Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Menyiapkan Mental


__ADS_3

Satu Minggu setelah Nina kembali ke Bali, Nina mengajak Gilang untuk melakukan USG.


Malam harinya, mereka berangkat ke tempat praktek dokter tempat dimana Nina melakukan USG setiap 2 bulan sekali.


" Bagaimana, jenis kelamin bayinya mau dikasih tahu atau tetap jadi rahasia saja." Ucap dokter Candra.


" Biarkan saja dok." Ucap Nina.


Saat itu Gilang tidak ikut masuk kedalam karena Gilang baru saja mendapat telepon dari sang kakak untuk menjemput keponakannya mengaji.


Setelah dokter menjelaskan tentang kondisi dari bayi Nina, dan setelah Nina mendapat jawaban dari semua pertanyaan nya. Nina keluar dari ruang USG dan menuju meja Admin untuk membayar biaya USG.


Nina keluar, dan mendapati Gilang baru saja tiba di sana.


" Sudah selesai?, Aku baru mau masuk." Ucap Gilang.


" Udah, cuma sebentar."


" Ya sudah ayo, katanya Ilmi mau naik odong-odong."


" Ya ayo." Ucap Ilmi.


Mereka pun langsung menuju ke pasar malam, yang dikenal dengan nama senggol.


Beberapa hari setelahnya Nina mulai membicarakan tentang membeli kasur dengan dipan kepada Gilang. Karena setelah melahirkan Nina pastilah butuh kasur yang lebih tinggi. Saat ini, Lina hanya memiliki dua buah kasur spon.


" Kau coba cari di marketplace ataupun grup, biasanya di sana banyak yang jual kasur dengan dipan. Dan pastikan kau memilih di sekitar area Gianyar agar kita tidak terlalu jauh untuk melihat apakah barangnya itu masih bagus atau tidak." Ucap Gilang.


" Baiklah, aku akan mulai mencari sekarang."


" Tapi, kalau aku masih belum punya uang bagaimana?, kamu tahu kan pekerjaanku tidak seramai dulu. Dan aku masih harus membayar hutang kepada kakakku. Kita bahkan tidak punya sepeserpun untuk tabungan melahirkan."


" Kita jual kalung pemberian Ibu saja, aku sudah meminta izin kepada beliau untuk menjualnya sebagai biaya persalinan. Dan akan menggantinya jika kita sudah mempunyai rejeki."


Cukup lama hilang terdiam sebelum akhirnya dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Nina.


Nina mulai sibuk berselancar di aplikasi biru, untuk mencari kasur dan dipan yang dijual dengan harga murah.


" Hmm, bagus sih tapi mahal sekali harganya."Gumam Nina.


Lalu pencarian Nina terhenti Karena kini sudah waktunya Nina mengantar Ilmi untuk mengaji.


Malam harinya, Gilang mengajak Ilmi untuk ke taman kota.


" Sudah dapat belum kasurnya?" Tanya Gilang di tengah perjalanan mereka menuju taman kota.


" Ya belum, yang harga di atas 800 sih banyak, tapi aku cari kalau bisa ya dibawah 800."


" Ya mana ada, di mana-mana kasur ya harganya segitu apalagi ini dengan dipan pastilah harganya mahal."


" Ya, karena itu mencarinya pelan-pelan saja. Siapa tahu rezeki si jabang bayi jadi kita menemukan kasur dipan dengan harga murah."


" Disini lo banyak pilihan kasur tinggal pilih saja." Ucap Gilang sambil menunjuk ke arah toko yang menjual berbagai macam jenis kasur.


" Ya kalau beli di situ ya harus punya uang tebal." Lirih Nina. Gilang hanya terkekeh.


" Banyak yang bilang kalau anak ini perempuan." Ucap Gilang sambil mengelus perut Nina.


" Kalau perempuan lagi bagaimana?"


" Ya tidak apa apa, aku akan tetap menerima nya."

__ADS_1


Nina tersenyum, walaupun sebenarnya dia tahu bahwa Gilang dari awal pernikahan sudah menginginkan bayi laki-laki. Tapi sepertinya Tuhan lebih mempercayakan bayi perempuan kepada kami. Dan Nina juga merasa bahwa bayi kedua mereka juga perempuan.


...****************...


" Yah ini ada kasur dipan harga 600 ribu bisa nego. Lokasi Denpasar." Ucap Nina, saat Gilang pulang untuk makan siang.


" Coba tawar 500, boleh gak?"


" Aku coba."


Lama Nina menunggu balasan, namun si penjual kasur dipan itu belum juga membalas pesan dari Nina.


" Kalau boleh kabari aku selalu kita akan melihat kasusnya seperti." Ucap Gilang sesaat setelah dia selesai makan dan hendak kembali bekerja.


" Baiklah."


Namun hingga sore hari Nina masih belum juga mendapat balasan dari si penjual, Nina akhirnya mencoba mencari kasur dipan murah lainnya. Nina menemukan kasur dipan tapi dengan harga 700.000 nett.


Keesokan paginya, Nina mendapatkan pesan dari si penjual bahwa penjual menerima tawaran harga dari Nina.


Nina langsung menghampiri Gilang ke tempat kerjanya yang berada tidak jauh dari kamar kos.


" Yah, kasur yang semalam aku kasih tahu, penjualnya mau dengan harga 500." Ucap Gilang.


" Mau dibeli?" Tanya Nina


" Iya lah, kapan lagi kita dapat harga murah." Ucap Nina


" Uangnya ada?" Tanya Gilang.


" Sudah aku bilang kan pakai kalung Ilmi dulu."


Nina mendekati Gilang, kemudian mengelus lembut bahunya.


" Tidak apa-apa. Mungkin sekarang kita sedang diuji soal ekonomi oleh Tuhan. Karena di saat awal kita menikah bukankah kau sangat mudah mendapatkan uang."


" Hmm, sepertinya begitu."


" Ya sudah Ayo kita lihat kasurnya seperti apa, karena kata si penjual yang berminat pada kasur itu banyak"


" Ya sudah sini, kita jual kepada kakakku saja. Jadi kita hanya akan mengambil uangnya untuk beli kasur saja."


" Baiklah."


Nina kemudian melepas kalung ilmu yang selama ini dipakai olehnya.


" Kalungnya aku titipkan kepada kakakku saja, aku akan meminta satu juta untuk membeli kasur apakah cukup?"


" Cukup." Ucap Nina.


Tak beberapa lama kemudian Gilang kembali dan memberikan sejumlah uang kepada Nina.


" Katakan kepada si penjual untuk menunggu, karena aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit ini."


" Baiklah."


Dua jam kemudian, Gilang yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung mengajak Nina ke Denpasar untuk memantau kondisi dari kasur yang akan dibeli mereka. Berbekal Google map, akhirnya mereka sampai di kediaman penjual kasur.


" Kasur nya sudah tidak empuk lagi, pir nya sudah terasa." Lirih Gilang.


" Iya, lumayan empuk lah daripada kita tidur di kasur spon. Di mana lagi kita bisa membeli kasur dengan harga murah." Ucap Nina.

__ADS_1


" Apa kita beli baru saja?, mumpung kita ada di Denpasar. Aku pernah melihat postingan kasur dengan harga satu juta 400. Dan tokonya juga tidak jauh dari sini."


" Tapi kan kita hanya punya uang satu juta."


" Uang belanja sudah habis?" Tanya Gilang.


" Ya sekalipun ditambah dengan uang belanja jumlahnya juga tetap kurang." Ucap Nina.


Setelah pertimbangan yang cukup panjang, Nina akhirnya membeli kasur itu. Dan Ilmi tentu saja sangat senang karena dia memiliki kasur baru.


Nina sekarang bisa bernafas lega, pakaian bayi ada, kasur tinggi juga sudah ada, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan. Nina sekarang hanya tinggal menyiapkan mental untuk persalinannya.


HPL menunjukkan angka 21-12-2020.


Itu artinya masih kurang satu bulan lagi, sebelum akhirnya Nina bisa bertemu dengan bayi kecil nya.


Setiap pagi Nina rajin jalan pagi, mengepel sambil berjongkok. Walau dokter pernah mengatakan jika bayi Nina dalam keadaan sungsang. Tapi Nina tetap optimis. Dia melakukan serangkaian senam atau tindakan yang biasa dilakukan jika bayi dalam keadaan sungsang. Tak lupa Nina juga sering berbicara dengan bayi agar tidak membuat nya sampai melahirkan secara caesar.


Drrrttt drrrttt drrrttt


" Halo ma." Ucap Nina


" Gimana, mama jadi tanggal berapa ke sana?" Tanya ibu Nina.


" Tanggal 15 bulan depan saja. Karena kata dokter persalinan bisa maju satu Minggu atau mundur satu Minggu."


" Ya sudah, ingat kamu saja yang pesan travel nya. Biar nanti langsung menuju ke rumah mu."


" Iya santai. Lagipula masih satu bulan lagi kan?"


" Mama hanya mengingatkan."


" Iya. Ya sudah, aku sedang memandikan Ilmi."


" Baiklah."


Panggil berakhir. Nina meletakkan ponselnya dan mulai berpikir dari mana dia akan mendapatkan uang untuk biaya travel sang Ibu.


Ya Tuhan, kenapa hidup ini sangat rumit. Dari mana aku akan mendapatkan uang untuk biaya travel Ibu? Gilang pasti masih belum punya uang. Batin Nina.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...Kalau suka...


...hadiah...


...dan...


...vote...

__ADS_1


__ADS_2