
Nina mulai putus asa. Semakin hari, dia merasa bahwa kebahagiaan semakin berjalan menjauh.
Nina seakan tidak mempunyai harapan kepada siapapun lagi.
" Hmm, Aku akan mencoba itu tambah lagi mengeluh dia menjalani apa adanya. Ku anggap penebusan dosa. Walaupun Aku tidak tahu dosa apa yang telah aku perbuat sehingga hidupku menjadi begitu rumit seperti ini."
Nina mendengar bahwa seseorang akan mendapatkan pasangan sesuai dengan cermin dan dirinya sendiri. Jadi Nina berfikir mungkin dia punya kesalahan di masa lalu sehingga mendapatkan suami seperti Gilang, yang egois keras kepala dan juga selalu ingin menang sendiri dalam segala hal.
Walaupun semua saudara Ibu Nina mengatakan jika yang terjadi pada Nina seperti yang terjadi pada ibunya saat nikah dengan ayah Nina dulu.
" Apakah ini karma dari orangtua ku?" Lirih Nina.
Nina juga sempat mengatakan keluh kesah terhadap suaminya kepada sang ayah. Dan Anda juga mengatakan bahwa yang terjadi padanya saat ini karena ulah sang ayah di masa lalu. Namun, sang ayah berdalil dan mengatakan dia tidak pernah berlaku begitu.
__ADS_1
" Aku tidak pernah menjatah uang belanja kepada ibumu. Dan Aku sangat menyayangi ibumu walaupun aku kan dua katanya tapi sungguh aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku juga tidak melarangnya jika ingin pulang ke rumah." Begitu kira-kira yang diucapkan oleh sang ayah.
Namun-hal itu bertentangan dengan apa yang didapatkan Nina saat dia menceritakan tentang rumah tangga ke saudara sang ibu.
" Sabar ya, yang kamu alami mengatasi sepatu yang ibumu alami dulu. Cuma bedanya setelah melahirkan adikmu ibumu berani dan memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Setiap kami ibumu datang berkunjung ke sini ibumu selalu membawa sedikit demi sedikit pakaiannya. Lalu, saat pakaian ibu mau tidak lagi tersisa di rumah Ibu mertuanya, ibumu lantas langsung penolak saat ayahmu menjemputnya hendak membawanya kembali pulang."
" Seandainya aku punya keberanian seperti ibu" lirih Nina.
" Entahlah, terkadang saat dia membuatku merasa sangat terluka Aku ingin pergi di hari itu juga. Namun saat ini aku sudah membara tiba-tiba rasa kasihan muncul dalam diriku. Aku tidak tega jika meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini. Dulu saat kami menikah perekonomian kami begitu baik hingga mungkin berada di atas garis hijau. Tapi sekarang perekonomian kami begitu menurun drastis, aku sangat tidak tega jika meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Aku berpikir jika aku menyerah karena keadaan ekonomi yang seperti ini. Itu artinya walaupun aku menikah 5 kali aku tidak akan bisa bertahan dalam keadaan jika Tuhan mengujiku dengan ekonomi lagi."
" Tapi untuk apa bertahan jika kau tidak merasakan kebahagiaan lagi."
" Aku tahu, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin kedua putriku mengalami hal yang sama seperti yang aku rasakan dulu. Karena keegoisan orang tua aku jadi tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka, dan tidak mengenal ayam baik dan juga buruk apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Aku juga tidak rela jika kedua putriku diasuh oleh bibu mertua, aku tidak akan rela. Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa kedua putriku jika berada di sana. Aku ingin sekali bekerja ke luar negeri agar bisa mewujudkan masa depan kedua putri yang lebih baik. Tapi aku takut jika gila mengambil kedua Putri ku dan membawanya pergi jauh tanpa bisa kuraih. Aku tidak bisa membayangkan mereka memiliki ibu tiri yang ternyata kejam. Aku juga takut jika nanti aku memilih menyerah kedua Putri ku akan merasakan penyesalan dan juga mungkin marah seperti yang aku alami sekarang."
__ADS_1
" Kau marah?"
" Ya, terkadang aku marah kenapa aku terlahir dari keluarga yang berantakan. Sehingga kejadian ini menimpa ku. Aku juga menyesali kenapa kedua orang tua ku tidak ada yang benar benar peduli padaku. Dan hari ini aku juga mulai menyerah karena aku tidak bisa menghasilkan cuan dari tulisanku."
" Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
" Entahlah. Mungkin aku akan menyerah m. Lelah, hati dan batinku sungguh lelah."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1