
Tiga bulan kemudian...
" Yah.. apa sebaiknya kita pindah kos, disini sangat panas. kasihan ilmi."
" iya, pelan pelan kita cari kos baru, tapi harus sabar. Kau tau kan pekerjaanku sedang sepi. Untuk makan saja susah."
" Jual saja kalungku."
" Tapi nanti kau tidak punya perhiasan lagi."
" Ya kan dijual lalu beli dengan bobot di bawahnya."
" Hmm, baiklah."
Setelah galang mengantar nina menjual perhiasannya, mereka memutuskan untuk mampir ke rumah kos, kakak galang.
" Dari mana?" Ucap kakak ipar saat nina sampai di rumah kos nya.
" Dari beli keperluan ilmi."
Mereka pun berbincang bincang hingga...
" Nda katanya ada kos kosong, milik ibu kos ini juga, hanya di jalan xxx."
" Benarkah?"
" Iya, apa kau ingin melihatnya?"
" Ayo." Antusias nana.
" Sini, biarkan ilmi ada disini, selagi kamu pergi melihat kamar kos." Ucap kakak ipar.
Galang dan nina pun, langsung menuju alamat yang di berikan Pak wayan, kaki tangan, sekaligus orang kepercayaan ibu kos.
" Bagaimana, kau suka?" Tanya galang saat mereka sudah sampai di rumah kos.
" Bagus, luas. Tempat nya juga dingin"
" Jadi?, apa mau pindah kesini?" Tanya gilang.
" Tentu, nanti sore kita datang lagi untuk membersihkan nya."
Skip.
Hari ini adalah hari yang sibuk. Setelah mengemas barang² di tempat lama, dan menata nya di tempat yang baru, nina dan galang memutuskan untuk makan di luar, agar bisa cepat istirahat.
Tempat kos yang nyaman, dan tentu saja ada beberapa tetangga yang julid, dan suka berbuat onar.
Hingga tak terasa usia baby ilmi sudah berusia 13 bulan. Artinya sudah hampir 6 bulan mereka menempati rumah kos yang baru.
" Yah, beras nya habis, gas habis." Ucap nina.
" Terus apa lagi yang mau dijual?, Aku tidak mungkin berhutang lagi pada kakak ku, hutangku sudah 5 juta, hanya untuk biaya makan." Ketus galamg
" Ya sudah, kalung ini saja dijual. Untuk makan." Nina melepas satu satu nya perhiasan yang tersisa dan merelakan untuk dijual ke 2x nya.
" Ya sudah ayo, aku antarkan."
Setelah ke toko perhiasan, nina dan galang pergi ke salah satu supermarket, untuk membeli kebutuhan pokok.
" Aku akan pergi memancing." Ucap galang.
" kenapa kau selalu memancing."
" Tentu saja untuk menghilangkan jenuh." Ucap galang yang kemudian berlalu meninggalkan rumah.
" Kemana ayah ilmi?, memancing lagi." Ucap hepi, tetangga sebelah kamar nina.
" Iya, setiap hari selalu memancing." Ucap nina.
Hepi adalah tetangga sekaligus teman berbagi nina. Anak hepi yang juga seumuran dengan ilmi membuat ke dua nya menjadi dekat dengan cepat.
__ADS_1
" Apa tidak ada pekerjaan?" Tanya hepi
" Aku tidak tahu, yang aku tau dia selalu menolak pekerjaan dengan alasan ongkosnya murah lah, bos nya cerewet lah, yang ini lah, itu lah."
" Sabar.."
" Hmm, iya mbak."
Tak lama kemudian, eka, penghuni baru di rumah kos itu datang dan bergabung bersama nina dan hepi
" Hei, dimana ilmi dan akbar?" Ucap eka menanyakan anak nina dan hepi.
" Mereka sedang main di dalam." ucap hepi menunjuk kamarnya.
Mereka pun berbicara, saling bertukar cerita membahas pasangan masing, membicarakan pengalaman hidup masih masih.
...----------------...
......................
" Nda, ayo main ke tempat kakak ku." Ucap galang saat malam hari.
" Untuk apa?, kita baru dari sana 2 hari lalu."
" Tentu saja untuk menanyakan pekerjaan."
" Hmm baiklah."
Sepulang dari rumah kakak ipar, nina dan galang berhenti di sebuah kafe di seberang jalan, karena ada seseorang yang memanggil galang.
" Halo bos, apa kabar." Sapa galang.
" Hei galang. aku mencari kamu, ternyata kamu sudah pindah kos ya." Ucap laki laki itu.
" Iya, saya pindah di Jalan xxx"
" Oh ya deket dari sini."
" Ini, saya mau bikin cincin ini, bisa?" Menunjukan gambar pada galang.
" Maaf bos, kerjaan saya banyak."
" Ah, masak gak bisa di sempetin bikin itu." Pinta laki laki itu.
" Maaf bos, kalau kerjaan dari toko, saya gak berani nunda."
" Ya sudah kalau begitu."
" Oke oke. Saya permisi bos. Sekali lagi maaf." Ucap galang kemudian berlalu meninggalkan orang itu.
" kenapa tidak di ambil?" Tanya nina saat perjalanan pulang.
" Huh, bikinnya susah, ongkos nya murah. gak seimbang sama capeknya." Keluh galang.
" Tapi kan alhamdulilah ada pemasukan, daripada enggak."
" Sudah kamu diam saja. Kamu mana paham pekerjaanku, kamu paham nya cuma menghabiskan uangku."
Hening. Nina memilih diam daripada terus berdebat, akan membuatnya semakin terluka.
" Ini, uang untuk belanja." Galang memberikan tiga lembar uang merah kepada nina.
" Bolehkah aku membeli sprei?, kita hanya punya 2 sprei, yang satu warna nya juga sudah pudar.
" Terserah kau saja."
Setelah mendapat ijin menggunakan uang pemberian galang, nina mulai mencari sprei murah lewat aplikasi oren.
Hingga beberapa minggu kemudian...
" Yah pempes sama token listri nya habis, saat nya beli."
__ADS_1
" Ya sudah sana beli."
" Uangnya."
" Bukankah kau sudah ku beri uang, kenapa minta lagi." Ketus galang.
" Lo, kemaren kan buat beli sprei. Sisa nya untuk belanja"
" Huh, dasar. Mangkannya jangan boros. Kau selalu begitu. Baru punya uang sudah di belanjakan. Nih.. Di hemat, jangan di habiskan." Galang memberikan 2 lembar uang merah.
" Ini kirim kah kepada ibuku. Ilmi biar aku jaga, nomer rekening nya sudah aku kirim ke ponselmu." Ucap galang sambil memberikan beberapa lembar uang kepada nina.
Hiks hiks, nina menangis diperjalanan, galang bahkan dengan suka rela memberikan sejumlah uang kepada ibunya, namun sedikit ceramah bila memberi uang kepada nya. Nina ingat betul, bagaimana perubahan sikap galang, saaat ia mengirimkan uang kepada adiknya. Padahal itu adalah uang nina sendiri dari hasil menabung saat jualan online. Galang pikir nina memakai uang nya untuk di kirim kepada adik nya.
" Ini.." Nina memberikan struk bukti pengiriman kepada galang.
" Ya sudah aku mau pergi memancing."
Sepeninggalan galang..
Drtt drtt drttt...
" Halo bu?"
" Apa kamu sudah membeli kan ilmi sepeda?, aku kan sudah mengirim sejumlah uang." Ucap suara yang tak lain adalah ibu nina.
" Iya bu, nanti aku beli."
" Jangan lama lama, nanti keburu uangnya ke pakai untuk belanja."
" Iya bu, setelah ini aku cari sepeda." Ucap nina kemudian mematikan sambungan telpon.
...Flashback on...
" Halo cucu nenek apa kabar?" Ucap ibu melalui panggilan video.
" Baik baik saja. ohya hari ini usia ku tepat 1 tahun lo." Ucap nina dengan menirukan suara anak kecil.
" Jadi, mau minta kado apa?"
" Apa saja." Kalau boleh belikan sepeda, jadi bisa aku mengajaknya jalan jalan, tanpa harus ku gendong."
" Berapa harga sepeda?"
" Mungkin 500ribu."
" Doakan nenek banyak rejeki ya, nanti nenek kirim uang untuk beli sepeda."
" Amin, terima kasih nek."
...flashback off....
...
" Duh.. ilmi badannya panas sayang." Ucap nina saat menyentuh dahi ilmi.
" Yuk kita beli kompres demam, lalu kita beli sepeda"
Sambil mengendong ilmi, nina berjalan menuju toko sepeda yang berjarak kurang lebih 700 meter dari rumah kos nya.
...----------------...
...----------------...
Terima kasih sudah mau mampir...
...Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...