Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Ingin juga


__ADS_3

" Hai bun.." Sapa Mama Melo, saat Nina tengah duduk bersantai di tempat duduk yang biasa Nina gunakan untuk menghabiskan waktu sendiri.


" Lo, mau kemana kok rapi."


" Mau mudik."


" Lo, yang benar?"


" Iya benar. Sebenarnya mau mudik pertengahan puasa. Tapi karena ada hal jadi ya mudik sekarang."


" Wih, ya bakal lama dijawa ya?"


" Iya, satu bulan lebih."


Setelah akhirnya Mama melo berpamitan kepada Nina.


" Hati hati.."


" Iya.."


Nina memandang kepergian Mama melo dengan perasaan sedih. Bagaimana pun juga Rina juga ingin pulang uang dan melewati momen Ramadhan ini bersama dengan keluarganya. Keluarga nya sendiri, bukan keluarga dari Gilang. Nina sungguh sangat berharap dirinya dapat kembali menikmati waktu puasa dan juga lebaran bersama dengan keluarganya. Nina tidak pernah merasakan berbuka puasa bersama dengan peralatannya seperti yang dia lakukan tahun lalu. Nina ingatkah dulu dirinya dan bilang tinggal dirumah mertua. Saat berbuka puasa tidaklah sama seperti Saina berada di keluarganya sendiri. Jika biasanya Nina dan keluarganya akan makan bersama-sama, namun saat Nina kumpul dengan ibu mertuanya justru saat berbuka seluruh penghuni rumah akan makan sendiri-sendiri.


" Seandainya saja, aku kenal aplikasi ini sejak lama mungkin aku sudah punya tabungan untuk aku pulang dan berkumpul bersama keluargaku." Lirih Nina sambil memandangi aplikasi yang baru saja dia tekuni selama beberapa bulan terakhir.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Nina berdering, pesan dari teman teman sekolah Nina.


(Nina, mudik gak?)


(Seperti nya tidak. Kamu mudik?)


(kenapa?, aku sih mudik kalau ada uang 😂)

__ADS_1


(Ya,. mau bagaimana lagi aku mungkin tidak akan pulang karena suami sendiri sudah mengatakan jika aku Jangan berharap banyak untuk bisa pulang)


(Kok gitu?)


(suamiku sudah tidak kerja ikut dengan kakaknya, dia kerja bersama temannya dan juga penghasilannya tidak sebanyak saat bekerja bersama sang kakak. Jangan kan untuk uang saku mudik untuk makan saya masih kurang-kurang)


(Sabar, siapa tahu nanti ada rezekinya)


(Ya semoga saja, tapi entahlah terkadang aku juga tidak yakin)


( Tenang, seandainya lebaran tidak bisa pulang masih ada setelah lebaran)


(Iya, cuma habis lebaran itu waktu untuk Ilmi pendaftaran sekolah)


(Loh, bukannya pendaftaran sekolah itu bulan juni-juli ya?)


( Di TK tempat di mana aku akan menyekolahkan Ilmi pendaftarannya buka bulan 5)


( Farel juga sekolah tahun ini, umurnya sama dengan Ilmi kan?)


Setelah itu, karena Akifa sudah mengantuk, Nina jadi mengakhiri sesi percakapannya dengan temannya. Dan mulai menidurkan Akifa sambil berkhayal bahwa dirinya akan punya rezeki agar bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya.


Sore harinya,


" Mau kemana?" Tanya Nina saat melihat bilang yang pulang lalu ndak berangkat lagi setelah dia menerima telepon dari temannya.


" Mau mancing."


" Pulangnya beli es untuk berbuka puasa ya."


" Aku pulangnya malam, karena aku akan memancing di tempat yang jauh." Ucap Gilang sambil mulai menyalakan motornya dan meninggalkan halaman rumah kost.


Nina kembali masuk untuk menyapu rumah.

__ADS_1


" Baru juga puasa pertama aku sudah akan berbuka sendirian." Lirih Nina.


Nina lalu membuka pintu kulkas dan berharap seandainya saja kulkasnya tidak error mungkin Nina sudah membuat es batu agar bisa membuat takjil sendiri.


" Kulkas, kenapa kau harus error di saat seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menyimpan ikan di dalam sini." Lirih Nina.


" Tuhan, Kenapa hidupku begitu serba kekurangan. Apakah aku yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah kau berikan. Dan Kenapa juga aku mendapatkan suami yang tidak pernah bisa mengerti tentang kebutuhan rumah tangga. Apakah memang diriku yang banyak dosa sehingga aku mendapatkan suami seperti ini."


Jam menunjukkan pukul Lima. Nina setelah selesai masak menyapu rumah dan juga memandikan kedua putrinya. Lalu dia mendengar suara deru motor dari Gilang.


" Loh, kok pulang?"


" Iya, tidak menemukan umpan ikan yang aku cari jadi tidak jadi mancing di tempatnya menjauh aku hanya mancing di dekat-dekat sini saja."


" Oh.."


Nina sibuk menyuapi Akifa, sedangkan bilang terlihat sibuk mengurus burung peliharaannya. Lalu setelah Nina selesai menyuapi akifah Nina melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam lebih 15 menit.


" Jalan jalan sore yuk, sambil cari es untuk berbuka puasa."


" Buka puasanya itu jam setengah tujuh, dan sekarang jam enam saja belum Kenapa kamu sudah ribut mencari Es.?"


" Ya, kalau cari sekarang kan tidak akan seramai saat kita datang dan membeli es pukul enam." Ucap Nina.


" Sama saja, kamu pergi lah sekarang dan kamu lihat pasti sekarang juga sudah antri."


Nina kemudian mulai mengambil sepatu dan kerudung lalu memakaikannya kepada Akifa. Nina memutuskan untuk membeli es sendiri tanpa menunggu Gilang.


Dalam perjalanan pulang Nina melihat beberapa tetangganya dan temannya sedang jalan-jalan bersama dengan keluarga nya. Nina merasa sedih karena dia hanya bisa pergi bersama kedua buah hatinya. Itupun hanya membeli takjil dan juga membeli beberapa kebutuhan di sebuah minimarket.


" Kenapa Aku mempunyai suami yang hanya mencari kesenangannya sendiri. Kenapa dia tidak bisa mengerti bahwa membahagiakan keluarga juga sebuah kebaikan. Sepertinya aku memang harus terbiasa dengan hal ini. Lagipula selama ini jika aku ingin ke mana-mana aku selalu pergi sendiri dan tidak menunggu Gilang. Karena aku tahu Gilang tidak akan mau jika aku ajak berkeliling jika bukan karena kemauannya sendiri." Lirih Nina dalam perjalanan pulang ke rumah kost.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2