Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Semangat untuk diriku


__ADS_3

Nina sedang berdiri didepan cermin, memandangi wajahnya yang sudah terlihat tua. Padahal usianya baru memasuki 28 tahun. Tapi jika dibandingkan dengan mama Elsa yang sudah berusia 38 tahun Nina justru terlihat lebih tua.


Mata Nina berkaca-kaca menyadari bahwa dirinya kini tidak dapat untuk merawat wajahnya seperti dulu kala, sehingga wajah nya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.


" Bolehkah aku marah karena aku tidak dapat mempercantik diri ku sendiri. Jangankan untuk mempercantik diri untuk makan saja masih kurang-kurang. Apa aku yang kurang bersyukur atas pemberian dari suamiku apakah memang suamiku yang tidak mengerti tentang kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan seorang istri untuk dirinya sendiri."


Nina lalu memejamkan mata mengingat percakapannya dengan Gilang saat dia meminta sebuah gamis.


" Ya beli saja, bukankah aku selalu memberimu uang." Ucap Gilang saat Nina memberi tahu tentang keinginannya untuk membeli gamis di aplikasi berwarna orange.


" Iya, tapi kan saat kamu memberikan aku uang kamu tidak berkata apa-apa bukankah itu artinya orang itu untuk belanja membeli kebutuhan sehari-hari."


" Ya itu saja dibuat beli."


" Lalu jika kebutuhan habis uang apa yang akan dipakai?" Tanya Nina.

__ADS_1


" Ya makan baju gamis itu, sama halnya seperti saat kamu menginginkan sebuah lemari. Beli saja, namun saat beras dan lain-lainnya habis maka jangan meminta uang pada aku tapi mintalah pada lemari yang telah kamu beli. Atau kemarinya saja di masak biar bisa kenyang." Ucap Gilang.


" Ya aku udah tahu karena itu ketika kamu memberi uang aku masih bersyukur untuk membeli apa yang aku inginkan."


" Ya sudah? itu artinya kamu masih punya pikiran jika tidak menghabiskan soalnya aku berikan untuk membeli barang yang tidak perlu."


" Tapi aku juga butuh gamis karena banyak gamisku yang sudah jelek dan usang bahkan beberapa diantaranya sudah tidak layak pakai."


" Bisa enggak sih, sekali-kali kamu tidak meminta uang dari untuk membeli apa yang kamu inginkan."


" Ya kepada siapa gitu."


" Jangan aneh. Tidak mungkin kan aku meminta uang kepada tetangga sebelah."


" Kenapa tidak kau coba siapa tahu mereka akan memberinya. Atau punya alah inisiatif untuk menjual apa kek atau bekerja pekerjaan apa kek. Jadi kamu bisa membeli apapun tanpa meminta dari ku."

__ADS_1


Percaya atau tidak, aku rasa tidak ada wanita yang mau mendengar jawaban seperti itu. Bukannya menjawab dengan pertanyaan yang dapat menyenangkan hati Nina, Gilang justru menjawabnya seakan memberitahu kepada Nina untuk tidak meminta apapun darinya.


" Sabar ya Nina, tekuni dunia baru yang sedang kau jalani. Semangat untuk terus berkarya, jangan patah semangat walaupun bilang sendiri tidak mendukung untuk menulis Karena Dia mengira menulis hanyalah omong kosong dan tidak menghasilkan apapun. Kau harus bisa buktikan kepada bilang bahwa kau juga bisa menghasilkan uang dari menulis. Ya walaupun hasil nya tidak seberapa, tetapi bisa untuk membeli apa yang tidak bisa Gilang berikan kepada mu." Ucap Nina yang menyemangati dirinya sendiri.


Sedih memang saat mengetahui bahwa suami sendiri tidak pernah mendukung atau memberi semangat kepada diri. Tapi Nina harus tetap bersemangat untuk bisa menghasilkan uang dari menulis. Walaupun Nina sendiri tidak tahu kapan dia bisa merasakan penghasilan dari menulis.


Saat ini yang bisa anda lakukan hanyalah terus menulis dan berkarya.


" Jika rezekiku dari menulis maka aku akan mendapatkannya walaupun aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah terus bersemangat dan berkarya. Ya walaupun aku tahu karena aku tidak sebagus karya yang lain sehingga tidak ada pembaca yang mampir hehe.. Tapi aku yakin jika jalan menuju sukses itu tidaklah mudah. Jadi aku harus tetap bersemangat. Semangat untuk diriku sendiri." Ucap Nina sambil tersenyum.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2