
Satu minggu kemudian...
" Spon nya udah tipis yaa, agak sakit kalau tidur."
" Ya mau gimana lagi, nama nya juga bekas. Kalau baru ya empuk." Kekeh nina.
" maaf ya aku belum bisa membelikanmu kasur."
" Tidak apa pelan-pelan saja."
Besok aku akan meminta antar Joko ke tukang service. Siapa tahu tv-nya masih Bisa diservis.
..
" Tv-nya sudah tidak lagi merah, tapi kecerahannya hanya sebatas ini. Kata kata tukang servisnya tabung tv-nya sudah kosong dan tidak dapat lagi diganti. Kalaupun diganti harganya mahal lebih baik membeli TV lagi."
" Ya sudah tidak apa-apa kalau punya rezeki kita bisa beli TV yang lebih baik." Ucap nina.
" Ya semoga saja."
Saat Nina sedang duduk di teras kamarnya..
" Ini lho punya siapa sih barangnya, jadi sarang tikus tau." Omel salah seorang tetangga nina yang bernama dwi .
" Gimana kalau dibersihkan saja ayo aku bantu." Tawar nina.
" Bener mau bantu?"
" Iya." Jawap nina.
" Ya udah ayo."
Nina kemudian membantu Dwi, membersihkan ruangan kosong yang ada di depan kamar Dwi.
" Ini kasus siapa sih sebenarnya?" Tanya Nina.
" Kasur milik suami."
" Tidak di pakai?"
" Tidak tahu orang nya"
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian suamiku datang, Lalu nina menanyakan apakah kasur ini masih dipakai atau tidak.
" tidak asuhnya tidak kepakai lagi pula aku sudah memiliki kasur yang lebih baik dan lebih bagus. Itu kan kasur spon."
" Aku pinjam ya boleh?" Tanya Nina.
" Pakai saja tidak apa-apa tapi aku cuci dulu karena itu sudah lama ada di sana."
Setelah mendapat izin dari pemiliknya, Nina menemui suaminya yang bekerja tidak jauh dari sana.
Nina meminta bantuan untuk mengangkat kasut itu agar nina bisa mencucinya.
Setelah ruang kosong depan kamar Dwi rapi dan bersih, Nina mulai mencuci kasur spon.
Sore harinya nina dibantu sang suami memasukkan kasur spon itu ke dalam kamar. dan meletakkannya di atas kasur spon miliknya.
" Nah kalau ini sih empuk." Ucap gilang, langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur.
" Ya sudah minggir dulu aku akan memasang sprei."
" Siapkan nasi untukku, aku akan makan setelah aku menyelesaikan pekerjaanku."
" Hmmmm."
" Ilmi dari mana?" Tanya Nina.
" Dari bermain, loh bunda beli kasur baru? iya?"
" Kasurnya mama ayu, bunda pinjam."
" Oh, ye ye ye.. punya kasur. Bunda besok beli kasus seperti yang ada di rumah nenek ya agar aku bisa loncat-loncat."
" Iya." Nina tersenyum ke arah ilmi.
Hari, minggu, bulan, berganti dengan cepat. Kebahagiaan yang di rasakan Nina sudah hilang entah sejak bulan keberapa.
Nina dan gilang sering cekcok soal uang.
" kamu ini gimana sih baru kemarin aku memberimu uang jangan boros-boros."
" Bukan aku yang boros memang semua kebutuhan itu sedang naik."
__ADS_1
" Ini ambil ini untuk belanja."
Gilang memberikan selembar uang kepada Nina.
" Ingat hemat jangan boros."
Nina ingin menangis menatapi selembar uang yang ada di tangannya, bagaimana dia bisa berhemat sedangkan segala kebutuhannya sedang naik. Beras dan beberapa kebutuhan dapur juga sudah habis.
Dan Hari ini usia ilmi tepat 4 tahun. Nina membelikan sebuah donat kecil dan lilin untuk ilmi.
" Selamat ulang tahun sayang.." Ucap nina membangunkan ilmi.
" Lo, ilmi mau kue yang besar, bukan yang kecil." Ucap ilmi sedih.
" Iya, nanti di belikan yang besar. Sekarang dulu dong lilinnya."
" Beneran??"
" Iya, ini kado nya."
Nina memberikan sebuah kantong kresek berwarna hitam kepada Ilmi, ilmi membuka nya. Sebuah dress abu abu yang pas di badan ilmi. Nina membelinya dari uang koin yang ia kumpulkan.
" Makasih bunda. Besok belikan ilmi kue yang besar ya seperti saat ulang tahun kakak Tina."
" Iya sayang."
" Mangkanya kalau tidak punya uang itu jangan so-soan bikin acara tiup lilin untuk anak." Ketus gilang.
Selama ini memang Gilang lah yang selalu menentang jika Nina membuatkan kue untuk Ilmi, di hari ulang tahunnya.
Padahal, Nina hanya ingin menyenangkan hati ilmi. Tiup lilin di setiap hari ulang tahunnya, hal yang tidak pernah Nina dapatkan sejak dulu.
Setelah meniup lilin ilmu kembali tidur. Nina menangis.
" Maafkan bunda ya sayang, bunda belum bisa memberikan kue untuk ilmi."
Nina menumpahkan rasa bersalahnya dengan menangis di dapur, sesekali dia menoleh kearah ilmi dan Gilang yang sedang tidur. Memastikan bahwa mereka tidak melihat nina yang tengah menangis.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...