
" Ayah mau kemana?" Tanya Ilmi yang melihat Gilang sudah pulang bekerja, padahal hari masih siang.
" Ayah mau memancing dengan teman ayah." Ucap Gilang yang langsung sibuk mencari alat pancing.
" Lo kok mancing, kan aku mau mengaji. Nanti siapa yang nganterin?" Tanya Ilmi dengan wajah sedih.
" Sekarang hari Minggu, ngaji nya masih libur. Besok baru masuk."
" Oh. Ya sudah ayah sana pergi mancing. Dapat ikan yang besar ya, kalau gak dapet ikan jangan pulang." Celoteh Ilmi.
" Iya."
Setelah mendapatkan alat pancing dan juga barang yang lain. Gilang segera kembali keluar. Nina hanya terdiam tidak menanggapi atau pembicara kepada Gilang karena saat itu nginap tengah menidurkan Akifa.
Hari mulai menjelang malam, Gilang pulang namun tidak membawa apapun.
" Lo Ayah kok enggak dapat ikan sih?" Tanya Ilmi saat mengetahui timba yang dibawa oleh Gilang tetap kosong.
" Iya, ikannya ayah kasih kepada Om Upin."
" Yah, kok dikasih sih aku kan juga mau."
" Ikannya kecil Ayah tidak dapat ikan yang besar jadi ayah berikan saja kepada teman ayah."
" Ya sudah."
__ADS_1
Nina yang saat itu sedang mencuci piring di belakang, hanya menoleh dan mendengarkan percakapan antara ayah dan anak. Entah Gilang benar-benar mancing ataupun tidak. Tapi setiap kali Gilang berpamitan memancing saat pulang dia tidak pernah membawa ikan.
Malam pun tiba, jika biasanya setelah makan malam Gilang akan beristirahat sebentar lalu kembali bekerja. Tapi ini sudah 3 hari setiap malam Gilang tidak kenal lagi berangkat bekerja. Nina juga malas bertanya alasan kenapa Gilang tidak bekerja. Walaupun sebenarnya Nina ingin tahu apa penyebab dari Gilang yang tidak bekerja saat malam hari.
" Kemana?" Tanya Mama Elsa saat Nina tengah menemani Akifa yang sedang memakan cemilan di teras kamar Nina.
" Didalam." Ucap Nina.
" Gak kerja?"
Nina menggeleng.
" Ya itu artinya stok uangnya banyak."
" Ck, kalau banyak uang, Aku tidak akan bingung untuk belanja." Lirih Nina karena takut Gilang mendengarnya.
" Hmm, kemarin sih aku tahu ada seseorang yang kesini menawari Gilang pekerjaan. Saat aku tanya kenapa pekerjaannya tidak diambil, Gilang mengatakan Jika pekerjaan itu berat dan memakan waktu yang lama."
" Lo kok begitu harusnya sih pekerjaan lama atau cepat atau diambil hitung-hitung buat tambahan uang beli beras kan?"
" Entahlah Aku tidak tahu lagi harus berkata apa."
Keesokan harinya, Nina memasak apa adanya menyesuaikan perbelanjaan dengan uang yang tersisa di dalam dompetnya. Nina sedikit sedih karena sabun dan juga kebutuhan akifa mulai habis. Tidak ada pilihan lain bagi Nina selain memakai uang yang dia kumpulkan untuk membayar biaya pendaftaran sekolah Ilmi yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Hmm, uangnya hanya tinggal 2 lembar berwarna biru. Jika aku ambil 1 maka tinggal satu lembar."
__ADS_1
Nina bingung harus bagaimana, Karena dia sudah berulang kali mengambil uang dari tabungan Ilmi.
" Ya sudahlah sementara aku pakai dulu, semoga saja sebelum pendaftaran aku bisa merasakan penghasilan dari aku menulis sehingga aku dapat membayar biaya pendaftaran sekolah Ilmi." Lirih Nina.
Nina lalu mengajak Akifa serta ilmu untuk berbelanja kebutuhan mereka di toko yang berada di seberang rumah kost.
Siang harinya, sekitar pukul 4 waktu Indonesia tengah. Gilang pulang dan terlihat terburu-buru mengambil sesuatu dan berkata kepada Nina yang baru saja bangun.
" Nanti Ilmi antarkan ngaji ya. Aku mau lomba burung dulu."
Nina hanya terdiam dan menatap kepergian Gilang yang sudah ditunggu temannya.
" Huft.."
Ingin sekali Nina berteriak dan memaki-maki Gilang. Dia punya uang jika untuk lomba burung tapi tidak ada uang jika Nina yang memintanya untuk berbelanja.
" Ya Tuhan, Aku sangat lelah. Bolehkah Aku menyerah sekarang, tapi aku tidak punya tempat bersandar jadi kemanakah aku harus pulang dan bersandar?. Disisi lain aku juga tidak ingin anak-anakku mengalami nasib seperti ku, perceraian orang tua sangatlah berdampak negatif bagi anak-anak. Aku tidak ingin anak-anakku mengalami nasib seperti ku yang kehilangan masa keemasan di masa kecil. Tapi aku juga tidak dapat terus bertahan dalam situasi ini. Aku harus bagaimana?"
Nina menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, tidak ada yang bisa Nina lakukan. Berbicara dengan Gilang juga tidak ada gunanya. Bicara dari hati ke hati ujung-ujungnya juga bertengkar. Langsung bertengkar juga akan semakin membuat Nina terluka. Tapi jika Gilang terus dibiarkan maka dia akan tetap seperti itu.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...