
Part ini hanya berisi cerita. Tidak ada percakapan. Karena terlalu berat untuk di ingat kembali.
...****************...
Ayah galang, menderita kanker darah. Atau yang biasa di sebut leukimia. Penyakit yang di derita beliau, terbilang sudah cukup parah. Dimana setiap diambil sampel darah, untuk mengetahui golongan darah. Hasilnya selalu berubah², Sehingga, menyulitkan paramedis ketika akan melakukan transfusi darah. Hal itu dikarenakan sudah terlalu banyak darah putih dari pada darah merah didalam tubuh beliau. Hingga, tak heran. Jika tangan dan kaki beliau cenderung bengkak namun lembek bila di tekan.
Karena tidak ingin mengambil resiko yang besar, dokter menyarankan agar ayah depit diberi darah murni yang hanya ada di PMI Pusat, yang ada di kota surabaya. Karena ayah galang pernah mengalami kejang, saat paramedis mencoba memasukan darah B pada tubuh beliau.
Setelah dokter membuatkan surat pengantar, agar galang bisa membeli darah murni dari PMI pusat. Mereka membutuhkan sedikitnya 8 kantong darah murni. Galang mulai menghubungi semua rekan² nya, berharap salah satu dari mereka dapat membantu nya mencarikan kendaraan untuk PP dari malang-surabaya.
Malam hari setelah diskusi panjang dengan dokter, dan usaha galang membuahkan hasil, salah satu teman sekolahnya dulu, bersedia membantu mengantarnya ke surabaya dengan biaya sewa semampunya. Teman galang pun sempat berkunjung dan menjenguk ayah galang.
__ADS_1
Tiga hari sebelumnya, ayah galang selalu mengigau memanggil nama anak² nya yg lain, sesekali dia mengigau tentang beratnya meninggalkan putra mereka yang bungsu. Setelah bujuk rayu galang dan ibu nya, agar tidak perlu mengkhawatirkan adik bungsunya. Beliau kembali tenang. Galang juga berusaha membujuk kakak laki² nya, agar mau pulang dan datang menjenguk ayahnya yang bisa dibilang sudah kritis, namun tidak mendapat respon yang baik.
Hingga malam itu, dimulai pukul 21:00. Setelah memastikan ibu sudah tidur, nina kembali ke ruangan dimana ayah galang dirawat. Malam itu menjadi saksi bagi mereka berdua, Ayah galang terus mengalami kejang dan sesak nafas.
Berkali kali nina berlarian, memanggil petugas jaga, petugas penyuntikan sesuatu ke dalam infus ayah galang, seketika beliau mulai tenang. hingga puncaknya menjelang subuh, ayah galang terus merasa sesak nafas hebat. Nina kembali berlari memanggil dokter jaga, dan dokter itu mengatakan bahwa dokter spesialis jantung akan segera datang. Galang berkali² membacakan sholawat di telinga sang ayah.
Hingga sesuatu yang tidak di inginkan pun terjadi, sesak nafas yang dialami ayah galang, sedikit demi sedikit mereda dan beliau mulai menutup mata, dokter jaga yang memeriksanya mencoba memacu jantung beliau dengan tangan, berkali² berusaha, namun takdir berkata lain. Hingga dokter spesialis jantung datang, dan menyatakan beliau sudah meninggal dunia.
Runtuh sudah air mata galang dan ibunya, beliau terlihat sangat terkejut.
Dua jam perjalanan, nina berusaha menenangkan ibu galang yang hanya terdiam. Sesampai nya di rumah duka, terlihat sudah ramai orang yang bersiap menyambut kepulangan jenazah.
__ADS_1
Ibu galang mengajak nina untuk masuk lewat pintu belakang. Setelah nina meletakan barang bawaan mereka di salah satu kamar, nina memilih berbaur dengan orang² yang datang mengucapkan bela sungkawa.
Sampai sini dulu ya, author sungguh nyesek mengingat momen ini.
Terima kasih yang sudah berkenan mampir di novel recehan author.
......................
......................
... Jangan lupa like...
__ADS_1
...komen vote...
...hadiah...