
" Dasar kamu bla bla bla bla.."
Gilang mengoceh semalaman sebab Nina yang tidak ingin melayani Gilang.
Brug !!
Gilang melempari Nina dengan bantal dan guling.
Crakk !!
Sebelum nya juga Gilang sudah merobek pakaian dalam Nina.
" Dasar luknut."
" Sudah aku bilang besok saja, aku benar-benar sedang merasa pusing." Keluh Nina.
" Kamu itu hitam, sok kebanyakan gaya. Bla bla bla bla bla.."
Nina memilih untuk tidak mendengarkan, dan terus memejamkan mata. Berharap akan segera terbang ke dunia mimpi.
Jika memang aku yang telah bersalah karena menolak ajakan suami, biarlah Tuhan yang mencatat dosa ku. Tuhan yang tahu bagaimana keadaan ku. Dan sejujurnya aku juga sudah sangat enggan untuk melayaninya. Karena dia selalu saja memikirkan kenikmatannya sendiri, tanpa mau tahu apakah aku juga merasa kenikmatan seperti yang dia rasakan. Batin Nina.
__ADS_1
Malam itu, butiran air mata menghiasi malam Nina.
Paginya..
Seperti biasa, jika Gilang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Maka, dia akan berpura-pura seolah-olah Akifa tidak ada.
Nina memilih diam, dan tetap memasak sebaring mengendong Akifa.
" Ayah mau kemana?" Ucap Ilmi.
" kerja."
Jawaban yang singkat padat dan jelas. Tidak ada kata lagi yang diucapkan oleh Gilang. Dia langsung pergi begitu saja setelah mandi.
" Hei, kenapa kok tumben berangkat pagi?" Tanya Mama Elsa.
" Biasa lah."
" Loh."
Satu tahun terakhir, Nina mempunyai teman kos yang kehidupan rumah tangga nya hampir sama dengan Nina, hanya bedanya Suami Mama Elsa masih giat mencari uang ketimbang Gilang.
__ADS_1
" Aku jadi berpikir, apa isi dari rumah tangga adalah bercocok taman terus" Ucap Nina.
" Ah sama saja seperti suamiku. Dia malah lebih kasar mengatai ku, jika aju menolak ajakannya."
Nina dan Mama Elsa kemudian saling bercerita tentang kehidupan nya dan juga rumah tangga nya.
Saat jam makan siang, Nina lebih dulu mengambilkan nasi untuk Gilang kemudian memilih kembali duduk bersantai didepan pintu masuk rumah pemilik kos.
Semilir angin, membuat hati Nina merasa tenang, dia membiarkan angin itu menerpa wajahnya. Menyapu rasa kecewa yang ada di hatinya. Walaupun hanya sesaat tapi setidaknya Nina bisa merasakan tenang.
Gilang pulang, tapi tidak ada sedikitpun niat Nina untuk kembali masuk ke dalam rumah dan menemani Gilang saat makan siang.
Nina membiarkan dirinya tetap duduk sambil menikmati hembusan angin yang menyejukkan jiwa.
Saat itu Nina merasa apalah arti kehidupan Nina sekarang. Kenyataan ini semakin lama semakin membuat Nina kehilangan semangat untuk tetap hidup.
Tuhan, apa aku pernah berbuat dosa di masa lalu, Kenapa cobaan ini begitu berat aku rasakan. Aku yang terlahir dari keluarga broken home, tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga. Tidak diajari apa yang harus dilakukan dan tidak, bahkan aku belajar sendiri tentang mana yang baik dan juga yang buruk. Salahkan jika aku mengharapkan sebuah kasih sayang dari suami?. Berharap akan mendapatkan kebahagiaan dari hubungan rumah tangga yang sudah terjalin dengan pria yang menjadi pilihanku. Apakah Aku punya dosa kepada suamiku?, apakah aku mempunyai dosa kepada orang lain. Sehingga Tuhan menghukum ku dengan tidak membuatku merasa bahagia dalam rumah tangga ini. Apa yang harus aku lakukan?, di sisi lain batinku tersiksa. Ingin menyerah, tapi aku tidak ingin anak-anakku benar sama sepertiku. Karena egoisan orang tua, mereka Jadi tidak lagi mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya. Aku tidak ingin mereka sepertiku, anak keluarga broken home. Lalu, Haruskah aku tetap bertahan demi anak-anak?. Haruskah aku yang harus mengalah dalam segala hal?. Sebenarnya siapa yang salah dalam rumah tanggaku?. Apakah aku selalu siap bersedia melayani saat suami menginginkannya?. Tapi bagaimana dengan kemarahan suami saat aku meminta uang untuk memenuhi kebutuhan kami semua?. Apakah memang salahku yang tidak bekerja dan membantu keuangan keluarga?. Lirih Nina dalam diam.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...