karena dia sedang menyuapi Ilmi.


" Tidak kau coba untuk di Testpack?" Tanya Gilang.


" Sudah, garis satu."


" Baguslah. Berarti karena haid tidak lancar." Ucap Gilang.


" Kalau misalnya garis 2 gimana?"


" Ya, kalau bisa jangan karena aku sendiri tidak siap untuk memiliki anak lagi. Kau tahu kan, ekonomi kita pas-pasan tunggulah saat kita mempunyai tabungan baru kita mempunyai anak lagi." Ucap Gilang.


Setelah sarapan gila meninggalkan rumah untuk mulai bekerja kembali. Dan tidak beberapa lama kemudian mereka datang berkunjung ke rumah Nina.


" ASSALAMUALAIKUM."


" Waalaikumsalam, Bunda ada adek Asril. Asril sini ayo turun." Ucap Ilmi dengan penuh semangat.


" Dimana bunda?" Tanya Eka.


" Bunda masih mandi." Ucap Ilmi.


Setelah cukup lama Eka menunggu akhirnya Nina selesai mandi dan berganti pakaian.


" Hai, darimana?" Tanya Nina basa-basi.


" Oh."


Nina hanya ber'O'ria sambil mengoles wajahnya dengan make up tipis.


" Ohya, gimana?"


Nina yang tahu maksud dari pertanyaan Eka langsung mengambil sebuah tespek yang disembunyikan di dapur, lalu memberikannya kepada Eka.


" Wah selamat yaa." Ucap Eka saat mengetahui bahwa tespek itu garis 2.


Nina terdiam.


" Tapi aku tidak mau hamil."


" Kenapa?"


" Kamu tahu sendiri kan hilang seperti apa?, bagaimana aku bisa menerima kehamilan ini jika Gilang masih bersikap seperti itu kepadaku."


" Iya sih, tapi kan anak itu rezeki."

__ADS_1


" Aku tahu, karena itu aku mencoba untuk menghilangkannya dariku sebelum dia semakin besar. Aku sudah minum berbagai macam jenis jamu. Tapi garis nya tetap ada dua."


" Jangan ah." Cegah Eka.


" Kenapa?"


" Apapun yang terjadi antara kamu dan suamimu, itu bukan salah dari janin yang kamu kandung. Lihat saja walaupun kamu sudah memberinya jamu abcd tapi dia tetap aja kan?"


" Hmmm." Nina berdehem, dalam hati dia membenarkan apa yang baru saja Eka katakan.


" Bayangkan, bagaimana perasaan janin itu saat mengetahui dia tidak diharapkan oleh ibunya."


Nina terdiam dan menatap Eka.


" Lebih baik jangan, siapa tahu anak itu akan membawa perubahan pada sikap Gilang. Merubahnya menjadi suami yang lebih baik dan bertanggung jawab pada keluarga."


" Berapa persen perubahan itu?" Tanya Nina.


" Ya aku tidak tahu pasti, yang jelas berharap kamu boleh. Sebaring berharap kita juga berdoa."


" Entahlah Aku tidak yakin karena jika aku berkaca dari dirimu. Dan aku juga sudah memberi tahu jika watak itu tidak akan pernah bisa berubah." Ucap Nina.


Hening.


Mereka sama sama terdiam. Nina dan Eka melihat Azriel dan Ilmi yang sedang asyik bermain.


" Sudah pertahanan saja."


" Tapi.."


" Nina, janin itu tidak bersalah. Kita sudah banyak dosa, jangan menambah dosa dengan membunuh kehidupan yang bahkan belum lahir ke dunia ini." Terang Eka.


Nina terdiam dan larut dalam pemikirannya sendiri.


Apa yang harus aku lakukan Tuhan, di sisi lain aku juga tidak ingin menggugurkan kandunganku. Tapi di sisi lain aku belum siap karena sikap bilang yang masih tidak berubah. Batin Nina.


" Pikirkan lagi sebelum kamu melakukan sesuatu yang mungkin akan kamu sesali di kemudian hari." Ucap Eka sebelum akhirnya dia pulang.


" Iya, terima kasih saran nya."


" Tapi Aku sungguh berharap kamu akan mempertahankan kehamilan ini."


Nina tersenyum sebelum akhirnya mengantar kepulangan Eka.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2